Putri Kejawen (#3)

20Aku memperhatikan Bapak yang mulai sibuk. Ini malam Jum’at kliwon. Malam keramat yang selalu ditunggu-tunggu Bapak untuk pengisian ilmunya. Semua sesajen yang telah disiapkan Ibu sejak siang tadi kini telah rapi di atas meja. Sebentar lagi, Bapak akan masuk ke kamar semedinya yang penuh dengan benda-benda klenik itu. Pakaiannya juga sudah rapi. Penadon ireng, lengkap dengan udeng berwarna merah yang mengikat kepalanya.

Kulihat Bapak dengan penuh telaten mengusap-usap keris tayuhan yang selalu dibawanya bersemedi. Yaitu keris yang sangat tinggi tuah dan kesaktiannya. Bentuknya lurus dan sederhana, tapi katanya menyimpan kekuatan yang luar biasa. Dan keris ini selalu dirawat dan disimpan Bapak dengan hati-hati. Berbeda dengan keris ageman, Bapak tidak terlalu mengkeramatkannya. Mungkin karena keris tersebut lebih menonjolkan keindahan bentuk, bukan kesaktiannya. Biasanya dibawa Bapak untuk acara-acara semacam tayuban, gamelanan atau pertunjukan wayang. Jadi hanya sebagai pelengkap penampilannya saja.

Aku pernah meminjam keris ageman tersebut untuk sebuah acara pementasan seni tradisional waktu kelas satu SMU dulu. Teman-temanku sampai berdecak kagum melihat keris dengan kinatah yang dilapisi emas itu.

“Kinatah yang menutupi sampai dua pertiga keris seperti ini, biasanya disebut Kinatah Kamarugan. Konon keris ini dibuat oleh Empu Krisayana dari desa Ngetos, di kaki gunung Wilis. Daerah yang tersohor semenjak perang Diponegoro. Makanya bapakku sangat membanggakannya,” jelasku pada teman-teman sekelas. Mereka berdecak kagum.

“Keris ini memiliki ratusan lapis pamor. Maksudnya, keris ini telah mengalami ratusan kali penempaan, pelipatan dan pembakaran, hingga menjadi kuat dan tidak mudah patah!” imbuhku lagi. Mereka nampak kian kagum mendengar penjelasanku. Bergantian mereka memegang keris dengan lima luk itu.

“Sesajennya tidak ada yang kurang tho, Jeng?” tanya Bapak membuyarkan lamunanku. Ia berjalan mendekati meja, tempat diletakkannya semua sesajen.

“Tidak,” jawab Ibu singkat.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, berarti upacara mistik Bapak sudah akan dimulai. Sedangkan Ibu masih asyik meraut liningan pring bakal tampah. Aku duduk di belakangnya, memainkan sebuah liningan pring di tanganku. Tapi mataku malah asyik memperhatikan gerak-gerik Bapak sejak tadi.

Kulihat Bapak mulai melangkah menuju kamar belakang yang agak terpisah dari kamar-kamar yang lain. Kamar dengan ukuran kecil yang selalu dikuncinya jika sudah berada di dalam. Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Bapak di dalam kamar remang-remang tersebut. Sebab dulu aku sering mengintipnya lewat celah dinding. Memang untuk upacara di kamar yang satu ini, Bapak tidak pernah mengijinkan aku masuk. Disamping agak gelap, kamar itu juga akan dipenuhi oleh asap menyan. Aku pun tidak betah lama-lama di sana.

Bapak juga perlu konsentrasi tinggi untuk berdialog dengan ‘guru’ nya yang biasa ia panggil ‘Kanjeng Guru’ itu. Entah seperti apa wujudnya si Kanjeng Guru tersebut, hingga Bapak sangat menghormatinya. Berbagai jampi yang dibacanya bisa menghabiskan waktu berjam-jam, belum lagi semedi yang biasanya selesai lewat jam satu dini hari.
Setelah itu, barulah ia akan keluar dengan raut muka memerah dan tubuh penuh keringat. Lalu malam itu juga ketiga jenis sesajen tadi harus diantarkan ke tempatnya masing-masing. Khusus untuk sesaji pendheman, tempatnya harus sesuai dengan yang dititahkan gurunya.

Kowe ora ngantuk tho, Nduk?” tanya Ibu sambil melirik jam di dinding. Sudah hampir setengah sebelas. Ibu nampak menguap saat merapikan liningan pring yang berserakan di lantai. Lampu minyak yang tergantung di dinding menerangi separo ruangan tempat aku dan Ibu duduk.

“Iya. Sebentar lagi, Bu,” jawabku pelan. Rumah ini sekarang terasa gelap karena aku sudah terbiasa dengan lampu listrik selama tinggal di Wonogiri. Kampungku memang belum dimasuki aliran listrik, disamping letaknya yang agak terisolir dari kampung-kampung lain, posisinya juga lebih tinggi, karena berada di lereng pegunungan.

Jalan untuk sampai ke rumahku saja harus melewati undakan-undakan yang sangat licin jika musim hujan tiba. Tapi batu-batu besar yang terdapat di sepanjang jalan itu cukup membantu menghindari becek. Aku sudah sangat terlatih melompati batu demi batu itu jika hendak turun ke kampung sebelah. Bagi mereka yang baru datang ke sini, pasti akan terasa sangat sulit untuk menempuh perjalanan.

“Tidur sana, gih!” suruh Ibu sebelum beranjak menyimpan alat-alat perautnya. Aku mengangguk sambil bangkit dari tikar rotan usang yang terbentang di tengah ruangan itu. Kuseret langkah dengan lesu menuju kamar. Kamar dengan penerangan lampu tempel yang kini terasa mencekam. Aku memang merasa lelah. Tapi kelelahan jiwa adalah sesuatu yang lebih membebaniku saat ini.

Aku dihadapkan pada persoalan yang maha berat. Yang aku sendiri merasa tidak sanggup memikulnya. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan segala kesyirikan Bapak. Belum lagi kebiasaan hidup masyarakat kampung yang sudah sangat akrab dengan tradisi kejawen ini. Yang merupakan lahan subur untuk berkembangnya ilmu perdukunan Bapak.

Dengan ilmu keislamanku yang masih sangat dangkal ini, tak ada yang bisa kulakukan selain mengakui dalam hati bahwa semua itu adalah haram. Aku tak mampu menghujjah mereka dengan dalil-dalil, apalagi mewarnai kehidupan mereka dengan nilai-nilai Islam. Aku merasa sendirian di tengah kejahiliyahan ini. Terpuruk dalam ketidakberdayaan. Jangankan untuk menarik orang lain, untuk menyelamatkan diriku sendiri rasanya sudah sangat berat.

Ya Allah, apa yang harus kulakukan…? Hatiku terus mengeluh, meluapkan segala kegundahan yang melanda. Dengan segala kelemahan jiwa dan raga ini, aku benar-benar seperti seonggok daging tak berguna.
Malam kian senyap, mengantarkanku pada kegelisahan yang mengoyak perasaan. Suasana hening yang diselingi suara binatang malam terasa kian menebar kengerian di malam Jum’at kliwon ini. Sedang di kamar belakang Bapak kian tenggelam dalam ritual sesatnya, membuat udara pegunungan Kidul yang dingin ini terasa gerah di kulitku.

@@@

Hari ini aku merasa sangat malas. Entah karena panas musim kemarau yang masih membakar bumi Kidul ini, entah karena beban pikiranku yang tak kunjung terpecahkan. Yang jelas sejak tadi aku hanya duduk termangu di bale-bale belakang ini. Sementara Bapak masih tidur pulas setelah kelelahan dengan upacaranya semalam. Ia pasti lelah sekali setelah bergadang semalam suntuk.

Sedang Ibu pasti sedang sibuk dengan anyamannya. Memang sudah beberapa minggu ini Ibu terus mengeluhkan tampah berasnya yang mulai bolong-bolong. Dan baru dua hari yang lalu Bapak mencarikan potongan bambu muda untuk membuat tampah yang baru. Bapak memang begitu, sebelum Ibu ngedumel dengan bibir cemberut, maka Bapak belum akan tergerak untuk mengabulkan permintaannya.

“Giliran anaknya saja, cepatnya minta ampun. Tapi giliran aku yang minta, mesti ora digugu!” gerutu Ibu kesal. “Padahal tampah itu kan buat keperluan dapur, dan yang mau makan itu ndak cuma aku.”

Bapak yang waktu itu sedang asyik mengisap daun kawungnya, menoleh seketika. Wajahnya merah padam. Dia paling benci disindir-sindir begitu. Maka tanpa banyak bicara, diayunnya langkah dengan kasar menuju rumpun bambu yang terletak di ujung jalan setapak. Mukanya terlihat jengkel sekali. Ibu hanya melirik tanpa merasa menyesal atas kata-katanya barusan.

“Bu, kenapa membuat Bapak marah?” tanyaku menyesali.

“Biar! Biar Bapakmu itu tahu rasa! Enak saja ongkang-ongkang kaki, sementara Ibu repot setengah mati. Padahal kalau dalam nasi yang dimakannya ditemukan satu gabah saja, pasti sewotnya minta ampun. Mosok cuma menebang bambu sebatang saja ndak mau. Memangnya Ibu yang harus manggul kampak kesana? Percuma wae due bojo awake gedhe!” kata Ibu meluahkan kejengkelannya.

Aku jadi terdiam. Ibu benar juga. Masa sudah hampir tiga minggu, janji Bapak untuk mencarikan bambu itu masih belum ditepati juga. Dan kini kesabaran Ibu nampaknya sudah mencapai batas. Tapi walaupun begitu, aku sangat bersyukur karena Bapak tidak pernah melayani omelan Ibu dengan kata-kata kasar.

Jangankan menampar atau memukul Ibu, memaki saja tidak pernah kudengar. Itulah bukti besarnya cinta dan penghargaan Bapak terhadap istrinya yang masih keturunan darah biru itu. Bapak tahu, Ibu tidak biasa diperlakukan kasar oleh keluarganya kecuali ketika Ibu memilih hidup bersama Bapak, dua puluh tahun yang lalu.

Ketika dulu menikahi Ibu, Bapak sudah memiliki tiga orang istri, tapi tidak satupun yang dikaruniai anak. Maka ketika Ibu mengandung aku, Bapak langsung menceraikan ketiga istrinya yang terdahulu, sebagai tanda gembiranya karena memiliki keturunan dari seorang wanita seayu Ibuku. Apalagi Ibu dulu adalah seorang waranggana yang banyak diincar kaum lelaki. Seorang penyanyi tunggal dalam kelompok pertunjukan wayang dan gamelan terkenal dari Jogja, yang memang berparas ayu dengan tutur katanya yang halus.

Maka termasuklah Bapak sebagai salah satu penggemar yang mengincarnya. Dan nasibnya ternyata cukup mujur, karna Ibu bersedia menerima lamarannya. Tapi tidak semudah itu. Keluarga Ibu menolak mentah-mentah, karena Bapak tidak setara derajatnya dengan mereka. Walaupun Bapak masih dari keluarga dalang, tapi dari segi trah, tetap saja lebih rendah. Ditambah lagi Bapak adalah seorang dukun dan sudah mempunyai tiga orang istri. Jelas keluarga Ibu sangat keberatan.

Akhirnya kerena Ibu tetap ngotot ingin menikah dengan Bapak, maka ia harus siap keluar dari jajaran keluarga besar Raden Mas Hadiatmo Kuncoro. Mereka menuduh Bapak telah mengguna-gunai Ibu, sebab bagi seorang dukun seperti Bapak, hal itu tentu tidaklah sulit. Benar atau tidak tuduhan itu, aku sendiri tidak ingin mengungkit hal yang satu ini. Aku tidak ingin pikiran dan perasaanku jadi cacat pada orang tuaku sendiri.

Begitulah, akhirnya Bapak pun menikah dengan Ibu tanpa restu dari Eyangku. Lalu Bapak mengajak Ibu tinggal di kampung terpencil ini. Maka mulailah Ibuku menjalani hari-hari sulit, karena ia tidak terbiasa dengan kehidupan orang-orang kampung yang sangat miskin dan agak terbelakang ini.

Mungkin pengorbanan Ibu itulah yang membuat Bapak terlihat lebih menyayanginya dari pada istri-istrinya yang lain. Apalagi hanya Ibu pula yang bisa memberinya keturunan. Maka lengkaplah kebahagiaan dan kebanggaan Bapak terhadap istri mudanya itu.

Konon ketiga istri Bapak yang lain memang sudah lama minta cerai, tapi Bapak tidak mau mengabulkannya. Maka kelahiranku dianggap oleh janda-janda Bapak itu sebagai lambang kebebasan bagi mereka.

“Mereka sampai membuat sesajen lengkap untuk menyambut kelahiranmu.” Begitu cerita yang kudengar dari Mak Ijah, tetanggaku. Dan sampai sekarang ketiga janda Bapak itu masih suka membawakan berbagai makanan untukku.

Di rumah inipun, Ibu selalu menerapkan aturan-aturan yang agak berbeda dengan keluarga lain di kampung ini. Cara dan tutur kata Ibu terkesan bersahaja dan aku harus membiasakan diri dengan semua itu sejak aku kecil. Dalam berpakaian misalnya, Ibu selalu memakai kebaya dalam kesehariannya.

Bapak juga demikian, selalu berusaha menyesuaikan diri dengan tata cara Ibu. Misalnya dengan memakai bahasa yang cukup halus jika berbicara dengan Ibu, seperti tutur madyo. Sedangkan aku sendiri diharuskan memakai tutur kromo lugu, yang satu tingkat di bawah tutur kromo inggil. Namun walaupun begitu, Ibu juga selalu mengajarkan padaku tutur kromo inggil dengan segala unggah-ungguh-nya.

Ajining dhiri dumunung aneng lathi.” Begitu kata-kata yang sangat sering aku dengar dari mulut Ibu. Bahwa harga diri seseorang ditentukan oleh nilai kata-kata dan sikap yang ditunjukkannya kepada orang lain.

“Kamu harus menjunjung tinggi sikap hormat, sopan-santun dan budi pekerti yang merupakan ciri khas masyarakat Jawa sejak dulu. Juga mengerti wedhi, isin, sungkan, dan ewuh pekewuh-nya. Harus mengerti sanepan dan pepindhan,” ucap beliau menekankan.

Dan semua itu adalah pelajaran wajib yang selalu diberikan Ibu padaku sejak kecil. Yah, kadang membosankan juga, tapi ini adalah pelajaran budi pekerti yang harus diketahui oleh setiap putri Jawa yang bermartabat. Apalagi aku masih keturunan priyayi. Keturunan bangsawan yang berdarah biru.

“Siapa tahu kelak kamu bertemu dengan Eyangmu di Jogja, jangan sampai mereka mengira Ibu tidak mengajarimu toto kromo.” Begitu alasan Ibu.

Dan tiap kali bicara tentang keluarga Eyang di Jogja, Ibu pasti selalu nampak sedih. Hingga aku jadi mulai berpikir tentang asal-usul Ibuku. Dan suatu saat nanti aku ingin ke Jogja. Aku ingin bertemu dengan mereka. Sayang Ibu selalu menolak tiap kali aku bertanya tentang alamat keluarganya di sana, kecuali sekedar menyebutkan sepenggal nama, Raden Mas Hadiatmo Kuncoro!

Padahal aku sering membayangkan, betapa senangnya punya Nenek dan Kakek seperti teman-temanku yang lain. Sepi sekali rasanya hidup bertiga saja dengan Bapak dan Ibu. Apalagi sebenarnya aku punya dua pasang Eyang yang masih hidup. Eyang dari pihak Ibu, yang kupanggil Eyang Jogja. Dan Eyang dari pihak Bapak kupanggil Mbah Tengger.
Memang ada nenek-nenek di samping rumahku yang biasa kupanggil Mbah Sepuh. Aku pun sudah menganggapnya seperti nenekku sendiri. Tapi tentu tetap lain rasanya jika kita punya Eyang kandung. Lagi pula aku juga ingin ikatan silaturrahim antara orang tuaku dengan keluarganya masing-masing kembali terjalin. Bukankah itu merupakan perintah Rasulullah?

BRAAAANG!! Suara benda jatuh yang cukup keras. Dari bunyinya, aku sudah bisa menebak, pasti Bapak sengaja melemparkan bambu yang habis ditebangnya secara kasar, sebagai ungkapan kemarahannya pada Ibu. Tapi Ibu tampak acuh, tidak terkejut sama sekali. Justru aku yang terperanjat kaget.

Segera kuburu Bapak ke belakang. Nampak beliau sedang duduk di atas bale-bale dengan kaki diangkat sebelah. Mukanya masih masam. Daun kawungnya juga masih mengepul di sudut bibirnya. Aku mendekat, dan dengan perlahan kupijiti pundaknya.

“Bapak jangan marah-marah begitu tho, Pak. Nanti cepat tua, lho. Lagi pula Ibu bersikap begitu karena sayang sama Bapak juga. Ibu ndak mau jika nanti banyak gabah dalam nasi yang kita makan. Kasihan Ibu kan, Pak? Harus memunguti gabah terus sebelum memasak,” kataku pelan.

Seperti biasa, kemarahannya akan perlahan mencair setelah kubujuk dengan pijitan dan guyonan-guyonan. Begitulah Bapak, disamping sifatnya yang kasar dan pemarah, ia juga mudah lumer jika dibaik-baiki. Dan satu-satunya yang paling pandai membujuk hatinya adalah aku. Jika bukan, maka akan sedikit sulit dan butuh waktu yang agak lama. Yah, begitulah Bapak!

Kadang aku tidak mengerti dengan sifatnya. Disatu sisi Bapak sangat menggemari segala bentuk kemungkaran, seperti menyabung ayam, minum arak, berjudi, membuat onar dan segala bentuk praktek ilmu hitamnya. Tapi di sisi lain ia juga memiliki sifat-sifat yang mengagumkan.

Kata Ibu, baru sejak Ibu mengandung aku, Bapak mulai mengurangi kelakuan buruknya itu. Ibu pernah mengancam akan mengugurkan kandungannya jika Bapak masih suka mabuk.

“Ibu paling benci melihat Bapakmu itu pulang dengan kepala teler dan ocehan ngawurnya. Koyo seomah karo wong gendheng,” kata Ibu ketika bercerita tentang kebiasaan Bapak dahulu.

Lalu kebiasaan menyabung ayam juga mulai ditinggalkannya ketika aku berusia tiga tahun. Waktu tanganku ditikam si Jago Lurik, ayam peliharaan Bapak. Tanganku sampai mengeluarkan darah cukup banyak. Melihat itu, Bapak langsung naik pitam. Tangan kekarnya bertindak cepat, menyambar kepala ayam jantan itu dengan geram. Bisa kubayangkan leher ayam itu langsung remuk di tangan Bapak.

Begitu juga dengan hobi berjudinya, berangsur-angsur surut semenjak Bapak mulai mendapat banyak ‘tamu’ untuk berobat, meramal nasib, minta pengasih, kharisma, jabatan dan lain sebagainya. Apalgi makin lama tamunya makin bertambah dan kelas ekonomi mereka yang datang pun kian menanjak. Maka dengan sendirinya judi pun terpinggirkan. Tapi Bapak tidak mau menerima tamu yang berasal dari kampung ini. Kecuali sekedar mengobati penyakit.

“Aku tidak mau menimbulkan kebencian di hati penduduk kampung ini, sebab disamping ada yang diuntungkan, ilmu ini juga akan menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Apalagi kalau sampai salah sasaran. Karena tidak semua dukun bisa tepat dalam bekerja. Dan aku tidak mau keluargaku jadi sasaran kebencian masyarakat di sini.” Begitu alasan Bapak ketika menolak orang-orang kampung kami yang datang minta jampi untuk mencelakakan orang lain. Seperti santet dan guna-guna, maka Bapak dengan tegas akan menolak.

Begitulah. Dan sampai sekarang, hanya ilmu hitam itulah satu-satunya yang diurusi Bapak. Bahkan sawah dan ladangnya sudah diserahkan pada centeng-centeng untuk mengurusnya. Sering juga aku dan Ibu yang turun, melihat sawah dan ladang tersebut. Sedang Bapak hanya sesekali saja ke sana.

“Sambil tidur pun aku bisa mengawasi sawah atau ladang itu,” katanya santai. Uh, dasar Bapak! Kalimatnya yang bernada sombong itu sering kutanggapi dengan cibiran. Namun dalam hati aku harus mengakui bahwa hal itu memang bukanlah pekerjaan sulit bagi Bapak. Itu sangat mungkin mengingat profesinya yang berhubungan erat dengan para makhluk gaib.

“Lagi pula, niat kedatanganku ke gunung Kidul ini sejak awal, adalah untuk memperdalam ilmu, kok. Bukan bertani,” dalihnya ketika sedang ngobrol dengan seorang temannya. Dukun prewangan dari Lamongan, yang belakangan sering datang untuk menimba ilmu dari Bapak.

Dengan segala keburukan yang dilakoninya itu, ternyata di sisi lain Bapak juga sangat berharap agar aku kelak bisa jadi anak yang shaleh dan berbakti. Jadi anak yang pintar dan berpikiran maju. Aku sampai bingung, bagaimana mungkin Bapak menginginkan aku jadi anak yang shaleh, jika ia sendiri tidak pernah kulihat shalat, mengaji, apalagi puasa? Bagaimana aku akan berpikiran maju jika tiap hari disuguhi dengan kepercayaan animisme yang terkesan sangat membodohi ini?

Dan bagaimana mungkin Bapak punya cita-cita yang begitu mulia untukku, jika ia malah sibuk dengan segala benda-benda klenik dan ilmu hitam yang dipelajarinya itu? Makanya kadang aku berpikir, bahwa keinginan Bapak itu adalah keinginan orang ngelindur. Mungkin masih mendingan Ibu, walaupun jarang puasa dan mengaji, tapi Ibu masih tetap menjalankan shalat lima waktu. Meski kadang bolong-bolong juga.

Sedang aku sendiri, baru sejak tinggal di Wonogiri mulai rajin shalat dan mengaji. Mungkin karena pengaruh fanatisme Bulek Imas dan suaminya yang orang Madura. Mereka berdua memang cukup ketat dalam urusan shalat dan mengaji. Otomatis baru tiga tahun terakhir ini pula puasaku berjalan dengan penuh kesadaran.

Kalau dulu, begitu melihat Bapak makan, aku juga ikut makan. Melihat Ibu minum, aku pun langsung membatalkan puasaku. Kondisi seperti itu, sudah jadi kebiasaan di kampungku. Banyak orang tua yang tidak malu-malu makan di pinggir ladangnya, padahal saat itu bulan puasa. Bagaimana mungkin anak-anak tidak akan mengikuti perbuatan mereka itu?

Shalat pun demikian pula. Yang mau shalat, silakan saja dan yang tidak, juga tidak apa-apa. Wajar sekali jika di kampung ini tidak ada mesjidnya. Yang ada paling surau kecil dekat tanah pemakaman. Itupun terlihat sepi dan tidak terurus. Terutama sejak ustadz Wahyudin, guru mengajiku ketika kecil, meninggal beberapa tahun yang lalu. Maka surau itupun lebih terlihat seperti tempat peristirahatan orang-orang yang habis nyekar. Tapi satu hal yang masih patut kusyukuri, seluruh penduduk di kampung ini beragama Islam. Walaupun baru Islam di mulut saja.

Baca juga Putri Kejawen episode #2: Putri Kejawen (#2)

(Bersambung)

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di PT. Khalifa International Business, juga relawan Kemenpar untuk Wonderful Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *