Srikandi Tak Butuh Bunga

SrikandiNamaku Cakra. Orang-orang bilang, nama itu sangat cocok dengan tampangku yang lumayan keren. Selama ini, aku merasa cukup yakin dan puas dengan keadaanku yang termasuk beruntung itu. Setidaknya, aku tidak semalang Gilang, sahabatku yang juga punya tampang keren tapi jarang dilirik para gadis. Soalnya dia terkenal tengil dan mata keranjang. Tidak seperti aku, tak hanya sering dilirik para gadis, tapi juga sering dikirimi macam-macam hadiah. Meskipun demikian, aku dan Gilang tetap bersahabat akrab.

Jujur saja, aku sangat bangga pada diriku dan juga sangat percaya diri. Tapi itu dulu, sebelum aku mengenalnya. Sebelum aku melihat binar indah di mata seorang gadis bernama Srikandi. Gadis berkerudung yang kukenal sejak beberapa bulan yang lalu. Ya, semuanya tiba-tiba saja berubah sejak senyum manis Srikandi mulai sering mengusik lamunanku. Mendadak aku berubah menjadi pemuda yang minder dan mudah terserang gugup. Tidak. Aku tidak pernah memperlihatkan sikap konyolku itu di depannya. Aku malu. Tapi cukuplah Tuhan yang tahu betapa jantungku berpacu dua kali lipat tiap kali bertemu dengannya.

Sekali lagi, gadis itu bernama Srikandi. Dia adalah seniorku di kelompok pelatihan jurnalistik. Sebuah pelatihan yang kuikuti demi menunjang kelancaran pekerjaanku di sebuah media. Dari sanalah aku mengenalnya. Cara bicaranya yang cerdas sering membuatku terpukau kagum. Senyum dan perhatiannya yang tulus terhadap anggota baru seperti aku, tak jarang membuatku terpana.

Hm, Srikandi memang berbeda. Berbeda dari gadis-gadis impianku selama ini. Aku tidak tahu, bagaimana bisa aku yang berpenampilan funky begini tertarik pada gadis seperti itu? Ataukah… karena Srikandi memiliki pesona lain? Pesona yang mungkin tidak bisa ditangkap mata, namun hanya bisa dirasakan oleh hati. Entahlah. Yang pasti, aku merasa telah menjadi korban pesona seorang Srikandi!

@@@

“Ada yang bisa saya bantu, Cakra?”

Aku terdongak. Sosok itu berdiri di depanku, dengan seukir senyum yang…

“Apakah ada yang salah dari pertanyaan saya?” Ia bertanya sambil mengedikkan bahu, jenaka. Ya ampun! Kali ini aku gagal menutupi kegugupanku hingga tak sepatah kata pun keluar dari tenggorokanku. Aku malah tertegun menatapnya.

“Bagaimana mungkin seorang wartawan hanya bisa bengong ketika ditanya? Bukankah seharusnya dia yang banyak bertanya?” ujar Srikandi lagi, masih dengan senyumnya yang manis. Setelah itu ia beranjak meninggalkanku. Ufff… aku menghembuskan napas, antara lega dan kesal. Lega karena ia telah berlalu dari hadapanku, dan kesal karena kebodohan yang tiba-tiba menyergapku.

Sungguh, aku benar-benar tidak tahu apa yang kini terjadi pada diriku. Apakah aku telah jatuh cinta? O-o, jatuh cinta? Hm, indah sekali kedengarannya. Tapi seumur-umur belum pernah aku jatuh cinta dengan kondisi semalang ini. Bayangkan, aku harus menutupi perasaanku habis-habisan hanya karena ketidak-beranianku untuk berterus-terang. Tidakkah ini malang? Aku juga telah kehilangan rasa percaya diriku akibat cinta yang aneh bin ajaib ini. Sungguh, bagi seorang Cakra ini adalah sebuah kemalangan.

Sebenarnya aku bukanlah pemuda pengecut. Selama ini aku cukup berani mengungkapkan perasaanku pada seorang gadis yang kutaksir. Tapi sekali lagi, Srikandi berbeda! Aku merasa dia terlalu dewasa untukku. Tak hanya karena usianya yang lebih tua beberapa tahun, tapi juga karena sikapnya yang tenang dan tegas. Dia juga terlihat alim. Sementara aku? Ehm, sholat Subuh saja kadang masih bolong-bolong. Tapi… bukankah aku bisa belajar? Aku bisa memperbaiki semua itu jika aku mau. Yang penting aku bisa menjadi bagian dari jiwa Srikandi. Waw!

@@@

“Lu emang nggak berbakat. Menyatakan cinta aja takut!” ledek Gilang sambil tertawa mengejek. Dia memang tengil, jauh lebih parah dibanding aku.

“Untuk menyatakan cinta itu, ada seribu satu cara, Bung!” ujarnya dengan gaya seorang pakar cinta gadungan. “Misalnya, dengan setangkai bunga. Ingat, cukup setangkai saja, biar irit.”

Aku manyun. Teorinya ternyata tak kalah konyol dari penampilannya.

“Atau dengan sebuah puisi. Nggak usah romantis, yang penting menggetarkan perasaan. Atau bisa juga…”
“Masalahnya dia lebih tua dari gue!” potongku cepat.
“Lho? Apanya yang jadi masalah? Umur itu bukan jaminan, yang penting elu suka. Iya, kan? Khadijah aja lebih tua 15 tahun dari Nabi, tapi Nabi lebih mencintainya dibanding istri-istrinya yang lain.”

Aku melongo, kok bisa-bisanya Gilang yang tengil itu bicara demikian? Tumben dia menyebut-nyebut nabi segala.

“Kok bengong? Heran ya, denger gue ngomong hebat?” Ia cengengesan bangga. “Udah deh, Kra! Lu sebenarnya cuma nyari-nyari alasan untuk menutupi sifat pengecut lu, kan?”

“Lu nggak tahu sih, dia itu orangnya alim, Lang. Sementara gue…”

“Lho? Bukannya itu justru bagus? Lu bisa belajar banyak dari dia, dan siapa tahu lu bisa tobat dari dosa-dosa lu yang segunung itu,” komentar Gilang kencang.

“Gila! Elu tuh yang dosanya segunung. Ngatain gue aja lu!”

“Ok, ok! Soalnya gue lihat lu serius banget, Kra. Jangan-jangan lu cuma terobsesi aja, bukannya jatuh cinta beneran.”

“Gue yakin, Lang! Yakin! Bahkan jika perlu, gue akan langsung lamar dia kalau dia mau nerima gue. Toh gue udah kerja, usia gue juga udah cukup. Masalahnya kan…”

“Masalahnya, elu pengecut!” potong Gilang cepat. “Gue aja yang belum kerja berani ngelamar cewek buat jadi pacar gue. Sementara elu yang udah segitu seriusnya malah takut. Payah, lu!”

“Emangnya lu habis ngelamar siapa? Ada juga cewek yang mau?” Aku menoleh heran.

“Jangan anggap enteng, Bung! Tengil-tengil gini, gue masih banyak yang mau, tau! Ntar gue kenalin ke elu cewek baru gue. Pasti lu kaget setengah mampus. Pokoknya yang ini lain deh, gue jamin lu bengong abis!” Gilang berpromosi.

“Siapa namanya?” tanyaku ingin tahu. Soalnya sudah lama Gilang tidak cerita tentang pacar-pacarnya. Belakangan ini kayaknya dia sering ditolak.

“Rahasia, dong! Mau tau aja lu. Ntar lu samber lagi,” kilahnya sambil tersenyum menang. “Lu kan selalu sirik ngeliat gue dapet gandengan bening. Maka kali ini jangan mimpi deh lu bakal bisa ngerebut cewek gue.”

“Terserah deh lu mau ngomong apa.” Aku melengos sebal. Perasaan aku belum pernah tertarik untuk merebut pacar-pacarnya. Bukan apa-apa, semua cewek Gilang itu terkesan kampungan. Dan terus-terang saja, seleraku bukan yang jenis begituan.

“Ok deh, gue cabut dulu, ya!” Ia tertawa melihat reaksiku. Dan sebelum beranjak pergi, ia sempat berbisik sambil menepuk pundakku, “Selamat memendam cinta, Bung! Semoga lu nggak kurus!”

@@@

Aku menimang-nimang setangkai bunga tulip di tanganku. Bunga tulip berwarna biru yang akan kuberikan sebagai hadiah untuk Srikandi. Aku tahu dia menyukai warna biru. Bersama bunga ini, akan kusertakan selembar kertas kecil berisi puisi pendek. Hm, diam-diam aku memang melakukan semua saran Gilang minggu lalu. Sungguh, bukan karena kemudian aku merasa usulnya itu baik, tapi karena tidak ada cara lain yang mampir ke otakku.

Bagiku, cara Gilang ini adalah cara kuno. Masa anak muda seperti aku masih menggunakan bunga sebagai ungkapan cinta? Apalagi ditambah puisi-puisi segala. Wah, kalau teman-temanku tahu, pasti mereka akan tertawa setengah mati. Cakra yang terkenal gentle plus funky, tiba-tiba membawa setangkai bunga dan selembar puisi untuk menyatakan cintanya. Alamak! Tapi diam-diam kembali kueja puisi di atas kertas biru muda itu, puisi yang kucontek dari sebuah buku.

Ehm! Boleh juga nih puisi! Setidaknya cukup membuatku seakan menjelma jadi penyair ulung dadakan. Sip lah!

@@@

Kado itu telah siap di tasku. Tinggal menyerahkannya pada Srikandi sore ini. Ufff… dadaku mulai berdebar tidak karuan. Ini hari terakhirku mengikuti pelatihan dan setelah itu aku akan kembali sibuk dengan pekerjaanku. Dan tentunya, aku tidak akan bertemu lagi dengannya seperti biasa. Jadi, hari ini semuanya harus dijalankan dengan baik dan tuntas. Ya, Srikandi harus tahu bahwa aku sungguh-sungguh menyukainya.

“Kata Santi, kamu mencari saya?” Ups! Sosok itu telah berdiri di depanku. Wajahnya tetap ramah seperti biasa. Aku mengangguk, sambil sebisa mungkin mengusir rasa gugupku.

“Ada apa, Cakra? Ada yang bisa saya bantu?” Ia tersenyum sambil berdiri di pintu ruang pelatihan.

“Saya… saya ingin menyerahkan ini,” kataku sambil menyodorkan kotak kado di tanganku. Ia menerimanya dengan alis berkerut. Marahkan dia? Aku jadi kian berdebar.

“Boleh saya lihat isinya?”

Aku mengangguk. Lalu dengan tenang ia membuka tutup kotak itu dan sesaat kemudian alisnya kian berkerut melihat setangkai bunga tergeletak manis di dalamnya. Perlahan ia mengambil secarik kertas yang terselip di bagian pinggir. Membacanya… dan memandangku heran. Jantungku kian berpacu dengan hebatnya. Inikah sejarahnya cintaku ditolak dengan sukses? Terbayang tawa mengejek Gilang di kepalaku jika tahu semua ini.

“Sebentar!” Srikandi seperti teringat sesuatu. Ia lalu merogoh tasnya “Coba lihat ini, persis sama dengan yang kamu berikan.”

Aku tertegun! Setangkai bunga dan selembar kertas berisi puisi juga. Saat membaca nama yang tertera di bagian bawah puisi itu, perutku mendadak terasa mulas. G-I-L-A-N-G. Ini benar-benar gila! Bagaimana ini bisa terjadi? Dari mana sahabatku yang brengsek itu mengenal Srikandi? Kenapa dia tidak pernah cerita? Atau… inikah cewek barunya yang ia katakan minggu lalu itu?

“Dia adalah teman sepupu saya,” ujar Srikandi seperti mengerti kebingunganku.

“Maafkan saya, Kandi. Anggaplah kado dari saya itu tak pernah ada. Atau… anggaplah itu sebagai bentuk persahabatan biasa dari saya,” kataku menunduk, tak berani lagi menatap wajahnya. Semangatku pun seakan terbang entah ke mana. “Sekali lagi, maafkan saya, Kandi. Saya permisi.”

“Tunggu sebentar…!”

Aku menghentikan langkah, kembali membalik menghadapnya. Aku semakin tak berani menatapnya.

“Saya tidak berani menerima cinta seorang pemuda kecuali dengan satu syarat…” Kalimatnya menggantung ragu. Perlahan aku berusaha memandang rautnya yang kali ini terlihat sangat serius.

“Syaratnya… dia juga harus berani melamar saya!”

Aku terhenyak. Melamar?

“Dan Gilang… tidak sanggup memenuhi syarat itu. Untuk saat ini dia hanya bisa menjadi pacar saya. Sementara saya tidak membutuhkan seorang pacar sebagaimana saya tidak membutuhkan bunga-bunga ini. Saya butuh keseriusan dari seseorang yang siap jadi suami saya!”

Apa? Jadi suami Srikandi? Aku kian terhenyak. Dua tangkai bunga di tangan Srikandi tiba-tiba terlihat begitu indah di mataku. Sejenak bayangan Gilang kembali berkelebat. Bayangan raut tengilnya yang sedang patah hati. Pantas sudah beberapa hari ini dia tidak nongol di rumahku.

“Kamu juga takut seperti dia?” Wajah cantik di depanku tersenyum kecil, setengah mengejek. “Kasihan sekali, kalian ternya…”

“Tidak! Aku akan segera datang ke rumahmu. Melamarmu!” Setelah itu aku cepat-cepat membalik dan meninggalkan Srikandi yang mungkin terkejut mendengar kalimatku. Dia pasti tidak menyangka aku akan semantap itu berbicara. Dia pun pasti tidak tahu bahwa memang itulah sebenarnya yang kuinginkan.

Ah, Srikandi… hanya lelaki bodoh yang rela kehilangan dia. Seperti Gilang. Ya, seperti Gilang! Sekarang sahabatku yang tengil itu pasti sadar betapa bodohnya dia. Dan akan merasa semakin bodoh ketika tahu bahwa aku akan segera melamar Srikandi. Sekali lagi, melamar Srikandi! (V)

[/google_font]

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


One thought on “Srikandi Tak Butuh Bunga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *