Sosok Secantik Peri

Ana menatap gadis yang lewat di jalan depan rumahnya dengan mata tak berkedip. Itukah gadis yang telah menjadi pergunjingan ibu-ibu di komplek ini? Seorang gadis berbaju putih dengan padanan rok panjang kembang-kembang. Sayang, ia tak melihat jelas wajah gadis itu karena jalannya yang agak cepat. Mukanya juga ditekuk. Ana mengerutkan kening, dan seperti tak yakin diburunya langkah menuju pagar, menguntit gadis itu dengan pandangan penasaran.

“Mengintip siapa, Bu Ana? Pasti gadis ujung komplek itu, ya?” teguran Bu Atin yang tinggal di sebelah rumahnya membuat Ana terperanjat. Ia hanya menjawab dengan senyum salah tingkah.

“Ya itu dia gadis yang telah membuat gelisah ibu-ibu di komplek ini. Yang membuat para suami mereka berubah ganjen!” Suara Bu Atin terdengar kesal. “Hm, kalau begitu, rasanya mendingan jadi janda seperti saya ini!”

“Ah, Bu Fatma ini bisa saja.” Ana tertawa kecil. “Tapi… masa sih, Bu, gadis seperti itu harus dikhawatirkan? Sepertinya dia gadis yang baik dan sopan. Pakaiannya juga cukup tertutup, jauh dari kesan penggoda. Mungkin ibu-ibu itu saja yang terlalu cemas.”

“Aduh, Bu Ana ini! Pasti Bu Ana belum mengenal gadis itu secara dekat. Coba deh nanti main ke rumahnya, atau ajak ngobrol di rumah Bu Ana. Baru Bu Ana akan percaya bahwa gadis itu sangat membahayakan bagi para suami.” Bu Atin berkata dengan mimik meyakinkan. “Hati-hati saja, Bu Ana ini kan pakai kerudung.”

 “Lho, memang kenapa kalau saya pakai kerudung, Bu?” Ana mengerutkan kening.

Bu Atin tersenyum dengan mata mengerling. “Yah, siapa tahu saja Pak Sigit bosan melihat wanita bejilbab, dan iseng melirik wanita lain yang agak berbeda. Mmm, semacam penyegaran, begitu. Dan itu artinya rival berat, Bu!”

Ana terdiam, dalam hati ia tersinggung juga mendengar kata-kata Bu Atin itu. Tapi ia tak mau ribut hanya karena masalah tersebut.

“Saya juga tidak bilang kalau gadis itu seperti wanita penggoda. Tapi dia benar-benar sangat menggoda! Ah, pokoknya Bu Ana lihat saja sendiri, seperti apa gadis itu. Setelah itu baru Bu Ana boleh membantah kata-kata saya.” Bu Atin tersenyum penuh arti. Ana menarik napas. Ia jadi berpikir, Bu Atin yang janda saja sebegitu sibuknya, apalagi ibu-ibu lain yang punya suami. Seperti apa ya, mereka menyikapi gadis itu?

@@@

“Mas,” tegur Ana sambil mendekati suaminya yang tengah asyik di depan komputer.

“Hm.” Lelaki yang telah menikahinya sejak lima tahun lalu itu tetap asyik dengan keyboard-nya.

“Kenapa ya, Mas, kok ibu-ibu tetangga kita sangat cemburu pada gadis yang tinggal di ujung kompleks itu? Padahal menurut saya dia gadis yang baik, jauh dari tipe wanita penggoda. Pakaiannya juga sopan.”

Sigit tersenyum kecil. “Kamu ini bagaimana, sih? Memangnya laki-laki cuma bisa tergoda pada wanita-wanita penggoda? Ya, enggak lah, An. Banyak hal yang bisa membuat lelaki tergoda pada seorang wanita.”

Deg! Ana mengerutkan alis dengan jantung berdebar halus.

“Sofie itu memang cantik, kok. Sangat cantik malah! Wajar kalau banyak para lelaki di komplek ini tergoda padanya.” Kalimat suaminya itu terasa menyengat telinga Ana. Belum pernah ia mendengar suaminya memuji seorang wanita secara terang-terangan seperti kali ini. Apalagi yang dipuji itu adalah fisiknya.

“Apalagi, dia juga ramah. Dokter lagi. Terus, dia juga aktif membantu Bu Haji Ida mengajar anak-anak komplek mengaji di mesjid. Padahal, dia belum memaki kerudung seperti kamu. Kalau dia memakai kerudung dalam kesehariannya, wah… sempurna sudah! Coba, siapa yang tidak akan tergoda pada gadis sehebat itu?”

Ana mendelik dengan napas agak sesak. Kali ini hatinya yang tersengat. Jangan-jangan suaminya juga mulai tergoda. Kalau tidak, untuk apa ia memuji gadis itu sedemikian rupa? Bahkan ia juga tahu nama gadis itu. Sedangkan Ana sendiri belum tahu sama sekali. Ah, hatinya mulai tidak tenang.

 “Kok Mas Sigit bisa tahu banyak sih tentang dia? Mulai ikut-ikutan kayak suami-suami tetangga itu, ya? Segitu perhatiannya pada gadis itu!” ketus Ana sambil membuang muka. Sejurus kemudian ia membalik, melangkah ke kamar Ghozi, putra mereka yang kini berusia empat tahun. Sigit geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecil. Ia kembali menekuni layar monitor di depannya.

@@@

 Ana merasa ketenangannya kini mulai terusik, seperti halnya para istri  yang lain. Sungguh, ia ingin sekali datang ke rumah gadis bernama Sofie itu. Ia ingin melihat langsung, seperti apa kecantikannya, hingga bisa membuat para lelaki dan para suami di kompleks ini jadi rajin olah raga tiap Minggu pagi, hanya agar bisa bertegur sapa dengan Sofie. Gadis itu konon memang tiap pagi selalu terlihat asyik membersihkan taman mungil di depan rumahnya.

Anehnya lagi, tiba-tiba para kaum Adam itu juga jadi berubah alim. Mereka selalu shalat Magrib di mesjid komplek, karena setiap selesai shalat Magrib, gadis bernama Sofie itu selalu membantu Bu Haji Ida, mengajari anak-anak kompleks membaca al-Quran. Anehnya lagi, tak jarang para kaum Adam itu betah duduk di mesjid menunggu waktu Isya datang.

Wuih! Ana benar-benar tidak tahan lagi. Suaminya termasuk yang paling rajin shalat berjamaah ke mesjid itu. Tapi melarang suaminya shalat berjamaah di mesjid tentulah sesuatu yang mustahil. Toh, jauh sebelum gadis itu muncul di kompleks ini suaminya juga sudah rajin shalat ke mesjid. Tidak seperti suami-suami yang lain, mesjid tiba-tiba jadi tempat favorit mereka sejak kedatangan Sofie. Itupun hanya pada waktu shalat Magrib dan Isya saja.

“Mas Sigit shalat Subuh tetap ke mesjid kok, tidak hanya Magrib dan Isya saja,” gumam Ana menghibur diri. Uh, ia jadi benci, kenapa hatinya harus mencurigai suaminya sendiri gara-gara gadis itu?

@@@

“Bu Ana mau ke rumah gadis itu?” tanya Bu Ratih saat mereka sedang memilih sayuran di pinggir jalan.

“Iya, silaturrahmi saja, Bu. Saya kan belum sempat berkenalan langsung dengannya.”

“Wah, nanti kalau Bu Ana sudah melihatnya dari dekat, pasti Bu Ana  tidak akan menyangsikan kata-kata kami lagi,” ujar Bu Joko bersemangat.

“Melihat siapa, Bu Joko?” Bang Mamat, si penjual sayur ikut nimbrung. “Pasti Mbak Sofie, ya?”

“Lho? Bang Mamat kenal juga?” Bu Ratih membelalakkan mata.

“Ya kenal toh, Bu. Wong dia tiap hari Sabtu dan Minggu pasti belanja sayur sama saya kok. Waduh, Mbak Sofie itu orangnya memang cuaaantik tenan! Tidak dibayarpun saya betah kok memandangi seharian tanpa berkedip,” sahut Bang Mamat penuh kekaguman.

“Idih, Bang Mamat ini! Ngomong cantik saja kok pakai cuaaantik. Uh, keganjenan!” ujar Bu Joko mencibir. Bang Mamat malah tertawa.

“Tapi betul lho, Bu Ana. Bu Ana kan selama ini lebih sering mengurung diri di rumah, jarang mau jalan-jalan keluar. Jadi wajar kalau tidak percaya pada kami,” timpal Bu Ratih lagi. Ana hanya tersenyum jengah sambil mengangguk. Ah, sepertinya ia semakin penasaran saja. Seperti apa sih gadis itu?

@@@

“Assalamu’alaikum.”

Tak terdengar sahutan. Tapi ada suara langkah kaki mendekat. Ana jadi berdebar. Dan ketika pintu terkuak…

“Wa’alaikum salam.” Seorang gadis muncul sambil tersenyum ramah. Rambutnya tergerai ikal mayang, menutupi sebagian bahunya. Ana tertegun menatapnya. Subhanallah! Kini ia baru percaya pada apa yang didengarnya selama ini. Gadis itu… luar biasa cantiknya! Ana seperti melihat seorang peri menjelma di hadapannya.

“Maaf, Ibu siapa, ya? Nama saya Sofie.” Gadis itu mengulurkan tangannya yang disambut Ana dengan agak gugup. Ah, kenapa ia jadi salah tingkah begini? Apakah karena senyum Sofie yang semanis madu itu? Atau karena suaranya yang bak buluh perindu? Atau karena jemarinya yang putih dan terasa sangat halus seperti pualam? Atau…

“Ehm, saya Bu Ana. Yang tinggal di rumah nomor tiga,” jawab Ana kemudian.

“Oh, maafkan jika saya belum sempat mampir ke rumah Bu Ana untuk berkenalan. Jadinya, malah Bu Ana yang datang ke sini. Oya, mari masuk, Bu!” Sofie mempersilakan masuk. Ana mengikuti sambil tak lupa mengamati ruang tamunya yang rapi dan bersih.

“Silakan duduk, Bu Ana. Saya ambilkan minum sebentar, ya,” ujar Sofie tanpa melepas senyum madunya. Ana hanya mengangguk, masih dengan sikap gugup. Tak lama, sosok secantik peri itu sudah kembali ke ruang tamu dengan  dua gelas air jeruk.

“Diminum, Bu Ana. Maaf kalau agak lama.”

Ana tersenyum. “Terima kasih, Dik Sofie. Jadi merepotkan.”

“Tidak. Saya malah senang ada yang mau main ke sini.” Sofie berkata tulus.

“Maaf, Dik Sofie tinggal sendiri di rumah ini?” tanya Ana hati-hati. Sofie semakin memekarkan senyumnya, tidak ada gurat tersinggung di wajahnya.

“Iya. Tapi hari Sabtu dan Minggu suami saya selalu ada di sini.”

“Suami? Dik Sofie sudah bersuami?” Ana melongo tak percaya.

“Memangnya kenapa kalau saya sudah bersuami, Bu? Apakah tidak pantas?” Sofie menatap Ana jenaka.

“Eh, bukan. Bukan begitu. Tapi… Dik Sofie ini terlihat masih seperti seorang gadis.” Ana tergagap.

“Oya?” Mata yang bak bintang kejora itu membulat indah. Duh, Ana menelan ludah. Ia seperti melihat Ayu Azhari. Oh, bukan! Dia lebih cantik dari artis itu. Mungkin tepatnya mirip Thalia, bintang telenovela yang terkenal itu. Ah, juga bukan! Sofie masih lebih menarik untuk ditatap.

“Tapi saya maklum, jika Bu Ana atau ibu-ibu yang lain menyangka begitu. Sebab saya masih belum sempat memperkenalkan suami saya pada warga di komplek ini. Maklum, suami saya bertugas di luar kota. Dia juga dokter,” kata Sofie menjelaskan.

Ana menyimak serius.

“Suami saya selalu datang Sabtu sore dan biasanya langsung istirahat. Minggu malam dia sudah harus kembali ke tempat tugasnya. Jadi waktunya memang sangat sempit. Mungkin lain kali akan saya perkenalkan pada Bu Ana dan ibu-ibu yang lain.”

Ana mengangguk-angguk mengerti. “Maaf, kenapa Dik Sofie tidak tinggal di tempat yang sama dengan suami Dik Sofie? Bisa saja kan, Dik Sofie pindah ke sana, atau suaminya yang pindah ke sini.”

Sofie kembali tersenyum lembut. “Saya sedang belajar tinggal jauh dari dia, Bu. Sebab suatu saat nanti, ini pun pasti akan terjadi. Dan saya ingin siap menghadapinya.”

Ana mengerutkan alis, tak mengerti.

“Kelak, suami saya pasti akan menikah lagi dengan wanita lain. Dan saya harus bisa menerimanya dengan ikhlas, Bu.” Sosok secantik peri itu tetap terlihat tenang mengucapkan kalimat paling mengerikan itu. Wanita mana yang tidak ngeri membayangkan suaminya menikah lagi? Sementara jantung Ana mulai berdegup tak karuan. Sejenak ruangan itu terasa hening. Ana ingin bertanya, kenapa itu bisa terjadi? Belum cukupkah bagi suaminya memiliki istri secantik ini? Apa yang kurang padanya? Dia nyaris sempurna!

“Saya tidak bisa punya anak, Bu. Saya mandul.” Sofie seperti menebak isi pikiran Ana. “Lalu pantaskah saya menghalang-halangi suami saya untuk menikah lagi? Tidak, kan? Dan saya rasa, Bu Ana tentu lebih tahu hukumnya menurut agama, bahwa dalam posisi ini saya tidak boleh egois. Apalagi kami sudah lima tahun menikah dan secara medis saya sudah terbukti tidak bisa punya anak.”

Ana tertegun. Mandul? Jadi inikah kekurangan Sofie di samping segala kelebihannya itu? Ternyata di dunia ini memang tak ada yang sempurna. Tapi ia begitu tegar. Ketegaran yang membuat kekurangannya semakin tertutupi. Sementara ia sendiri? Jangankan untuk bersikap setegar itu, membayangkan suaminya melirik wanita lain saja hatinya sudah panas bukan main.

“Bu Ana,” Suara lembut itu mengejutkannya. Ana tersenyum jengah, semakin jengah ketika Sofie menatapnya lekat-lekat.

“Suami saya… juga pernah meminta saya memakai kerudung. Waktu itu saya tidak menanggapinya. Tapi belakangan ini saya jadi berpikir, jika hal itu memang bisa membuatnya bahagia, kenapa saya tidak melakukannya? Siapa tahu, ini akan menjadi pemberian paling berharga dari saya buat dia, sebab saya sudah tidak mampu memberikan yang lebih dari itu.”

Ana semakin tertegun.

“Dia mengatakan bahwa dengan memakai kerudung, saya pasti akan semakin cantik. Dan saya, ingin terlihat lebih cantik lagi bagi suami saya, Bu. Cantik tak hanya di mata dia, tapi juga di hatinya. Semoga itu akan mengobati sedikit kekecewaannya atas kekurangan saya.” Mata kejoranya tampak berbinar-binar saat mengucapkan kalimat itu. Sementara Ana semakin tak mampu berkata-kata.

Kalau dia memakai kerudung dalam kesehariannya, wah… sempurna sudah! Kalimat yang diucapkan Sigit tempo hari terngiang lagi, membuat Ana jadi gelisah sendiri.

@@@

“Bu Ana, saya mau pamit.” Sosok secantik peri itu berdiri anggun di depan pagar. Ana tersentak. Pamit?

“Suami saya khawatir keberadaan saya di komplek ini akan menjadi sumber fitnah karena dia jarang ada di rumah. Jadi… saya diminta untuk tinggal di rumah orang tua saya saja di Menteng. Dari sana saya juga lebih dekat ke tempat kerja,” jelas Sofie sambil tersenyum lembut.

“Oya? Aduh, kita masuk saja dulu Dik Sofie, biar enak ngobrolnya,” kata Ana sambil membuka pintu pagar lebih lebar.

“Tidak usah, Bu. Terima kasih. Suami saya sudah menunggu di rumah dan pagi ini juga saya harus segera pindah. Barang-barang sudah dikepak kok,” tolak Sofie halus. Ana termangu tak percaya. Ia masih tertegun di depan pagar saat tubuh tinggi semampai itu berlalu dengan gerakannya yang memang… indah!

Ada kelegaan membias di hatinya menyadari sebentar lagi sosok secantik peri itu sudah tak ada lagi di komplek ini. Tapi ia segera menepis perasaan yang tidak patut itu. Tidak seharusnya ia menyimpan rasa was-was pada wanita sebaik Sofie.  Wanita yang mungkin tidak lama lagi harus menerima kenyataan pahit atas pernikahan suaminya. Padahal sebelumnya ia juga sudah harus menelan kepahitan lain atas kemandulannya.

Ana menarik napas panjang. Satu doa ia titipkan dalam ayunan langkah wanita itu. Semoga niatnya untuk memakai kerudung segera terwujud, hingga ia benar-benar menjadi wanita paling cantik di hati suaminya meskipun kelak akan ada wanita lain di antara mereka. (NoS)

Baca juga: Bayangan Yang Setia

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


4 thoughts on “Sosok Secantik Peri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *