Pemotretan Katalog Ukhti & Munira

Seperti apa sih kegiatan pemotretan model sebuah produk?

Penasaran ya, karena hasil yang kita lihat di katalog-katalog bagus banget. Sementara pas kita coba-coba bikin foto produk hasilnya kok biasa-biasa aja. Nah, alhamdulillah kemaren saya diundang oleh pemilik brand Ukhti & Munira untuk menyaksikan langsung pemotretan model-model produknya. Bu Erita Zurahmi sebagai pemilik brand ingin menunjukkan bagaimana prosesnya dari A sampai Z. Yuk, simak bagaimana proses pemotretan katalog Ukhti & Munira!

Senang dong, bisa memenuhi undangan spesial ini, karena dari ratusan peminat hanya dua orang yang diberi kesempatan, salah satunya saya. Meski lumayan keder karena lokasi kantornya cukup asing bagi saya, alhamdulillah jam 10 kurang saya sudah sampai di showroom Ukhti & Munira yang berlokasi di daerah Cimanggis Depok. Disambut hangat oleh Bu Erita, saya pun mulai mengikuti tahap demi tahap pemotretan produk tersebut.

Oya, untuk profil Bu Erita kamu bisa baca di sini: Ukhti, Munita dan Erita Zurahmi

Hari itu ada dua orang model yang akan menjalani pemotretan, salah satunya model yang sudah sangat melekat dengan produk Ukhti & Munira. Tim yang bekerja sudah siap di ruangan studio dengan perlengkapan masing-masing. Ada fotografer dengan kameranya yang tentu canggih, lengkap dengan lighting dan printilan-printilannya. Ada Pak Safri Helmi (suami Bu Erita) yang duduk menghadapi layar komputer untuk melihat langsung hasil jepretan fotografer. Jadi setiap bidikan akan terekam langsung di layar komputer tersebut.

Ada juga beberapa asisten yang membantu kegiatan tersebut, mulai dari menyiapkan kostum, make up, sampai menyiapkan minuman dan camilan. Seru, itu kesan pertama saya.

“Wah, ini warna galau banget nih,” begitu kata fotografernya ketika model memakai kostum berwarna hijau toska. Saya yang belum begitu paham maksudnya terus menyimak dengan sersan (serius tapi santai). Setelah berkali-kali komentar yang sama saya dengar, akhirnya saya paham apa yang dimaksud dengan ‘warna galau’ tersebut. Jadi ada warna-warna tertentu yang cukup sulit ditangkap kamera secara persis. Selalu ada selisih warna dari warna aslinya.

Saya sempat berdiri di belakang Pak Safri Helmi untuk melihatnya. Oh, benar. Warnanya tidak sama. Setelah dilakukan take berulang kali masih saja tidak sama. Penambahan dan pengurangan warna tertentu pun dilakukan agar sama hasilnya. Pengaturan saturasi atau tingkat kecerahan pun berulang kali dilakukan demi mendapatkan hasil yang memuaskan. Karena pemilik brand tentu ingin warna yang kita lihat di katalog sama persis dengan warna asli yang dibeli customer. Jangan sampai customer kecewa karena warna produknya ternyata berbeda dengan yang di katalog.

Ternyata ribet juga ya pemotretan katalog Ukhti & Munira. Tapi tidak hanya itu lho. Bu Erita sebagai pengatur gaya dan busana juga berperan aktif membuat penampilan modelnya terlihat sempurna. Mulai dari jilbab yang agak miring, lipatannya yang kurang pas, padu padan warna jilbab dan baju yang dikenakan model, sampai gerakan yang harus dilakukan oleh model agar pakaian yang dipakai terlihat detail dan keluar pesonanya. Sebagai orang yang telah bertahun-tahun melakukan itu, tentu Bu Erita sudah sangat paham bagaimana menampilkan produknya secara maksimal di depan kamera. Beliau tak hanya mengatur, tapi turun tangan langsung membetulkan setiap kejanggalan, memasang peniti, jarum pentul atau bros sesuai kebutuhan. Bahkan kadang Pak Safri Helmi sendiri ikut mengarahkan bagaimana sebaiknya posisi jilbab dan pose modelnya.

Hari itu produk yang dipotret sekitar 10 stel pakaian. Setiap stel membutuhkan puluhan kali take kamera. Melelahkan? Pasti. Tak hanya crew, para model pun pasti capek. Tapi semua orang bekerja secara maksimal dan berusaha membuang rasa lelahnya jauh-jauh karena mereka sadar ini adalah pekerjaan yang harus dilakukan secara profesional. Saya lihat bagaimana usaha crew agar sang model tersenyum senatural mungkin, tak hanya bibirnya yang tersenyum namun juga matanya. Senyum yang perfect!

Ini jelas tidak mudah. Mengontrol emosi dan mood sangat penting dalam sebuah tim. Dan itu semua ada biayanya. Mulai dari model yang dibayar perjam (ada juga yang perkostum), fotografer dengan segala perlangkapannya, waktu yang tak sebentar, tenaga yang tak sedikit sampai asisten yang membantu kelancaran pemotretan Ukhti & Munira.

Duplikasi dan Pemalsuan

Nah, dengan kerja keras dan biaya yang tak sedikit itulah kita bisa menikmati hasil foto katalog produk yang cantik. Bu Erita sempat bercerita bahwa beliau ikut menyeleksi ribuan foto hasil pemotretan dan hasilnya hanya beberapa foto saja yang terpakai. Terbayang ya pusingnya memelototin begitu banyak foto untuk mencari yang terbaik. Kata Bu Erita bisa bikin laper saking capeknya hehe… Nah, setelah dipilih, foto-foto itu akan masuk tahap editing agar terlihat semakin manis di katalog dan sesuai ciri khas Ukhti & Munira. Semua rangkaian proses ini bisa menghabiskan waktu selama 5-10 hari lho.

Yang memprihatinkan, foto-foto katalog Ukhti & Munira banyak dipakai tanpa izin oleh berbagai online shop. Mereka menyomot begitu saja, menduplikasi dan memalsukannya. Bentuknya macam-macam. Ada yang menggunakan dengan menghapus merek Ukhti atau Munira dari foto tersebut. Ada yang tetap membiarkan logo dan merek. Lalu mereka menjual produk yang mereka buat sendiri dengan kualitas yang jauh lebih buruk. Jadi produk yang mereka jual bukan real pict. Foto itu hanya dijadikan contoh. Ini yang banyak mengecewakan customer. Mereka pikir itu produk asli Ukhti & Munira, tapi begitu diterima ternyata bukan. Hanya mirip. Terkait kekecewaan terhadap produk online shop yang bukan real pict ini saya juga pernah mengalaminya. Memang sangat mengecewakan. Silakan baca di  artikel Membeli Barang Yang Bukan Real Pict.

Nah, terkait kasus ini Bu Erita selaku pemilik hak cipta dan hak kekayaan intelektual terhadap foto-foto Ukhti & Munira sempat bercerita di sela-sela pemotretan kemaren itu.

“Pemotretan itu banyak pilihan caranya, dan kami sudah pernah melakukan beberapa cara. Ada yang cuma dikirim baju ke perusahaan jasa pemotretan dan mereka yang membuat fotonya, kita tau beres. Ini murah dan gak pake capek. Tapi akhirnya foto-foto itu tak terpakai karena gak sesuai dengan ekspektasi kami. Kami juga pernah mengirim produk ke Thamrin City, di sana banyak studio-studio kecil yang menyediakan model dan ada pilihannya mau pake model asli atau model yang tanpa kepala, hahaha.”

Model tanpa kepala ini maksudnya hanya badannya yang diambil, nanti kepalanya diganti dengan kepala model yang profesional. Nah model tanpa kepala ini bayarannya lebih murah lagi.

“Kami juga pernah pakai studio profesional dengan fotografer khusus fashion langganannya artis dan majalah muslimah yang tarifnya mahal pake banget. Ada yang pake fotografer biasa, maksudnya spesialisasinya bukan fashion, lebih murah tapi hasil tetap tidak memuaskan. Ya, kami sudah mencoba banyak cara selama hampir sembilan tahun ini. Dan pengalaman itu jelas sangat mengasah taste kami tentang hasil pemotretan ini, bahwa dua minggu sebelum pemotretan kami sudah harus tek-tok-an waktu sama semua crew dan memastikan tanggal yang semuanya bisa hadir. Menyiapkan moodboard dan sample, bahkan ini bisa satu bulan sebelumnya. Lalu saat pemotretan yang sangat melelahkan dan melibatkan semua orang di foto ini, ada yang khusus bagian nyetrika, ada yang koordinator mengatur baju mana yang duluan, ada make up artisnya, ada model, fotografer dan asistennya.”

Nah, panjang sekali ya proses persiapan sebuah pemotretan ini. Proses pemotretan sendiri sudah dijelaskan tadi di atas. Jadi bisa dibayangkan bagaimana melahirkan sebuah katalog produk Ukhti & Munira.

“Wajar banget kan kalau saya marah dengan adanya penggunaan foto-foto kami secara sembarangan oleh pihak-pihak tertentu,” pungkas Bu Erita.

Ya, ini sangat bisa dimengerti. Saya sempat membaca di beberapa sosial media, keluhan agen-agen resmi Ukhti & Munira akibat pemalsuan ini. Secara tidak langsung Ukhti & Munira jelas dirugikan. Pertama, kekayaan intelektual mereka dibajak secara semena-mena oleh orang yang tak bertanggung jawab. Kedua, materi, waktu dan tenaga yang mereka keluarkan untuk membuat sebuah foto produk tidaklah sedikit, lalu orang lain dengan tanpa izin memakai untuk mencari keuntungan pribadi. Ini tentu menyakitkan bagi pemilik foto. Bisakah pemakai ilegal ini dituntut secara pidana? Tentu saja. Negara kita memilki undang-undang yang melindungi hak kekayaan intelektual, juga memiliki undang-undang IT bagi pengguna online.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Namun tentu kita berharap tak perlu sejauh itu. Kita berharap para pemakai foto ilegal ini menyadari bahwa dalam bisnis mereka perlu menjaga etika. Etika terhadap customer mereka sendiri yang tentu merasa tertipu, juga etika terhadap pemilik foto asli. Setiap orang tentu berharap keberkahan dari usahanya, dan keberkahan tentu harus meliputi segala unsur yang mendukungnya. Saya pribadi berharap dengan membaca artikel ini, setiap orang semakin berhati-hati dalam menggunakan foto atau gambar di dunia maya karena bisa jadi foto itu ada hak ciptanya yang tak boleh kita langgar begitu saja. (NSR)

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


6 thoughts on “Pemotretan Katalog Ukhti & Munira

  1. Amy Zet

    Ih tega bangeet yaa yang niru2 itu. Tapi emang banyak sih, kadang klo ditanya itu asli apa palsu? Ini real pic, tapi kita bikin dg bahan berbeda biar mudah… Atulah namanya bukan real pic ai gitu mah *malah curhat*.

    Semoga banyak yg makin sadar bahwa ngebangun brand nggak gampang, dan kerja keras orang lain nggak bisa disepelekan dengan meniru apalagi diaku-aku. Aamiinnn

    Reply
  2. Sinta

    Makin kebayang deh ribetnya bikin foto syantik itu, Uni. Makanya dari dulu saya selalu usahakan pakai foto sendiri pas jualan online biarpun hasilnya ngenes, hehe… Tapi lebih puas yaa karena meminimalisir komplain antara ekspektasi dan kenyataan… 😉

    Reply
  3. Nabila

    Saat ini saya lagi ijo matanya liat foto-foto produk busana Muslim. Emang sih saya lebih tertarik yang foto modelnya kece, tapi setelah baca ini.. saya jadi paham proses pemotretan katalog atau foto busana Muslim. Kapan-kapan ajak ya un.. hihihi…

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *