Sekelumit Catatan Untuk Film “Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi”

Saya belum menonton film ini ketika ikut mendukung dan mempromosikannya melalui media sosial saya. Lalu dari mana saya tahu film ini bagus? Ya, saya mendukung film ini karena melihat orang-orang yang terlibat di dalamnya, yang saya kenal sebagai orang-orang positif yang tidak mungkin menyebarkan hal-hal buruk melalui tontonan. Mungkin ini subjektif, tidak mengapa. Memang itulah dasar dukungan saya. Persoalan apakah film ini memang benar-benar bagus tentu harus nonton dulu dan itu persoalan lain bagi saya. Akan ada kesempatan untuk memberikan penilaian tersendiri atas film Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi ini, yaitu melalui review yang saya tulis ini.

Kok review-nya ditulis setelah filmnya turun layar? Jujur saja, karena saya ingin melihat perjalanan film ini sampai turun layar, sehingga bisa mengulasnya secara menyeluruh dan leluasa. Tidak ada beban ketika harus menulis kritikan atas film ini, tentunya tetap kritikan membangun. Sebab melihat orang-orang yang terlibat dalam film ini, saya merasa harus menuliskan sesuatu yang positif juga agar nanti di film-film berikutnya, akan menuai hasil yang jauh lebih baik lagi.

Hingga saat saya menulis review ini, jumlah penonton film Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi ada di angka 79 ribuan, menempati urutan ke-9 dari deretan film Indonesia yang diputar di bioskop tanah air. Ingat ya, hanya film Indonesia. Angka 79 ribu tentu masih jauh untuk mencapai peringkat film laris yang konon harus mencapai 1 juta penonton. Bisa dibilang angka 1 juta penonton ini adalah titik aman alias balik modal. Meskipun jumlah modal setiap film pasti berbeda-beda. Tentu tak bisa dibandingkan dengan film Dilan yang menembus angka 6 jutaan penonton. Namun sebagai sebuah langkah awal, Inspira Picture telah melakukan sebuah langkah berani dengan meluncurkan film yang lahir dari sebuah proyek idealis, mengangkat sosok pemilik bisnis Keke Collection bernama Ika Kartika ini.

Kenapa Sebuah Film Bisa Ramai atau Sepi Penonton?

Rendy Saputra (Produser)

Selain unsur pemain, sutradara dan sinopsis cerita, film bioskop juga sangat tergantung pada promosi. Ada film yang promosinya wara-wiri di layar kaca, bahkan di prime time. Meskipun film Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi ini tidak melakukan hal yang sama, namun saya percaya mereka sudah melakukan promosi maraton sejak masih shooting dengan cara yang berbeda. Rendy Saputra sebagai produser memiliki jaringan yang luas dalam marketing, ini bisa dilihat dari perhelatan akbar Saudagar Nusantara beberapa waktu silam. Tak diragukan lagi keahlian beliau dalam bidang marketing.

Dibantu oleh Asma Nadia yang juga tak henti mempromosikan film ini melalui media sosial miliknya yang jumlah follower-nya cukup tinggi. Nama besar Asma Nadia sendiri sebagai penulis novel best seller tentu tak kurang menjual untuk film ini. Beberapa novel beliau telah difilmkan juga. Tapi kenapa film ini tak mampu menembus angka 100 ribu penonton? Saya sendiri tak tahu apa penyebabnya. Apakah memang filmnya tidak menarik bagi banyak orang (orang umum yang tidak berada dalam jaringan Rendy Saputra dan Asma Nadia) atau promosinya yang masih kurang? Wallahu’alam. Namun sedikit pendapat saya ini bisa jadi benar dan bisa jadi salah.

Sepi Rekomendasi

Saya merasa film ini sangat sedikit direkomendasikan oleh penonton sebelumnya. Di time line media sosial saya sedikit sekali yang mengulas film ini. Sedikit sekali yang menceritakan tentang film ini. Testimoninya sepi. Entah kalau di time line orang lain. Padahal ketika saya mencoba menulis status di Facebook tentang film ini, banyak yang berkomentar dan berminat untuk menonton. Jika semua orang yang sudah menonton melakukan hal yang sama, tentu ini cukup berpengaruh pada jumlah penonton. Tapi di time line saya memang sepi. Kemungkinannya ada dua. Pertama, orang yang sudah menonton memang tidak terkesan dengan film ini alias dianggap biasa saja hingga tak tertarik merekomendasikannya pada orang lain. Kedua, penontonnya puas tapi tak merasa perlu merekomendasikannya pada orang lain. Padahal banyak sekali orang yang tertarik menonton sebuah film setelah membaca cerita orang lain.

Ketokohan

Penyebab lain, menurut saya adalah karena ini film biografi, sementara orang yang mengenal sosok Ika Kartika mungkin hanya sedikit. Brand sepopuler jilbab Rabbani saja tak dikenal orang siapa pemiliknya. Artinya, ketokohan yang hanya dikenal di kalangan terbatas tak cukup membuat orang penasaran apalagi jika kisah hidupnya tidak dianggap luar biasa. Berbeda dengan film biografi lain semisal Athirah  (ibunda Jusuf Kalla), film Rudy Habibie, film Chrisye dan lainnya yang merupakan sosok terkenal di lingkup nasional bahkan internasional. Ada juga film biografi yang sosoknya tidak terkenal namun kisah hidupnya sangat fenomenal seperti film 127 Hours, film 12 Years A Slave,  film The Blind Side dan sebagainya. Di Indonesia mungkin semacam film Marsinah yang menjadi fenomenal karena perjuangannya diangkat hingga ke ranah politik. Nah faktor ini menurut saya ikut mempengaruhi.

Waktu yang Kurang Tepat

Asma Nadia (Penulis Novel)

Selain unsur di atas, saya rasa film ini hadir pada waktu yang kurang tepat, karena pada saat bersamaan ada film Dilan yang begitu viral dengan jargon-jargonnya. Film ini membidik dua pasar sekaligus, penonton remaja zaman now dan penonton remaja tahun 90-an yang sekarang tentu sudah tak remaja lagi. Media sosial dipenuhi oleh Dilan. Saya justru tahu film Dilan setelah melihat banyaknya bertebaran jargon dan meme Dilan. Sebelum itu saya tidak tahu sama sekali kalau ada film layar lebarnya.

Suami saya yang akhirnya bela-belain nonton film ini (secara beliau gak suka nonton film Indonesia) saya tanya, apa yang menarik dari film itu hingga begitu digandrungi dan viral?

Kata beliau, sebagai sebuah hiburan, film ini bisa dibilang bagus. Sebuah film yang ringan ala roman picisan era 90-an. Jargon-jargon kayak ‘rindu itu berat’ itu sebenarnya biasa saja, tapi menjadi tak biasa lantaran viral. Pemainnya juga biasa-biasa saja. Tapi penggarapan filmnya memang cukup bagus. Ceritanya klise namun bisa membangkitkan memori generasi 90-an dan mengundang penasaran generasi sekarang untuk menonton. Jargon dan meme tentang Dilan viral di mana-mana. Ini adalah bentuk testimoni atau rekomendasi yang tanpa disadari telah menggiring orang untuk menonton film ini. Artinya, ada orang yang merekomendasikan dengan suka rela karena memang setelah menonton ia suka dengan filmnya dan ada pula yang merekomendasikan hanya karena latah ikut-ikutan padahal ia tak menonton filmnya, yaitu dengan cara ikut-ikutan memviralkan jargon-jargon dan meme tentang Dilan. Hasilnya? Dilan menduduki peringkat pertama jumlah penonton film Indonesia.

Kembali ke Film Bunda

Film Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi ini diangkat dari buku perjalanan hidup owner Keke Collection yang ditulis oleh Rendy Saputra (CEO Keke) dengan judul Dua Kodi Kartika. Lalu ditulis ulang dalam bentuk novel oleh Asma Nadia dengan judul Cinta 2 Kodi. Novel inilah yang kemudian diangkat ke layar lebar dengan sutradara Ali Eunoia dan Bobby Prasetyo. Film yang dibintangi oleh Acha Septriasa, Ario Bayu dan Wulan Guritno ini tentu tak ada masalah dari sisi akting pemainnya karena para pemerannya sudah dikenal sebagai bintang yang tak diragukan lagi aktingnya.

“Film ini idenya bagus. Pemerannya juga keren-keren. Tapi sayang, banyak adegan yang melompat tanpa penjelasan,” begitu komentar suami saya yang sangat menyayangkan hilangnya beberapa logika dalam film tersebut. Misalnya, ketika Kartika (Acha Septriasa) ditipu oleh salah seorang distributor atau agennya. Tak ada penjelasan apapun sesudah itu, apa tindakan mereka. Tak terlihat juga bagaimana proses penyelesaian masalahnya hingga kasus penipuan itu mengambang begitu saja. Film ini jadi terlihat seperti cuplikan-cuplikan singkat saja dari kehidupan panjang seorang Kartika. Padahal kasus penipuan ini bisa menjadi konflik perjuangan bagi seorang Kartika jika digarap lebih dalam lagi. Sebab dalam sebuah cerita bisnis, yang paling menarik perhatian orang adalah kisah bangkitnya seseorang dari keterpurukan.

Film ini mungkin terlalu pendek untuk merefleksikan kisah hidup seorang Kartika, hingga beberapa adegannya terasa dangkal untuk menggambarkan perjuangan seorang Kartika. Apalagi film ini mengangkat dua konflik sekaligus, yaitu tentang perjuangan bisnis dan tentang perjalanan cinta Kartika. Mungkin bagi yang sudah membaca buku atau novelnya, ini tak akan jadi pertanyaan. Tapi bagi orang yang hanya menonton filmnya, seperti suami saya, ini menyisakan tanda tanya. Durasi yang singkat membuat film ini jadi seakan kurang penghayatan meskipun mampu memancing air mata penonton di adegan-adegan tertentu. Itu pendapat beliau sebagai penikmat film, mungkin agak berbeda dengan saya yang sangat pemilih dalam menonton film.

Simbol-simbol Dalam Film Bunda

Kalau saya pribadi, menilai film ini cukup banyak bermain dalam emosi. Jujur, di beberapa adegan saya ikut menangis. Di mata saya, film ini adalah sebuah film keluarga yang memang layak ditonton. Sosok Kartika di film ini sangat manusiawi, tidak diciptakan seperti wonder woman yang hebat dalam segala hal. Malah justru terkesan emosional, keras kepala dan (maaf) terlihat kurang pandai menghargai suaminya dengan cara berdialognya yang terbilang kasar. Saya paham, itu dibuat mungkin demi menciptakan konflik dalam film tersebut, selain konflik awal tentang pernikahan suaminya, Fahrul (Ario Bayu) dengan perempuan pilihan ibunya di saat Kartika hamil anak kedua. Meskipun kemudian mereka rujuk lagi, namun rasa kecewa Kartika tentu tetap ada dan mungkin itu pula yang membuat ia sering berikap kasar pada suaminya. Ini analisa saya, bisa salah dan bisa benar. Dan karena ini film biografi, maka terbersit pertanyaan di benak saya, benarkah sosok Kartika yang asli seperti itu?

Saya tentu tak asal menilai, sikap keras (cenderung kasar) Kartika juga dirasakan oleh kedua buah hatinya yang membuat lukisan-lukisan, ungkapan perasaan mereka yang masih polos, di mana ibunya digambarkan menyemburkan api dari mulutnya. Ya, memang begitulah anak-anak dan saya percaya itulah yang tergambar di benak anak-anak mendapati sosok ibunya yang begitu keras. Menjadikan kolong tempat tidur sebagai tempat berekspresi menjadi hal yang menarik bagi saya dalam film ini. Saya membayangkan betapa menyenangkannya ketika seorang anak bisa menciptakan dunianya sendiri. Terasa betapa bernilainya tempat tidur itu bagi mereka dibanding sebuah tempat tidur baru yang bagus dan empuk yang dibelikan Kartika sebagai hadiah. Sebab bagi mereka tempat tidur itu adalah simbol kenyamanan, tempat pelarian dari segala kesedihan.

Sosok Kartika sebagai ibu yang sangat merencanakan segala sesuatu untuk masa depan anak-anaknya memang patut diacungi jempol. Mungkin latar sebagai single parent ikut menciptakan karakternya yang perfeksionis terhadap anak-anak dan pekerjaannya. Meskipun kemudian sudah tak single parent lagi (setelah rujuk dengan Fahrul) namun karakternya yang keras masih terus terlihat. Fahrul sendiri di sini terkesan sebagai suami yang banyak mengalah, penyayang anak-anak dan tetap mau membantu mewujudkan cita-cita istrinya membangun  bisnis. Meski di salah satu adegan ia pergi meninggalkan Kartika karena harga dirinya yang tertohok oleh sikap Kartika yang kelewatan. Kondisinya yang tidak bekerja saat itu memang menjadi pemicu kemarahan Kartika.

Kepergian Fahrul untuk kedua kalinya ini membuat ia kembali bertemu dengan wanita yang sama, yang dulu ia temui saat meninggalkan Kartika untuk pertama kali. Yaitu wanita pilihan ibunya. Hanya saja pertemuan kedua ini dibuat tanpa rencana, karena ternyata mereka satu proyek pekerjaan. Dan di sinilah terjawab bagaimana hubungan mereka sesungguhnya dan ke mana muara kisah perempuan kedua dalam hidup Fahrul itu setelah di awal seperti hilang ditelan bumi. Di sini pula kecemburuan Kartika kembali tersulut dan saya rasa inilah puncak dari konflik film ini. Namun hingga akhir film, saya masih belum mengerti kenapa ibu Fahrul tidak menyukai Kartika. Saya pikir mungkin saya terlewat mengamati bagian ini. Atau memang tidak dijelaskan?

Sebagai sebuah film keluarga, pemeran anak-anak di film ini sangat bagus. Shaquilla Nugraha dan Arina Mindhisya berhasil memerankan tokoh anak-anak Kartika dan Fahrul dengan akting dan gaya mereka yang apik. Natural dan menjiwai. Kedua bocah pintar inilah yang membuat saya menteskan air mata. Empat botol toples berisi keong yang mereka miliki dan selalu disimpan di kolong tempat tidur, mewakili mereka sekeluarga, juga menjadi hal yang menarik. Botol-botol toples yang menjadi simbol rasa sayang dan kebersamaan dalam keluarga. Kemudian ada cangkang keong yang merupakan simbol pertemuan hati Kartika-Fahrul dan menjadi romantisme tersendiri dalam film ini. Jadi tak hanya mengangkat karakter Kartika yang keras, namun di sisi lain ada juga karakter Kartika yang penuh cinta dan kehangatan, baik terhadap suami maupun anak-anaknya.

Film Bunda yang Sarat Pelajaran

Jadi, film ini menurut saya layak menjadi tontonan keluarga, banyak pelajaran yang bisa diambil. Terlepas dari segala kekurangannya (di mata saya) film ini tetap saya acungi jempol. Penilaian saya bisa jadi jauh berbeda dengan penilaian orang lain, karena mungkin cara menonton saya pun berbeda dengan orang lain. Saya penikmat fiksi, penulis fiksi juga, terbiasa bermain dengan imajinasi dan logika. Jadi ketika menonton, otak saya tak bisa dicegah untuk ikut menilai dari sisi logika, alur dan konflik yang dibangun dalam cerita film ini. Terbiasa menonton sambil melihat hal-hal detail memang membuat saya jadi kurang enjoy (terkadang) namun ini bagus menurut saya untuk menulis review-nya dari berbagai sudut pandang.

Penulis skenario, sutradara dan produser film ini mungkin bisa saja memberikan penjelasan atas kekurangan film ini, tapi saya rasa itu tentu tak perlu dilakukan karena review ini adalah penilaian pribadi, sesuai dengan selera dan pengamatan masing-masing orang. Pihak Inspira Picture sudah membuat sebuah karya dengan maksimal, maka apa yang kemudian ditangkap oleh penonton tentu bisa saja berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh produser, pemain, penulis skenario dan sutradaranya.  Dan sedikitnya jumlah penonton film ini tentu bukan berarti kisah hidup seorang Ika Kartika yang diangkat dalam film ini menjadi tak layak untuk diteladani. Dan apapun itu, film ini sarat pelajaran berharga, tak sekadar bicara tentang beratnya rindu, tapi bicara tentang beratnya membangun hidup dan impian masa depan. Itu jauh lebih penting!

Satu hal yang menarik dari perjalanan film ini, meski filmnya sudah turun layar namun masyarakat masih bisa menontonnya dengan bergabung ke acara NoBar yang digelar di berbagai wilayah. Semangat ini yang patut ditiru dan mendapat tambahan jempol. Jadwal dan lokasinya bisa dicek di akun-akun media sosial film Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi. Setidaknya bagi yang belum menonton, silakan menuntaskan rasa penasaran atas film ini. Buruan bergabung sebelum keseruan NoBar ini berakhir. Siapa tahu setelah membaca review film ini dan menonton sendiri filmnya, kamu bisa membuat review tandingan yang jauh lebih keren dan membangun. 😀

(Salam Hangat)

 

Ingin tahu apa kegiatan Peggy Melati Sukma setelah hijrah? Klik di sini!

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


27 thoughts on “Sekelumit Catatan Untuk Film “Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi”

  1. Leila

    Aduh, jadi merasa bersalah juga belum kunjung menuliskan ulasan filmnya versi saya. Tadinya mau nunggu nonton setidaknya sekali lagi, seperti DSC yang bahkan saya nonton 3x sebagai bentuk dukungan, tapi ternyata turunnya cepet ya…

    Reply
  2. Leila

    Aduh, jadi merasa bersalah juga belum kunjung menuliskan ulasan filmnya versi saya. Tadinya mau nunggu nonton setidaknya sekali lagi, seperti DSC yang bahkan saya nonton 3x sebagai bentuk dukungan, tapi ternyata turunnya cepet ya… Sependapat dengan salah satu kemungkinan yang Uni ungkapkan sih, ada pengaruh saingan nan berat sesama film Indonesia yang itu.

    Reply
    1. Novia Syahidah Post author

      Heheh terimakasih Ratih sudah mampir. Iya, rasanya gak lengkap kalau gak disertai data dan analisa kita, harapannya semoga semua itu jadi masukan positif buat film berikutnya 🙂

      Reply
  3. Dian Restu Agustina

    Saya belum nonton sudah turun layar saja..hiks:(

    Mungkin saya termasuk jenis penonton yang disebutkan di atas..menilai dari ketokohan kisah nyata yang diangkat filmnya. Saya tahunya cuma Keke itu baju setelan koko yang mahal tapi berkualitas bagus yang biasa saya beli untuk anak-anak. Selain itu saya enggak tahu sama sekali siapa Bunda Kartika ini. Jadilah dari awal saja sudah kurang tertarik. Apalagi, sepertinya kurang digerakkan kekuatan buzzer dan influencer di sosial media. Jadi sepi infonya..:)

    Reply
  4. Utie adnu

    Aku smp ajak anak2 nonton biar tahu perjuangan seorang ibu tuch bagaimana, bagus banget padahal filmnya , tapi mungkin iya timenya gk tepat kalah dengan film sbelah ,

    Reply
  5. April Hamsa

    Belum ada kesempatan nonton film ini :(yknya teasernya lewat timeline,
    Bbrp kali liat kykya lewat timeline tapiemang gk kyk seagresif Dilan.
    Penasaran dengan cerita2 yang gak lebay (penggambarannya bukan sbg wonder woman) kyk gini mbak 😀
    Makasih reviewnya 😀

    Reply
  6. El-lisa

    Kok berbeda dengan nobelnya ya uni. Di novel tuh kartika tidak single parent lo, mereka berdua tetap berjuang mempertahankan bisnisnya ketika kartika baru saja keluar dari kantornya.

    Reply
  7. Visya

    Hiks udh turun layar ya.. kmrn2 ga bs nntn krn msh pnya baby, ga bs dibawa ke bioskop pdhl pensaran n padahal jg saya jual buku Cinta Dua Kodi…
    Makasih reviewnya mba Novia :))

    Reply
  8. Dewi

    Saya pun blm sempat nonton bun.. Point yang timing kurang tepat tayangnya sepertinya faktor terkuat jg ya bun, krn bener2 seolah tenggelam oleh film dilan 1990. Pdhal secara pemain semua ga perlu diragukan lg kualitasnya

    Reply
  9. Vivi

    Nice review mbak. Betul-betul analisis yang mendalam dari suatu karya. Kalau bukan dari review mba Via ini, saya gak akan tahu bahwa Cinta 2 Kodi adalah biografi mba Ika “Keke Collection” Kartika. Jujur saya suka pesimis duluan sama film (terutama Indonesia) yang diangkat dari buku. Jadi hanya ada pilihan bagi saya, BACA atau NONTON wkwkw

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *