Semua Orang Butuh Proses

Tak satu dua kita melihat orang-orang berubah cara hidupnya,  sikapnya,  cara pandangnya dan sebagainya.  Mulai dari artis yang ngetop sampai sahabat kita sendiri mungkin.

Pada dasarnya saya sangat menghargai setiap perubahan. Entah perubahan menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk (menurut mata manusia). Kalau berubah baik biasanya akan mandi pujian, kalau berubah buruk akan menuai kritikan. Itulah manusia. Sekali lagi, ini baik buruk menurut mata kasat manusia.

Karena itulah saya selalu mencoba memahami setiap teman yang berubah. Menghargai dengan tidak banyak komentar, tidak menghakimi atau nyinyir bertanya “Kok kamu bisa begini, sih?”
Menghargai dengan tidak mengungkit-ungkit masalah atau masa lalunya.

Sejatinya setiap orang punya alasan kenapa berbuat begini atau begitu. Dan ia sedang menjalani proses hidupnya sendiri yang mungkin tak semanis hidup kita, yang mungkin tak sebiasa hidup kita, yang mungkin tak selurus hidup kita. Mungkinkah seseorang berubah kalau bukan karena alasan yang sangat kuat? Mungkinkah seseorang membutatulikan indranya dari komentar orang lain jika bukan karena beban rasa yang sudah teramat berat?

Tau apa kita dengan masalah orang lain? Tau apa kita dgn beban batin orang lain? Dan tau apa kita tentang akhir kesudahannya kelak? Bisa jadi kelak ia akan jadi jauh lebih baik dari kita (di mata manusia dan mata Allah).

Kalaupun (lagi-lagi menurut kita) memang tidak baik, mungkin lebih baik kita doakan saja diam-diam agar Allah tetap membimbing dan menyayanginya. Bukankah doa diam-diam kita utk orang lain akan diaminkan malaikat sebagai doa bagi diri kita sendiri?

Saya punya teman yang berubah sangat sensitif, salah sedikit dia akan meradang. Padahal dulu dia gak begitu. Saya pun punya teman yang dulu berjilbab panjang,  sekarang berjilbab mini dan bercelana ketat.  Ada lagi teman saya yang dulu hidupnya berantakan kini rapi berjilbab. Ada pula yang dulu gaul kelewat batas tapi kini menarik diri dan khusyuk nyantri. Semua itu manusiawi.

Lalu apa penyebab perubahan mereka? Tentu banyak alasan.  Tentu beraneka sebab. Dan saya memang tak pernah bertanya.  Jika ketemu, saya menyapa seperti biasa,  seolah tak ada yang berubah. Justru biasanya mereka akan bercerita sendiri. (Mendadak kangen dicurhatin hehe).

Masalah hidup ini sangat komplit,  mulai dari soal materi sampai poligami.  Mulai soal jodoh yang tak kunjung datang sampai soal jodoh yang harus bercerai. Mulai dari soal selingkuh sampai soal keturunan. Sangat komplit! Dan semuanya bisa membuat seseorang limbung,  goncang, putus asa dan sebagainya.

Bahkan ada teman saya yang bertahun-tahun tak bisa tidur malam hari lantaran depresi akibat persoalan rumah tangga. Lalu ada pula yang kecewa berat lantaran suaminya pergi menghilang entah kemana dan tahu-tahu dapat kabar sudah punya anak di seberang sana. Bahkan ada yang mengaku belasan tahun menikah tak pernah bisa mencintai suaminya akibat kawin paksa.

Kita pahamlah itu semua mungkin ujian. Tapi tak semua orang menghadapinya dengan cara yang sama,  cara yang kita harapkan sebagai sosok yang tak mengalami langsung, yaitu bersabar dan ikhlas. Padahal jika kita yang mengalami ujian seberat itu bisa jadi kondisi kita pun sama atau malah lebih parah.

Selama ini hidup kita selalu lurus, terlalu biasa dan lebih banyak bahagianya. Hingga kadang sulit menerima dan memahami kondisi orang lain. Apalagi jika itu teman kita sendiri.  Kita maunya mereka tetap sama seperti yang kita harapkan. Alangkah egoisnya kita berharap teman kita baik-baik saja tapi sama sekali kita tak paham apa yang tengah bergejolak dalam jiwanya. Menghakimi itu paling gampang, karena kita tak pernah ada di posisi mereka. Pernahkah kita melapangkan pelukan dan membiarkan bahu kita basah oleh air matanya? Ehm, ini dalem banget!

Jadi biarlah mereka berproses karena mereka punya hak untuk itu.  Jatuh bangun adalah pertanda proses itu sedang berjalan.  Tak perlu ceramah dan dalil panjang lebar untuk mengembalikan mereka ke ‘jalan yang benar’ seperti keinginan kita. Jika kita memang peduli, maka jadilah orang yang mau memberi ruang, bukan memojokkan. Semua orang yang punya masalah itu merasa hidupnya sempit, makanya mereka butuh ruang lebih. Butuh dipahami dan ditoleransi.  Butuh didengarkan dan diberi waktu.  Bahkan tak jarang mereka akan pergi menjauh. Biarkan saja. Jika kita memang teman yang tepat, maka ia pasti akan kembali menemui kita. Sekali lagi, semua orang butuh proses dalam menjalani hidup. Biarkan mereka berproses dan tetaplah peduli.

Kita yang hidup tanpa masalah saja, ketika dikritik sedikit sudah meradang.  Apalagi orang yang sedang punya masalah. Simaklah bagaimana bijaknya Hasan Al-Banna menyikapi hal seperti ini, catatannya saya rekam di sini!

Hidup tak selalu soal bagaimana memulai, justru hakikatnya adalah bagaimana kita mengakhirinya. Bukankah doa setiap orang adalah husnul khatimah?

Baca juga: Malaikat penolong di sekita kita.

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


6 thoughts on “Semua Orang Butuh Proses

  1. Hidayah Sulistyowati

    Kadang justru hidup yang kita jalani menjadi alasan kecemburuan seseorang. Sementara orang gak pernah tahu, seperti apa effort yang kita usahakan sepanjang hidup. Ya udah, muaranya, istighfar aja sih, siapa tahu yang salah adalah diri sendiri.

    Reply
  2. Ophi Ziadah

    Karenanya saya mencoba memilih untuk tidak menuntut apapun dr orang lain. Berhenti bepikir bahwa mereka seharusnya begini begitu…lebih fokus bagaimana kita menata diri saja.
    berhenti menuntut sekitar memahami kita, mencoba menjadi diri yg lebih terbuka memahami yg lain..
    tidak mudah tp jauh lbh baik…karena akan tiba masanya masing2 kita tersadarkan insyaAllah
    makasih sharingnya Uni…

    Reply
  3. Tri Sapta

    Baru tadi sore bicara khusnul khatimah sama anak, eh menemukan tulisan ujungnya ada itu. Hidup itu seperti menghadapi siklus alam. Kadang hujan yang sangat lebat, terik, atau cuaca bersahabat. Diri kita berproses menghadapinya. Bagaimana sampai tujuan selamat meski basah kuyup atau kepala mendidih.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *