Segi Tiga Emas

segi-tiga-emasSalman Mangkoet, itulah nama yang diberikan Uwak dan Mak padanya. Salman diambil sebagai lambang keislaman dan kemelayuannya, sementara Mangkoet diambil dari nama raja pertama Thailand yang telah berjasa mendirikan kerajaan Thailand berdaulat dengan ibu kota Bangkok. Begitulah kira-kira sejarah nama pemuda itu. Pemuda yang kini sedang berjalan tergesa memasuki kawasan Segi Tiga Emas.

Kawasan itu terletak di propinsi Chiang Mai, Thailand bagian Utara. Tepatnya di kaki pegunungan Tanem Taung Gyi, pegunungan yang memanjang dari Thailand menuju Burma. Pegunungan yang terletak di perbatasan dua negara itu dihuni oleh suku-suku asli Burma dan Thailand yang telah puluhan tahun dijadikan kawasan Segi Tiga Emas atau biasa juga disebut Perkampungan Raja Candu. Wilayah tersebut dijaga ketat oleh ribuan pasukan bersenjata dengan nama Shan Serikat.

Segi Tiga Emas berada di bawah kekuasaan seorang lelaki bernama Khun-Fu. Nama Khun-Fu sendiri sudah melegenda sebagai tokoh dunia hitam yang merajai perbatasan Thailand-Burma, alias wilayah Segi Tiga Emas. Namun ia begitu licin hingga sangat sulit untuk ditangkap.

“Hei, Salman! Bagaimana?” sapa seseorang berbadan tinggi kurus. Dari raut mukanya jelas ia juga keturunan Melayu. Ia mengikuti langkah Salman dengan wajah penasaran.

“Nantilah saya ceritakan,” jawab Salman sambil masuk ke dalam sebuah bangunan. Bangunan itu cukup luas meski nampak sederhana. Di dalamnya terlihat sepi, hanya ada seorang lelaki bertubuh gempal dan bermata sipit.

“Hei, Salman! Sabai di mai?” sapanya sambil menyalami Salman. Namanya Shi Hong, salah seorang tangan kanan Khun-Fu.

Salman tersenyum sambil duduk di hadapannya. Sementara lelaki tinggi kurus tadi hanya berdiri di belakangnya.

Tukyang pai dai di,” jawab Salman mantap. “Semua sesuai rencana. Barang-barang itu telah berhasil masuk ke beberapa wilayah di Indonesia dan Singapura. Ahong telah melakukan pekerjaannya dengan baik. Di Indonesia kita dibantu oleh seorang teman yang cukup bisa dipercaya. Namanya Bonsar. Dia adalah orang yang cukup disegani oleh para pemakai dan pengedar narkotik di sana. Putra seorang pejabat penting. Anak buahnya di jaringan atas berjumlah puluhan orang, dan di jaringan bawah ada ratusan orang, dengan jaringan pemakai yang sudah tak terhitung jumlahnya,” jelas Salman bersemangat.

Mata Shi Hong nampak berbinar-binar. “Dimak! Aku senang sekali mendengarnya. Bos Besar Khun-Fu pasti gembira mendengar semua ini,” katanya tak kalah bersemangat.

Salman tersenyum lebar. Ia merasa eksistensinya di dunia yang satu ini semakin diakui dan menjanjikan. Dunia hitam ini telah mengikatnya secara moril dan materil.

“Ternyata teman-teman di Indonesia sudah lama mendengar tentang Segi Tiga Emas ini. Hanya saja mereka belum menemukan jalan untuk membuka jaringan dengan kita. Tapi sekarang mereka tidak perlu bingung lagi. Bonsar sudah siap membuka markas bayangan di wilayah Kepulauan Seribu dan Kepulauan Riau. Wilayah-wilayah yang sangat aman untuk bisnis ini. Apalagi kondisi hukum di negara tersebut cukup lemah,” tambah Salman.

“Hahaha…, tentu saja! Kita memang hebat dan terkenal di mana-mana!” Shi Hong tertawa bangga. “Pemerintah saja tidak sanggup berbuat banyak untuk menghalangi kita. Kau tahu sebabnya? Karena kita telah berhasil mengalahkan pasukan Kuomintang yang merupakan musuh pemerintah selama puluhan tahun itu.”

“Ya, itulah kunci kekuatan kita. Jadi dalam hal ini kita lah satu-satunya yang mendapat keuntungan terbesar. Kita bisa manfaatkan kondisi itu sekaligus, hingga kedua kelompok ini jinak pada kita. Bukan begitu, Bang?” Salman ikut tertawa.

“Bagus sekali, Salman! Kau sudah sangat paham dengan bisnis ini. Tidak seperti si bodoh di belakangmu itu. Lihat saja, tubuhnya tinggal tulang belulang, habis digerogoti opium. Dia benar-benar tidak mengerti bahwa semua benda itu adalah untuk bisnis. Untuk mendapatkan uang banyak. Bukan untuk bunuh diri. Hahaha…, dasar bodoh!” seru Shi Hong mengejek.

Salman hanya diam, tak berkomentar. Terus terang saja ia selalu merasa geram tiap kali melihat pemuda tinggi kurus bernama Ali itu. Walau bagaimanapun sebagai sesama orang Melayu, Salman merasa tidak rela melihatnya jadi korban candu. Karena itu pulalah, ia selalu berusaha menghindari Thailand bagian Selatan sebagai sasaran peredaran candu. Sebab daerah tersebut adalah daerah perkampungan yang dihuni oleh orang-orang keturunan Melayu. Termasuk ia dan keluarganya.

“Kita cukup mengedarkannya saja, jangan ikut-ikutan memakai. Bagaimana bisnis ini bisa kita jalankan kalau kita sendiri sudah setengah waras. Bisa-bisa malah berurusan dengan polisi.” Begitu nasehat Salman saat pertama kali Ali bergabung dengan sindikat Segi Tiga Emas setahun yang lalu.

Tapi anak yang berasal dari Chumphon itu memang bandel, selalu ingin mencoba morfin atau heroin yang baru selesai diracik. Tak jarang Salman memergokinya sedang bersandar rebah di kamarnya sambil menikmati uap candu. Dengan sepotong pipa kecil yang menempel di mulutnya dan sebilah silet untuk melukai jarinya.

“Beginilah cara paling nikmat untuk menikmati candu,” katanya. Setelah itu ia akan fly dengan mata redup dan tubuh terkulai. Pemandangan itu benar-benar membuat Salman marah dan ingin sekali menendang pemuda bodoh itu.

@@@

Salman mengamati satu persatu sampan yang memadati Floating Market. Sebuah kawasan pasar terapung yang terdapat di pusat kota Bangkok. Pemuda itu sedang mencari seseorang yang berjanji akan menemuinya di sini.

“Salman…?” Tiba-tiba seseorang menegurnya. Agak mengerutkan alis Salman menatapnya. Laki-laki di hadapannya itu menggerakkan tangan di dada sebagai isyarat rahasia. Salman langsung tersenyum lega.

“Anda pasti Burhan!” tebaknya yakin.

Pemuda itu mengangguk membenarkan. “Maaf, saya mengikat sampan agak jauh dari sini,” katanya.

“Baiklah. Kita tidak punya banyak waktu untuk bertemu. Langsung saja saya jelaskan tugasmu yang pertama,” kata Salman pelan. Sejenak ia memutar pandangan berkeliling, memastikan bahwa tempat itu cukup aman dan tidak ada yang mencurigakan.

“Begini, kau harus membangun jaringan dengan para petugas kayu gelondongan yang mengawasi pengiriman. Ingat, sasaran kita adalah Jepang dan Singapura dan Hong Kong. Tapi ingat, hindari wilayah Vietnam karena negara Komunis itu sedang melakukan pengintaian ketat terhadap para pengedar. Jangan lupa, jalur yang harus kita kuasai adalah darat dan laut. Dan kau, khusus menangani jalur darat. Apakah kau sudah paham seberapa berat tugasmu?” tanya Salman dengan suara dalam.

Lelaki itu mengangguk. “Bagaimana dengan Laos dan Kamboja, Bang?” tanyanya setengah berbisik.

“Itu sudah ada yang mengurus. Sudah banyak jaringan kuat kita di sana.”
“Malaysia?”
“Tidak! Di sana pengawasan sangat ketat dan hukumnya tidak main-main untuk para pengedar candu. Yang tertangkap bisa cacat seumur hidup!” jawab Salman cepat.

Tapi kalau boleh jujur, bukan karena persoalan hukum itu sebenarnya ia melarang. Melainkan karena ia tidak rela orang-orang Melayu diracuni oleh barang terkutuk itu. Sekali lagi, ia tidak rela hal itu terjadi. Meski ia orang Thailand, tapi rasa kemelayuan itu tertanam cukup kuat dalam dirinya.

@@@

“Bila kau nak balik ke Chiang Mai, Man? Masih lamakah?” tanya Mak sambil meletakkan sebuah gelas berisi teh manis di hadapan Salman.

“Tak boleh begitulah, Mak. Besok Salman dah mesti balik,” jawab Salman sambil meraih gelas di meja.

Mak menatapnya agak lama. Ada iba memancar dari sorot mata tuanya. “Tubuh kau tu butuh berehat, Nak. Untuk apa kau cari wang banyak, kau bina rumah sebesar ni, jika kau pula tak menikmatinya,” kata Mak menghiba.

Salman menatap wanita yang sangat dikasihinya itu. Ada sesuatu yang menohok perasaannya. Sampai saat ini, Mak tidak pernah tahu apa pekerjaannya. Yang Mak tahu, anak lelakinya itu bekerja pada orang Cina di Chiang Mai. Di sebuah perusahaan besar dengan gaji yang sangat memadai.

Salman menarik napas dalam. Tidak tega sebenarnya ia membohongi Mak, tapi ia lebih tidak tega lagi mengatakan hal yang sebenarnya. Mak pasti terpukul. Mak pasti akan melaknatnya. Tidak! Salman tidak mau itu terjadi. Biarlah dirinya sendiri yang menyimpan bangkai busuk itu. Jangan sampai tercium oleh Mak dan Syarifah, adik perempuannya. Karena semua yang ia lakukan ini adalah untuk mereka berdua. Untuk membahagiakan Mak dan Syarifah.

Sejak Uwak meninggal 12 tahun yang lalu, Mak harus membanting tulang untuk menghidupi kedua anaknya. Memeras keringat seharian di kebun Wak Harun, sebagai penyadap getah. Hasilnya yang jauh dari cukup, membuat Mak kadang terpaksa menjadi orang suruhan di rumah Wak Harun. Untunglah Wak Harun dan istrinya cukup baik pada Mak. Mak sering dibekali makanan jika pulang ke rumah.

Keadaan itulah yang kemudian membuat Salman bertekad untuk bekerja keras. Ia tinggalkan Pattani demi mewujudkan cita-citanya. Kota yang ia tuju adalah Bangkok. Di kota inilah ia bekerja untuk pertama kalinya sebagai tukang cuci piring pada sebuah kedai nasi milik orang Brunai. Dan di kota itu pula kemudian ia berkenalan dengan candu. Melihat harganya yang begitu tinggi, Salman bukannya ingin mencoba, tapi ia ingin jadi penjualnya.

Satu-satunya yang mencoba menghalangi niatnya waktu itu adalah Liu, temannya yang bekerja sebagai kasir di kedai makan tersebut. Liu adalah orang Malaysia keturunan Cina yang beragama Islam. Sebagai anak muda, pemuda sipit itu tergolong rajin beribadah.

“Kalau kau mencintai Mak dan adikmu, tak sepatutnya kau melakukan perbuatan tercela itu untuk senangkan mereka,” kata Liu waktu itu.
Namun Salman seolah tak mendengar. Tekadnya sudah bulat.

“Kalau kau tetap berkeras hati, kau akan menyesal kelak, Man. Bahkan mungkin sesalan seumur hidup!” tegas Liu sambil meninggalkannya dengan langkah kecewa.

Dan sekali lagi, Salman tak peduli. Liu tidak tahu kepahitan hidupnya selama ini. Dia tidak tahu betapa sedihnya melihat Mak dan adiknya menderita.

Maka seorang kenalan kemudian mengajaknya ke Chiang Mai dan memperkenalkannya pada Shi Hong. Sejak itu resmilah Salman menjadi anggota sindikat Segi Tiga Emas. Keuletan dan kecerdasannya membuat Shi Hong sangat bangga pada hasil kerjanya. Ia pun langsung jadi orang kepercayaan di wilayah haram tersebut. Dengan cepat ia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Yaitu uang yang banyak dan rumah besar untuk tempat tinggal Mak dan Syarifah.

“Salman ingat sewaktu kami kecil dulu, Mak. Kasihan betul melihat Ifah menelan ludah karena tak mampu membeli es krim seperti kawan-kawannya. Tak punya seragam yang patut untuk pergi sekolah hingga ia sering diolok-olok kawan sekelasnya. Mak masih ingat, kan? Hampir tiap hari dia pulang dengan wajah murung dan mata basah,” ujar Salman dengan mata menerawang.

Mak hanya diam dengan pandangan yang juga menerawang. Kondisi ketika itu memang sangat buruk. Masa kecil kedua anaknya itu sangat jauh dari bahagia dengan kasih sayang yang timpang pula. Dan hal itu sering membuat wanita itu menangis tiap kali melihat kedua buah hatinya tertidur pulas dalam keadaan lapar.

@@@

Perkampungan Raja Candu nampak sepi ketika sore itu Salman berjalan tenang menuju markas Shi Hong. Lelaki bermata sipit itu langsung menyambutnya gembira.

“Bagaimana perkembangan terakhir, Salman?” tanyanya tidak sabar. Tangannya dengan tangkas menuangkan anggur ke dalam dua buah gelas yang terletak di meja. Salman mengambil salah satunya dan dengan santai ia meminum beberapa teguk.

“Semua berjalan baik. Burhan telah mendapat jaringan di kalangan supir-supir truk yang menempuh jalur darat. Penyeludupan kayu gelondongan itu telah berhasil menutupi penyeludupan barang-barang kita,” Salman tersenyum gembira.

Shi Hong nampak puas. “Dimak, Salman! Aku senang mendengarnya. Pokoknya sediakan saja umpan yang siap diserahkan ke polisi jika memang dibutuhkan. Dan berikan jaminan yang menarik bagi umpan itu seandainya dia harus mendekam di penjara selama beberapa tahun,” kata Shi Hong sambil meneguk habis anggurnya.

Percakapan yang diselingi gelak tawa itu terus berlanjut sampai malam. Angin pegunungan yang bertiup dingin tak mampu melawan hawa panas tubuh mereka yang dialiri cairan memabukkan. Kegelapan pun tak sanggup memagut kesadaran insan-insan yang tengah terpasung hawa nafsu. Hanya rembulan malam yang nampak tak rela memberikan sinarnya di wilayah haram tersebut.

@@@

Hari ini Salman kembali ke Pattani, setelah dua bulan tidak pulang. Rasanya ia sudah sangat rindu pada Mak dan Syarifah. Apalagi hari ini adalah hari ulang tahun Syarifah. Salman telah membelikan sebuah kalung bertuliskan nama adiknya itu. Kalung yang sudah lama diimpikan Syarifah. Ia pesan khusus di toko mas terbesar di Bangkok. Ah, Salman sudah rindu gulai ikan buatan Mak, juga gelak canda adik semata wayangnya.

Namun ternyata kepulangannya kali ini berbeda dari yang dibayangkannya. Mak tidak menunggunya di beranda seperti biasa, melainkan di koridor Rumah Sakit. Tawa dan kemanjaan Syarifah juga tidak menyambutnya, karena gadis belia itu kini harus mendekam di ruang perawatan utama, dengan tangan dan kaki terikat pada besi tempat tidurnya. Syarifah juga tidak menginginkan hadiah yang dibawa Salman. Yang ia inginkan hanya satu. Opium! Ya, adik yang sangat ia cintai itu ternyata telah beberapa bulan ini terjerat candu.

@@@

“Salman! Sudah, Man! Kalau kau tak boleh kendalikan diri, siapa nanti yang akan selesaikan perkara ini?” Wak Amir, tetangga dekatnya, mencoba menenangkan. Pemuda itu meradang seperti orang kesetanan. Ia meraung, memaki dan membanting barang-barang yang ada dalam rumahnya.

“Wak Amir itu betul, Man. Sabarkan diri kau!” Mak mulai nampak tergugu di kursi.

Salman akhirnya diam. Bersandar di dinding dan membiarkan tubuhnya melorot terduduk dengan muka lelah. Ia masih tidak percaya akan apa yang terjadi. Syarifah, adik yang sangat disayanginya itu kini telah jadi korban opium! Syarifah kecanduan! Barang terkutuk itu telah meracuni adiknya!

“Saya tak percaya, Wak! Saya tak percaya! Sayalah yang menyebabkan semua ini berlaku. Cuai betol saya ni…!” gumamnya dengan mata basah. Ia menggeleng kuat, tetap tidak bisa menerima kenyataan yang menimpa Syarifah.

“Salman, jangan salahkan diri kau macam itu. Ini adalah mehnah dari Allah yang Allah berikan untuk kita bermujahadah. Lagi tinggi taraf iman seseorang, lagi banyaklah mehnah yang Allah datangkan. Ini juga suatu peringatan, bahwa Ifah tak hanya butuh uang, tapi juga butuh perhatian darimu,” ujar Wak Amir bijak. Kalimat itu kian membuat Salman merasa terpuruk. Tidak! Ia bahkan telah melupakan Allah selama bertahun-tahun.

“Kau mesti bersabar! Sebab kau yang mesti selesaikan perkara ini sampai tuntas. Jangan sampai kejadian ini berlaku pada anak-anak yang lain di wilayah kita. Kita mesti buat perhitungan dengan Alex itu. Dia mesti bertanggung jawab!” kata Wak Amir geram.

Salman menutup mukanya dengan telapak tangan. Ya, ia ingin sekali menuntut anak bernama Alex itu, yang telah memperkenalkan candu pada adiknya. Bahkan ingin rasanya ia membunuh anak yang satu sekolah dengan Syarifah itu.

Tapi bisakah ia melakukannya sementara ayah Alex adalah seorang supir truk kayu gelondongan yang merupakan bagian dari jaringannya sendiri? Bisakah Salman menuntutnya sementara ia sendiri adalah orang penting dalam sindikat tersebut?

Tiba-tiba kalimat Liu dulu terngiang lagi di telinganya. “Kalau kau tetap berkeras hati, kau akan menyesal kelak, Man. Bahkan mungkin sesalan seumur hidup!” (V)

(Thanks to Azmi Al-Fathoni di Prince of Songkhla University. Sungai Padi, Thailand)

Catatan :
• Segi Tiga Emas adalah wilayah penanaman candu terbesar di dunia yang terletak di Thailand bagian Utara dan telah menghasilkan ribuan ton candu untuk disebarkan ke seluruh dunia.
• Shan Serikat adalah pasukan bersenjata yang melindungi Segi Tiga Emas
• Kuomintang adalah sisa-sisa tentara Cina yang anti Komunis dan melarikan diri ke Thailand di bawah pimpinan Chiang Kai Shek sejak berkuasanya pemerintah Komunis Mao Zedong di Cina.

Kosa kata Thai :

• Sabai Di Mai? = Apa kabar?
• Tukyang Pai Dai Di = Semua berjalan lancar
• Dimak! = Bagus!

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak sejak tahun 2002 dengan cerbung berjudul Putri Kejawen. Media yang pernah menulis karyanya seperti Majalah Kartini, Paras, Ummi, Suara Pembaruan, Warta Kota, dan juga koran daerah. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku.


2 thoughts on “Segi Tiga Emas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *