Putri Kejawen

20 “Aku tidak bisa dibohongi, Kang! Pasti ada sesuatu yang terjadi dan Akang tidak mau menceritakannya padaku. Iya, kan?” Suara Ibu yang bernada tinggi itu membuat langkahku terhenti.

Aku yang baru saja berniat mengambil air wudhu untuk shalat tahajjud jadi penasaran. Apa yang mereka bicarakan tengah malam begini?

“Sudahlah, Jeng. Aku tidak mau ribut soal itu,” kata Bapak pelan.

“Justru kalau Akang tidak jujur, berarti Akang memancing keributan! Akang dan Dewi telah mengalami kejadian aneh dalam waktu yang tidak jauh berbeda. Dan ini bukanlah sesuatu yang biasa, Kang! Aku harus tahu yang sebenarnya!” jawab Ibu tandas.

Sejenak suasana hening. Kurasa pasti Bapak sedang berfikir keras untuk membujuk Ibu.

“Baiklah,” kata Bapak kemudian. Rupanya ia menyerah pada desakan Ibu. Aku merapatkan tubuh ke dinding. Bapak akan membuka sebuah rahasia rupanya. Ya Allah, ampuni aku jika telah berani menguping pembicaraan mereka, bisik hatiku galau.

“Sebenarnya…, anak kita telah tergadai pada Kanjeng Guru sejak masih dalam kandunganmu dulu.” Suara Bapak bergetar.

“Apa??? Tergadai?! Apa maksudmu, Kang?!!” seru Ibu setengah menjerit.

Aku terhenyak.

“Maafkan aku, Jeng. Tapi aku telah bersumpah pada Kanjeng Guru untuk mempersembahkan Dewi padanya jika usia anak kita itu sudah mencapai dua puluh tahun.” Suara Bapak kian bergetar. “Jika tidak, maka selamanya aku tak akan punya keturunan. Aku telah memenuhi semua syarat yang beliau minta, termasuk menikahi seorang gadis dari keturunan priyayi. Setelah itu barulah keinginanku itu dapat terkabul.”

“Cukup, Kang! Cukup!!” jerit Ibu bercampur tangis. “Akang benar-benar telah menipu aku selama bertahun-tahun! Akang sungguh keterlaluan! Mempermainkan hidupku dan hidup anak kita! Apa Akang tidak pikirkan perasaanku? Juga perasaan Dewi jika ia tahu hidupnya dijadikan tumbal ambisi Akang?!” Kata-kata Ibu yang penuh emosi itu, terdengar seperti petir di kupingku.

Catatan:

Inilah karya pertama saya!

Meski masih memiliki kekurangan disana-sini, namun proses lahirnya novel ini sangat berkesan. Bermodalkan ilmu menulis yang sangat pas-pasan (tapi semangatnya luar biasa, lho!), saya memberanikan diri menulis dan mengirimnya ke majalah Annida.

Saat mendapat kabar dari Mbak Avi (redaktur majalah Annida waktu itu) bahwa karya saya akan dimuat sebagai cerita bersambung di episode selanjutnya, hati saya langsung komat-kamit mengucap alhamdulillah. Entah seperti apa raut wajah saya yang sedang happy berat saat itu. Namun yang pasti perasaan saya seperti melambung ke angkasa, siuuuuuuung…!

Bagaimana tidak, sekalinya menulis, langsung dimuat. Di rubrik cerbung lagi! Bagaimana saya tidak terbang ke langit? Tiba-tiba dunia saya berubah indah, penuh bunga-bunga. Saya kasmaran! Ya, kasmaran pada dunia menulis. Dunia yang sebenarnya memang paling cocok untuk saya, namun agak terlambat saya sadari. Tapi tetap alhamdulillah!

Setelah habis masa tayangnya di Annida, karya pertama saya inipun dibukukan. Kini tinggal menunggu kapan akan difilmkan. Gubrak! Duh, menghayal sih menghayal tapi…(V)