Sepotong Kata Cinta

Sepotong Kata Cinta“Katakanlah, Ran! Aku ingin mendengarnya.”

“Untuk apa, Mas?”

“Aku kan belum pernah mendengarnya dari mulutmu. Sebagai suamimu, wajar kan kalau aku ingin kamu mengucapkannya?”

“Tapi untuk apa kalimat seperti itu? Bukankah yang terpenting adalah sikap dan tindakanku?”

“Tapi mengucapkan kalimat itu juga sangat penting, Ran. Setidaknya aku jadi benar-benar yakin akan perasaanmu.”

“Jadi selama ini kamu gak yakin sama aku?”

“Bukan begitu…”

“Kamu meragukan ketulusanku?”

“Tidak! Sama sekali tidak, Ranti! Aku hanya ingin mendengarnya langsung dari mulutmu. Sungguh, aku ingin sekali mendengarnya.”

“Tapi bukankah aku sudah sering mengatakan padamu bahwa aku menyayangimu, Mas. Apa itu kurang?”

“Kalau sayang memang sering kamu ucapkan, tapi cinta? Sama sekali tak pernah.”

“Apa bedanya?”

“Tentu saja berbeda. Getar yang timbul dari dua kata itu berbeda.”

“Sudahlah, Mas. Jangan mengatakan hal-hal aneh yang membuatku bingung.”

“Ini tidak aneh, Ran! Apakah mengucapkan kata cinta pada suami sendiri adalah hal aneh? Tidak, kan?”

“Tapi aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Entahlah. Yang jelas aku tidak bisa.”

“Sekali saja, itu sudah cukup bagiku.”

“Maaf, Mas!”

Hening. Awang duduk terdiam di sofa, menatap tubuh istrinya yang beranjak terburu meninggalkan ruang tengah, tempat mereka bercakap-cakap barusan. Selalu saja begitu. Ranti tak pernah mau memenuhi permintaannya yang satu itu, mengucapkan sepotong kata cinta sebagaimana layaknya suami istri. Aku mencintaimu, apa susahnya mengucapkan kalimat singkat itu? Tapi sepertinya bagi Ranti, itu sangat sulit untuk diucapkan.

@@@

“Aku sangat menghormati pernikahan kita, Mas. Jadi tolong jangan membuat masalah dengan mempersoalkan hal-hal sepele,” ucap Ranti suatu malam, ketika Awang kembali memintanya mengucapkan sepotong kata cinta itu.

“Ini boleh jadi hanya masalah sepele pada awalnya. Tapi melihat kekukuhanmu untuk menolak mengucapkan kata itu, maka bisa saja ia akan berubah menjadi masalah besar. Kekukuhan tanpa alasan yang jelas.” Awang berkata dingin.

Ranti menoleh cepat, tak biasanya Awang bicara dengan nada seperti itu. “Apa maksudmu, Mas?”

“Kita sudah menikah hampir setahun lamanya. Dan selama ini kukira aku sudah cukup mengenalmu. Tapi kini, ketika aku mendapati sikapmu yang aneh itu, aku jadi merasa asing padamu, Ran.”

“Asing?”

“Ya. Jangan-jangan selama ini kamu memang tak pernah mencintaiku. Kamu menikah denganku hanya karena menuruti permintaan orangtuamu saja. Bisa jadi begitu, kan?”

“Kamu berpikir seburuk itu?” Mata Ranti membesar.

“Aku tidak ingin berpikir seperti itu, sungguh! Tapi sikapmu yang aneh itu telah memacuku untuk berpikir demikian.”

“Dan itu menghilangkan arti kebersamaan kita selama setahun ini di matamu? Menghilangkan segala apa yang telah kulakukan untukmu?” sambung Ranti cepat.

“Kurasa waktu setahun memang belum cukup bagiku untuk menyelami perasaanmu. Bukan aku tak menghargai segala pengabdian dan perhatian yang kamu berikan selama ini, sama sekali bukan. Aku sangat menghargai itu. Sangat mensyukurinya. Tapi sebagai suamimu, aku bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang kamu sembunyikan hingga begitu sulit bagimu untuk mengatakan sepotong kata cinta itu.”

“Apakah ini artinya kamu tak lagi memercayaiku, Mas?” Mata Ranti mulai merebak.

“Aku selalu berusaha memercayaimu, Ranti. Dan ingin selalu memercayaimu di sepanjang usiaku. Kamu tahu persis betapa aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu. Lalu ketika tiba-tiba kudapati kamu bersikap lain hanya karena aku memintamu mengucapkan sepotong kata cinta itu, tiba-tiba pula aku merasa bahwa pada saat itu aku mulai kehilanganmu.” Awang menelan ludah getir. Sungguh sangat sulit baginya mengeluarkan kalimat bernada menuduh itu, apalagi terhadap Ranti yang begitu ia cintai. Namun ia pun tak kuasa menahan gejolak hatinya untuk menguak segala sesak yang muncul di dadanya belakangan ini.

Ranti menunduk, menekuri lantai. Ruang tengah tempat mereka bercakap-cakap saat itu, terasa sangat hening. Ya, kini mereka sama-sama diam. Hanya sesekali terdengar suara napas Ranti yang agak memburu menahan tangis. Perempuan itu benar-benar merasa terpojok oleh kalimat-kalimat yang dilontarkan suaminya.

“Meskipun pernikahan ini adalah atas keinginan orangtuaku, tapi aku telah berusaha menjadi istri yang baik bagimu. Apapun yang kamu suruh selalu kucoba melakukannya, dan apapun yang kamu larang selalu pula kucoba meninggalkannya. Bahkan, aku tak pernah membantah apapun yang kamu katakan, meski kadang aku sangat ingin melakukan itu. Bagiku yang terpenting adalah keridhoanmu dan keutuhan pernikahan kita,” kata Ranti sesaat kemudian. Suaranya terdengar bergetar.

“Aku juga selalu berusaha menjaga perasaanmu, Mas. Berusaha agar kamu tak pernah menaruh curiga, apalagi menuduhku berlaku tak jujur padamu. Aku selalu berusaha untuk itu! Namun saat ini, kamu telah mengatakan semuanya, tentang ketidakpercayaanmu padaku. Dan sungguh itu menyakitkan bagiku!”

Awang melirik wajah istrinya yang mulai terlihat basah oleh airmata. Biasanya, tiap kali melihat Ranti menangis, ia selalu bersegera memeluknya dan menghapus airmata itu dari pipi istrinya. Tapi entah kenapa kali ini ia hanya diam saja. Hatinya terasa berat untuk mendekat. Ia pun tak tahu apakah ini hanya ego pribadinya sebagai lelaki atau memang ada sesuatu yang diyakini oleh hatinya. Awang sendiri sangat bingung.

“Jadi, sebelum keadaan kita semakin runyam, mungkin ada baiknya kita saling menenangkan diri untuk berpikir jernih, apakah pernikahan ini akan kita teruskan atau… akan berakhir sampai di sini!” Kalimat terakhir itu diucapkan Ranti di antara isaknya, sebelum akhirnya ia bangkit dan beranjak menuju kamar.

Awang termangu. Lagi-lagi ia hanya bisa menatap kepergian istrinya dalam diam, tanpa sedikitpun usaha untuk menyusulnya. Sungguh, suasana seperti ini sangat tidak disukainya. Tapi entah kenapa pula, ia hanya bisa diam dan membiarkan keadaan itu berlalu begitu saja.

@@@

Sudah dua hari Ranti pamit ke rumah orangtuanya di Bogor. Meninggalkan Awang seorang diri di rumah mereka yang mungil. Dan bagi Awang, ini adalah pengalaman teramat menyesakkan seumur hidupnya. Selama setahun ini ia telah terbiasa dengan keberadaan Ranti. Terbiasa dengan senyum manisnya, gelak candanya, juga segala perhatiannya.

Ia bahkan telah terbiasa dengan kecerewetan Ranti jika melihatnya telat makan atau kurang istirahat. Dan yang terpenting lagi, Ranti tak pernah mengeluh atau berwajah kecut atas gajinya yang tak seberapa, dan ia selalu tersenyum optimis menerima keadaan mereka yang memang masih sangat sederhana.

Ranti, perempuan itu kini sudah tak ada. Dan tiba-tiba Awang jadi begitu merindukannya. Rumah mungil mereka terasa sangat sepi tanpa kehadiran Ranti. “Apakah aku memang terlalu egois? Hanya karena sepotong kata cinta itu aku harus kehilangan segala kebahagiaanku di rumah ini,” bisik hatinya bernada sesal.

Semakin ia berpikir, semakin Awang yakin bahwa dirinyalah yang terlalu berlebihan. Tidak seharusnya ia menghakimi Ranti seperti kemarin itu. Mungkin juga komentar seorang temannya benar, bahwa bisa jadi Ranti merasa risih mengucapkan kata-kata itu karena tidak terbiasa.

“Kurasa aku terlalu mendiktenya, harus begini, harus begitu,” bisiknya lagi sambil menarik napas panjang. Bayang-bayang Ranti dengan wajah manis dan senyum tulusnya itu terus memutari kepala Awang. Ternyata kini ia benar-benar sadar bahwa hatinya telah terisi penuh oleh sosok perempuan itu. Ia memang teramat mencintai Ranti!

@@@

Ranti tertegun melihat sosok di hadapannya itu. Awang telah berdiri manis di depan pintu, menatapnya penuh rindu. “Maafkan aku, Sayang. Aku memang salah, aku terlalu egois dan menuduhmu yang tidak-tidak. Maafkan aku ya, Ran!” Awang meraih tangan Ranti dan menciumnya lembut.

Ranti masih tertegun dalam diam. Semua yang hendak dikatakannya tiba-tiba menguap entah kemana. Sikap Awang yang sungguh-sungguh menyesal itu telah menelan tekadnya untuk mengatakan semuanya secara jujur.

“Rumah kita terasa sangat sepi tanpa dirimu. Kamu benar, sepotong kata cinta itu tak ada artinya dibandingkan kehadiranmu di sampingku. Seharusnya aku tidak tersugesti oleh kata-kata klise itu, tapi lebih melihat perhatian dan sikapmu yang begitu tulus padaku selama ini. Sungguh, aku menyesal sekali…” Awang menatap mata Ranti yang berkaca-kaca.

“Tapi Mas, aku sebenarnya ingin mengatakan…”

“Sssttt…” Awang menempelkan telunjuknya di bibir Ranti. “Kamu tidak perlu mengatakan apa-apa selain pemberian maaf atas segala kesalahanku. Kamu mau kan memaafkan suamimu yang bodoh ini?”

Ranti kembali tertegun, menatap wajah suaminya dengan perasaan tak menentu. Ia sedang berusaha untuk jujur, seperti yang diinginkan suaminya, tapi keadaan yang tak terduga ini telah mengacaukan rencananya. Ia jadi tak tahu harus berbuat apa.

“Kamu tidak mau memaafkan aku?” ulang Awang berharap.

“Eh, bukan begitu, Mas. Maksudku, tidak ada yang perlu dimaafkan. Ini hanya sebuah kesalahpahaman,” jawab Ranti terbata.

“Tidak! Ini kesalahanku. Kamu harus memaafkan aku. Please…”

“Lebih baik kita masuk dulu. Kita bicara di dalam saja,” ajak Ranti sambil menggandeng tangan suaminya masuk ke rumah. “Oya, kamu mau minum apa, Mas?”

“Aku tidak haus, aku hanya ingin maaf darimu,” jawab Awang tersenyum sambil duduk di ruang tamu.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan buatkan es jeruk kesukaanmu. Tunggu sebentar, ya!” Ranti bangkit sambil balas tersenyum. Perlahan ia melangkah menuju dapur, mengambil gelas, jeruk peras dan toples tempat gula. Namun sungguh pikirannya tidak tertuju pada benda-benda itu, melainkan melayang pada rencananya semalam. Rencana untuk berkata jujur pada suaminya, kenapa ia selalu menolak mengucapkan sepotong kata cinta itu.

Ia akan ceritakan sejujurnya bahwa sepotong kata cinta yang ia miliki telah lama berlalu, dibawa oleh satu sosok yang pernah hadir pada masa lalunya. Sosok itulah satu-satunya yang ia cintai selama ini, bahkan setelah sosok itu meninggalkannya tiga tahun lalu, ia masih saja menguasai segenap rasa cinta yang ada di hati Ranti. Sosok yang telah menghianatinya, dan menikah dengan gadis lain.

Itulah sebabnya kenapa Ranti tak pernah mau mengucapkan sepotong kata cinta yang diminta Awang. Kalau hanya sekadar mengucapkan kata cinta, itu sangat mudah baginya. Namun adakah arti sebuah kata-kata yang tidak lahir dari kedalaman hati? Ia pun tak ingin cintanya terhadap Awang tumbuh atas dasar pelarian dan sakit hati pada sosok lelaki dari masa lalunya itu. Tidak! Ranti ingin mencintai Awang dengan setulus hati, cinta yang lahir dari sebuah kejujuran dan keikhlasan.

Sungguh aku tak ingin membohongimu, Mas, meski untuk sekadar menyenangkan hatimu. Bagiku, itu tetap sebuah kebohongan. Aku sayang padamu, bahkan sangat menyayangimu. Dan aku tak ingin membohongi orang yang kusayangi. Hati Ranti terus berbisik sambil mengaduk air jeruk di hadapannya.

Tapi seperti yang pernah dikatakan suaminya itu, memang ada perbedaan yang sulit diungkapkan antara cinta dan sayang. Ada getar yang berbeda, dan itu sulit untuk diuraikan. Ranti juga sadar, tidak layak baginya menyimpan cinta itu di tengah kebersamaannya dengan Awang. Tapi adakah manusia yang sanggup mengubah perasaannya seperti membalikkan telapak tangan? Sudah lama Ranti ingin mengubur rasa cintanya seiring dengan kepergian lelaki dari masa lalunya itu, namun ternyata tidak mudah.

“Pantas lama sekali, ternyata kamu melamun di sini. Apa yang kamu pikirkan, Sayang?” Tiba-tiba Awang sudah berdiri di sampingnya.

Ranti terkesiap. Untuk beberapa detik ia hanya tertegun menatap wajah suaminya yang tengah tersenyum itu. Wajah yang terlihat polos dan sedikit jenaka. Wajah yang telah setahun menemani hari-harinya, yang selalu menghadiahinya senyum penuh cinta. Sungguh, ia selalu merasa damai di samping Awang, meski ia belum bisa mencintainya selayak yang diharapkan.

Hanya satu yang kini semakin diyakininya, bahwa suatu saat kelak, cintanya hanya akan menjadi milik suaminya seorang. Cinta yang paling tulus. Karena itulah yang layak diterima oleh lelaki seperti Awang, lelaki yang telah memberinya cinta paling dalam. Dan jika saat itu tiba, ia dengan sepenuh hati akan berkata; Aku mencintaimu, Mas. Sangat mencintaimu!

“Aku sudah berjanji sebelum berangkat ke sini, bahwa aku tak kan pernah memintamu mengucapkan sepotong kata cinta itu lagi. Tapi aku lah yang akan selalu menghujanimu dengan ratusan bahkan ribuan kata cinta. Sebab yang terpenting bagiku kini adalah, kamu tetap ada di hatiku!” Awang semakin melebarkan senyumnya.

Ranti kian tertegun, namun beberapa detik kemudian ia sudah menghambur, memeluk suaminya erat. Tangisnya pun tumpah di dada Awang. “Maafkan aku, Mas! Percayalah padaku… tetaplah percaya padaku! Aku mohon…”

Awang tersenyum lembut, “Seperti katamu, tidak ada yang perlu dimaafkan. Bahkan sekalipun kamu benar-benar belum bisa mencintaiku, kamu tetap tak perlu minta maaf, Ranti. Aku punya cukup banyak waktu untuk menunggu, sampai kamu yakin bahwa kamu benar-benar  mencintaiku.”

Ranti pun kian tergugu. (V)

Note: Cerpen ini sudah dimuat dalam buku antologi Sepotong Kata Cinta

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak sejak tahun 2002 dengan cerbung berjudul Putri Kejawen. Media yang pernah menulis karyanya seperti Majalah Kartini, Paras, Ummi, Suara Pembaruan, Warta Kota, dan juga koran daerah. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku.


2 thoughts on “Sepotong Kata Cinta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *