Soft Selling Para Buzzer

Nih buat para buzzer!

Gimana rasanya ketika nge-buzz sebuah produk lalu ada yang bilang cara promosimu garing, kasar, enggak kreatif dan enggak sensitif? Intinya enggak soft selling. Sakitnya tuh di sini kan, hehehe…

Jika sudah begitu, saatnya kamu buka mata buka telinga. Belajar mengamati sekitar. Jangan cuma sibuk nyari peluang job atau sibuk baca katalog untuk nge-review produk. Kamu sudah harus belajar mengasah the sense of taste kamu karena kamu sudah memasuki wilayah digital marketing. Disebabkan mediamu bersifat digital, maka sudah selayaknya kamu mengasah kemampuan menulis dengan baik, mengolah kalimat dan mengutak-atik kata perkata.

Selain itu, coba deh cari hal-hal unik tentang produk yang kamu dengungkan. Oya, sudah tahu kan, nge-buzz itu artinya ‘mendengungkan’? 😄 Dengan mengetahui banyak informasi tentang produk tersebut maka soft selling akan lebih mudah diterapkan.

Soft selling itu bukan berarti kamu enggak boleh membahas tentang produk tersebut secara terang-terangan. Bukan berarti kamu harus melulu menceritakan hal lain terlebih dahulu, baru ending-nya menyebut nama produknya. Dalam soft selling, kasarnya yang enggak boleh itu adalah mengatakan, “Saya jualan nih, ayo beli!”

Untuk soft selling itu kamu hanya perlu membuat pembaca enggak sadar kalau kamu lagi jualan atau promosi meskipun kamu bercerita panjang lebar tentang produk tersebut. Minimal enggak merasa kalo mereka lagi dicekokin sebuah produk secara paksa.

Kita kasih contoh ya…

Misalnya produk XL yang lagi rame didengungkan para para buzzer belakangan ini.

Jujur, XL punya kesan tersendiri bagi saya. Ketika gempa dahsyat melanda kota Padang tahun 2009 lalu, saya merasa sangat shock. Ada ribuan korban bergelimpangan di sana. Bagaimana enggak shock para perantau kayak saya enggak bisa menghubungi keluarga mereka yang di Padang karena jaringan telepon rusak berat. Listrik padam merata. Hujan badai pun melanda. Lengkap sekali penderitaan mereka.

Tiba-tiba di hari kedua kakak saya yang di kampung menelepon dari nomor yang baru. Dengan nada yang tak seperti biasanya. Dia bercerita tentang kondisi di sana. “Semua rusak parah, gempa ini sangat mengerikan! Gempanya tak hanya membuat oleng tapi juga seakan menarik dan mendorong kita hingga terjatuh. Tiap kali kita bangun berdiri, gempa kembali menarik dan menyentak tubuh kita hingga jatuh. Benar-benar rasa kiamat! Jadi untuk sementara kalau mau menelepon ke nomor ini aja ya, karena semua jaringan telepon mati, hanya XL yang bisa.”

Itu real story yang sudah sangat menggambarkan betapa kerennya XL di mata saya waktu itu. XL seperti dewa penolong bagi kami untuk bisa berkomunikasi, berbagi kecemasan dan harapan. Makanya, saya tetap pakai XL hingga kini. Para buzzer bisa cari cerita lain lagi dan diolah dengan bahasa lebih bagus lagi.

(((Wow, saya dibayar berapa sama XL untuk menceritakan ini?))) 😛

Menceritakan kisah di atas tentu berbeda dengan menceritakan kematian seorang selebritis dengan jaringan XL yang jadi bahan bully-an itu ya. Karena tanpa XL pun beritanya ada di mana-mana. Jadi jangan dipaksakan menghubungkan sesuatu yang sulit untuk dihubungkan karena justru jatuhnya jadi hard selling.

Nah, cerita-cerita unik tentang sebuah produk pasti ada dan bisa kamu kemas sedemikian rupa. Gak perlu takut ketika kamu membahas produkmu secara terang-terangan lalu ada yang komen enggak enak di bawahnya. Biarin aja, bahkan kalaupun ada yang mempromosikan produk tandingan di bagian komentar, woles aja. Itu tandanya lapakmu laku untuk jualan dan itu lebih bagus ketimbang statusmu sepi like dan komentar. Buzzer kok lapaknya sepi, kan gak lucu 😄

Jangan Sibuk Menyaring Komentar!

Yang sering saya perhatikan adalah para buzzer sibuk memilih dan memilah komentator di postingannya. Yang komentarnya berlawanan dimarahi. Padahal ketika kita berpromosi di media sosial maka kamu harus siap dengan segala macam komentar baik dari sesama buzzer atau non buzzer. Kamu enggak mungkin mengingatkan semua orang, “Yang buzzer dilarang komentar, yang non buzzer harus komen yang baik!”

Justru saat ada yang berkomentar menjatuhkan atau apalah yang kamu enggak sukai, itulah kesempatan kamu menjelaskan. Itulah peluang untuk lebih mempromosikan produkmu secara detail dan terbuka. Kecuali kalau kamu enggak menguasai produk itu secara mendetail maka wajar kamu kelimpungan hehe… Di sini terasa pentingnya product knowledge untuk para buzzer.

Tapi intinya, dunia marketing enggak kenal istilah baperan, hanya gara-gara sebuah produk lalu jadi musuhan dengan sesama buzzer. Enggak perlu sampai segitunya, brand tak akan peduli itu. Yang dipedulilkan brand adalah kamu menjalankan apa yang mereka minta dan kamu dibayar! Brand lain adalah urusan buzzer lain pula, jangan semua dipikirkan. Nanti hidup makin rumit setelah direcoki oleh berbagai tagihan 😀

Baca juga: Buzzer Juga Manusia

Nah, agar obrolan ini tidak melebar kemana-mana maka satu pesan saya, apapun produk yang kamu promosikan maka kewajibanmu adalah mencari tahu sebanyak-banyaknya informasi mengenai produk tersebut. Termasuk info-info unik seperti yang saya ceritakan di atas tadi. Sekarang kan eranya berpromosi dengan melibatkan emosi, maka carilah info-info produk yang ada unsur emosionalnya, jika tidak ada maka bangunlah emosinya melalui tulisan kamu.

Jadi ujung-ujungnya tetap ya, kita harus belajar terus tentang cara membuat kalimat promosi yang menarik.

Yuk, learning together!

 

Salam Marketing!

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


6 thoughts on “Soft Selling Para Buzzer

  1. Anisah

    Wah,keren,pagi menjelang siang aku dapet ilmu dari mba novi. Memang yang nelibatkan emosi dan pengalaman pribadi akan lebih sampai ke pembaca ya mba

    Reply
  2. Nur Terbit

    Wah keren nih artikelnya Bunda Novi…

    Di dunia jurnalis, soft selling ini sering dipakai untuk mengelabui divisi iklan di kantor, agar penulisnya aman gak disodori formulir pemasangan iklan ke narasumber hehehe…Jadi jika tulisan menghasilkan dampak ekonomi, yang menikmati penulisnya saja.

    Sementara hard selling, biasa berupa tulisan advetorial (pariwara) yang sangat kental promosinya. Dampak ekonomi dinikmati kantor (kontribusi dari bagian iklan), sedang penulis terima komisi iklan dari penulisan pariwara.

    Saya terinspirasi dari artikel ini, sungguh…..salam

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *