Subuh di Pantai Losari

pantai-losariPantai Losari, 10 Agustus 1950

Sang Orator itu termangu di depan jendela rumahnya, menatap jauh ke tepi fajar Subuh. Debur ombak pantai Losari seakan jadi perlambang gemuruh di dadanya. Dan ia tak sanggup menepis ketika bayang-bayang silam itu hadir menjemputnya. Bayangan yang kadang mengundang seukir senyuman di bibirnya. Yah… betapa masa silam itu begitu bermakna baginya, begitu penuh warna.

Ia tak kan pernah lupa saat mengaduk-aduk seluruh kitab yang tersimpan dalam lemari Ammi Danau[1] , sebutan untuk gurunya di danau Maninjau sana. Kitab-kitab yang sering ia baca tanpa setahu gurunya itu. Hm…  Ammi Danau sering memarahinya karena hal itu, tapi ia memang keras kepala. Ia tak peduli meskipun sering dimarahi.

Meskipun bandel dalam hal yang satu itu, tapi sang guru tetap menyayanginya. Bahkan ketika Ammi Danau pindah ke Padang Panjang, ia juga mengajak murid kesayangannya itu. Sang guru yang tak lain adalah seorang ulama besar itu tahu betul bahwa muridnya yang satu ini adalah seorang anak yang baik hati, jujur dan suka menolong, meski sedikit keras hati. Ia seorang murid yang cerdas dan kritis.

Ya, itulah saat-saat yang sulit ia lupakan. Masa dimana ia baru saja menyelesaikan pendidikannya di Gauvernement[2]. Ia pun tak kan lupa ketika kelak kemudian hari ia menjadi seorang intelek di negeri kelahirannya. Bahkan ia telah menulis sebuah buku berjudul ah-Himatul Muchtar, yang merupakan bentuk kritikannya terhadap paham Komunis dan pemerintahan Belanda ketika itu. Buku itu pula yang kemudian membuatnya terpaksa berangkat ke Malaya, guna menghindari kejaran Belanda.

Tapi Sang Orator bukanlah orang yang mudah patah semangat. Dengan satu tekad ia pun bertolak dari pelabuhan Malaya menuju Mesir. Di negeri pyramid itulah ia kemudian memuaskan hasratnya akan ilmu pengetahuan. Lima tahun berada di Mesir telah semakin membuka matanya akan maruah negerinya yang sedang terjajah.

Hingga ketika ia kembali ke tanah air, ia langsung bergabung dengan Permi[3] yang berpusat di Sumatra Barat. Sebuah organisasi politik paling berpengaruh ketika itu. Bahkan di Jawa gaungnya sudah tidak asing lagi. Ya, itulah organisasi dimana ia adalah orang pertama yang mengusulkan azas Islam sebagai landasan pergerakannya.

Segurat senyum getir terukir di sudut bibirnya mengenang kejadian itu. Ada kerinduan menghentak di sudut hatinya untuk kembali berada di tengah-tengah Permi.  Sebagaimana kerinduannya akan Balingka, kampung halamannya di Ranah Minang sana, yang telah bertahun-tahun ia tinggalkan.

“Nanti tehnya dingin, diminumlah dulu!” Teguran itu membuat Sang Orator tersadar dari lamunannya. Bayangan silam itu buyar dari angannya.

“Nantilah,” jawabnya singkat. Sang istri pun hanya bisa menghela napas melihat ia tak bergeming dari depan jendela, seperti enggan melepas lamunannya.

Ya, ia sedang ingin menikmati bayang-bayang itu. Bayangan silam yang membuatnya begitu berarti di masa kini. Meski bayangan itu terlihat begitu pekat ketika yang hadir adalah saat-saat dimana ia menghabiskan waktu pembuangannya di Boven Digul bersama Jalaluddin Thaib, sahabat karibnya. Pembuangan yang disebabkan karena aktifitas mereka dalam menentang pemerintahan Belanda lewat corong Permi.

Dan ketika kemudian pecah perang Pasifik yang mengukuhkan kekuasaan Nippon di Indonesia, Sang Orator pun diungsikan ke Australia. Di negeri kangguru itulah ia dan sahabatnya, Jalaluddin, direkrut oleh Gubernur Belanda, Van Der Plas, untuk bekerjasama.

Sang Orator adalah seorang politikus yang bisa mencium setiap rekayasa dan peluang di hadapannya. Tatapan mata yang penuh arti antara ia dan sahabatnya, telah membuat mereka mengangguk menerima tawaran itu. Bagi mereka, inilah saatnya untuk kembali ke tanah air. Inilah saatnya untuk menyambung perjuangan mereka! Persetan dengan segala rencana busuk yang akan direkayasa oleh Belanda!

Debur ombak pantai Losari kembali mengiringi gemuruh di dada Sang Orator. Hawa Subuh yang dingin terasa begitu sejuk membelai wajahnya. Meski kerinduan akan kampung halaman nyaris tak terbendung, namun itu tak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang. Baginya, kemerdekaan tak hanya sebatas negeri kelahirannya, tapi adalah kemerdekaan seluruh bangsa.  Itulah sebabnya kenapa ia tak keberatan ketika NICA mengirimnya ke tanah Makassar ini.

Gubernur Van Der Plas pernah menjadi kepala pemerintahan kolonial Belanda di Makassar. Dan mereka membutuhkan seseorang untuk merebut simpati rakyat di Sulawesi Selatan, khususnya Makassar. Mereka tahu betul bahwa ummat Islam di wilayah itu kurang mendapat perhatian selama ini, dan mereka ingin menunjukkan simpati itu untuk mengambil hati rakyat di sana.

Angin yang berhembus semilir dari arah pantai Losari membuat Sang Orator merapatkan tangan ke dada. Tatapannya masih lurus menembus jendela, seakan ia sedang menikmati detik-detik terakhir dari kehidupannya dan ingin mengeja kisah silam itu untuk kali terakhir pula.

Ia masih ingat bagaimana curiganya wajah-wajah yang menyambut kedatangannya di tanah air 10 tahun silam. Kecurigaan yang terpaksa ia dan sahabatnya telan dengan pahit. Mereka adalah orang buangan yang tak bisa kembali ke tanah air dengan mudah. Mereka butuh alat untuk kembali, dan alat itu kebetulan adalah kerjasama yang ditawarkan Gubernur Van Der Plas.

Pilihan yang sulit memang, dan itu sangat disadari oleh Sang Orator. Ketika kemudian kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, ia pun tak bisa memutuskan kerjasama itu seenaknya. Ia bukanlah seseorang yang berbuat tanpa pertimbangan. Setiap keputusan dan tindakannya selalu penuh perhitungan. Maka sikap menarik diri dari NICA pada waktu itu bukanlah tindakan yang tepat menurutnya.

Tak pelak lagi, keyakinan teman-temannya bahwa ia adalah kaki tangan Belanda semakin menguat. Apalagi seragam hijau  dan pet berbis emas 22 karat yang bertengger di kepalanya sudah cukup melambangkan penghianatan itu di mata mereka. Pet dengan simbol Leeuw Je Maintendrai, yang ia pakai sejak pulang dari Australia. Maka Ranah Minang pun seakan tidak ramah lagi padanya, bahkan sampai ketika ia dikirim NICA ke tanah Makassar ini.

Tidak jauh berbeda, wajah-wajah yang menyambutnya di Makassar ini juga tidak bersahabat. Sorot mata para pejuang Makassar seakan menuduh dirinya sebagai penghianat bangsa. Sebagai antek NICA! Sungguh, hatinya tercabik tiap kali melihat tatapan seperti itu.

Namun ia sudah bertekad untuk tidak surut walau selangkah. Peluang itu benar-benar telah dilihatnya. Dan cukuplah Allah yang tahu betapa ia tak sedikitpun berniat menghianati perjuangan mereka. Betapa ia memiliki kecintaan yang teramat besar terhadap tanah air dan kemerdekaan bangsa ini.

“Lahiriah saya sekarang memang telah menjadi alat kolonial Belanda. Namun batiniah saya tetap berpegang teguh pada perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Bahwa perjuangan bangsa dan tanah air adalah sebagian dari iman. Oleh sebab itu, saya sangat mengharapkan bantuan kalian,” ujarnya lirih di hadapan para pejuang Makassar. Sorot matanya yang sungguh-sungguh, membuat orang-orang itu mulai meragukan tuduhan mereka terhadap Sang Orator.

Terlebih ketika Sang Orator menceritakan rencana NICA di Makassar. “Kita tidak boleh dikelabui oleh NICA dalam merebut hati rakyat dan ulama. NICA telah berniat membangun mesjid terbesar di wilayah ini. Dan kita harus mendahuluinya agar niat NICA untuk mengambil hati ummat Islam itu tergagalkan. Dan marilah kita kibarkan bendera merah putih di wilayah Makassar ini! Sebab kita sudah merdeka!” Begitu ia meyakinkan sahabat-sahabat seperjuangannya di sana.

Dan pengakuan yang lahir dari sebuah ketulusan itu tak lagi bisa ditampik oleh para pejuang di Makassar. Hati mereka luluh melihat kesungguhan Sang Orator. Maka secara bergotong-royong dimulailah pembangunan mesjid terbesar di Sulawesi Selatan itu. Tak hanya ummat Islam, kaum agama lainpun ikut berpartisipasi dengan cara mereka sendiri.

Ia kini benar-benar hadir kembali sebagai seorang orator. Tahun-tahun kelabu yang telah membungkam mulutnya kini telah berakhir. Ia telah menemukan peluang itu. Peluang untuk melanjutkan perjuangan dan kembali menjadi dirinya sendiri. Semangat rakyat Makassar pun bergelora. Ia juga menekan parlemen untuk mengesahkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di Makassar dan menggemakan lagu Indonesia Raya di setiap pelosok negeri itu.

Sang Orator menghembuskan napas panjang, tetap berdiri tegar di depan jendela rumahnya. Meski kini ia jauh dari kampung halamannya, tempat ia dilahirkan, namun ia tetap merasa bahagia. Toh di manapun ia berada, perjuangan tetap mengiringinya. Baginya, selagi ada jengkal tanah yang dizalimi, maka di situ bendera jihad wajib berdiri. Begitu yang pernah dikatakan oleh gurunya, Ammi Danau.

Kini, tak terasa setahun sudah mesjid besar itu dibangun. Ia masih ingat ketika NICA mencoba menggagalkan pembangunan mesjid tersebut dengan berbagai cara. Tapi pasukan merah Putih dan angkatan 45 telah menjadi benteng terkuat dalam melindungi mesjid itu dari rencana keji penjajah. Hingga atas izin Allah, rumah-Nya yang megah dan suci itu berhasil juga diselesaikan.

Lalu apa yang kemudian terjadi, adalah sesuatu yang sudah dalam perkiraan Sang Orator. Ia disingkirkan dari jajaran NICA!  Dan cukuplah ia memuji Allah atas segala kebesaran-Nya. Bukankah selama ini jabatan itu pula yang telah menghilangkan kepercayaan rakyat terhadapnya? Membungkamnya untuk mengobarkan semangat rakyat?

Sang Orator memang seorang tokoh yang luar biasa. Tak hanya di mata rakyat namanya menjulang tinggi, tapi juga di mata penjajah. NICA sangat menyadari kebesaran nama dan kehebatan Sang Orator ini. Kepandaiannya dalam berorasi bisa menyulut semangat perlawanan rakyat. Ia seperti magnet yang selalu menyedot perhatian setiap orang. Wajar jika banyak yang mengatakan bahwa kehebatannya dalam berorasi hanya bisa ditandingi oleh Bung Karno, bapak proklamator yang juga sangat menghormati dan mengaguminya.

NICA juga sadar sepenuhnya bahwa Sang Orator tak hanya menyandang gelar politikus di mata rakyat, tapi juga seorang ulama penuh kharisma. Ia adalah seorang alumni Perguruan Al-Azhar, Kairo. Sebuah universitas di Mesir yang telah mencetak banyak ulama besar dunia.

Sosoknya benar-benar telah menghimpun dua kekuatan yang membuat namanya kian harum di tengah rakyat Makassar. Sosok yang tak segan-segan keluar masuk daerah pedalaman untuk menyebarkan agama Islam kepada penduduk pribumi yang masih sangat minim pengetahuan agamanya. Ya, ia telah membuktikan bahwa dirinya bukanlah seorang penghianat, melainkan milik ummat yang sangat berharga!

NICA pun gusar bukan main…

Subuh masih remang-remang ketika Sang Orator kian mendekat ke jendela. Seakan ingin menghirup udara pagi yang bersih sepuas-puasnya, menyapu segala sekat di setiap tarikan napasnya. Air bekas wudhunya telah lama kering, namun ia masih merasakan kesejukan itu di setiap pori-porinya. Kesejukan yang ia harap menaunginya sampai akhir hayat.

Tiba-tiba…

DOR!! DOR!! DOR!!

Entah berapa kali suara tembakan itu menggema, memecah keheningan Subuh yang syahdu. Memporak-porandakan sebuah perenungan yang lahir dari kedalaman sukma seorang pejuang. Sebuah peluru telah bersarang di keningnya yang baru beberapa puluh menit lalu bersujud khusyuk di hadapan Rabbnya.

“Ya, Allah!!!” Pekik tertahan yang meluncur dari mulut istrinya tak mampu membuat mata Sang Orator terbuka. Di pangkuan sang istri, mata itu kian meredup dan akhirnya tertutup rapat diiringi segaris senyuman di sudut bibirnya. Isak dan rengkuhan istrinya yang kuat telah menghantar jiwanya menuju keabadian, tepat ketika ia menapaki usia di angka lima puluh. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun

Ia sudah tidak tahu lagi apa yang kemudian terjadi. Pun ketika rumahnya hiruk pikuk diserbu tentara KNIL. Bahkan ia sama sekali tidak tahu bahwa peluru yang bersarang di keningnya itu melesat dari ujung senapan seorang tentara Belanda.

Ya, itu memang sudah tidak penting baginya, sebab kini ia telah pergi dengan tenang. Sebuah kepergian yang memahatkan namanya sebagai pejuang sejati dan dicintai. Ia mati sebagai seorang pahlawan! Meski bukan gelar itu yang ia harapkan, namun sejarah tak bisa berpaling dari sosoknya yang terlalu berharga untuk dilupakan.

Sejarah juga tak bisa mengelak ketika rakyat Makassar berusaha menahan air mata saat shalat jenazah di mesjid yang mereka bangun bersama Sang Orator. Mesjid terbesar itu tak mampu menampung rakyat yang mendesak ingin masuk, agar bisa shalat di samping jenazah orang yang mereka cintai. Do’a-do’a khusyuk pun terpanjat lirih dari hati-hati yang kehilangan.

Rasa kehilangan yang kemudian menjalar ke luar Makassar. Ya, Ranah Minang tak bisa menutup mata bahwa seorang putra terbaiknya telah pergi dengan cara yang memilukan. Saat dimana kesalahpahaman itu belum tertuntaskan. Namun di hati mereka tetap terselip kebanggaan, sebab ternyata Sang Orator adalah pejuang yang sesungguhnya. Pejuang bangsa dan agama! Yang hatinya tak tergoyahkan oleh pengaruh Belanda.

Kini sosok itu telah pergi untuk selamanya sebelum ia sempat melepaskan kerinduannya pada Balingka, tanah kelahirannya. Subuh berdarah telah mengantarkannya menuju kerinduan yang lain. Kerinduan yang tanpa jeda dan tanpa batas. Ya, sebuah kerinduan yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang merelakan hidupnya untuk sebuah perjuangan fi sabilillah.

Selamat jalan, Pak Muchtar Luthfi…! Engkaulah Sang Orator itu! (NS)

[1] Panggilan Muchtar Luthfi terhadap gurunya, Haji Rasul,  yang tak lain adalah ayah dari Buya HAMKA.

[2] Sekolah lanjutan di zaman Belanda.

[3] Singkatan dari Persatuan Muslimin Indonesia.

Cerpen lain: Yang Hilang di Keremangan

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


3 thoughts on “Subuh di Pantai Losari

  1. Haeriah

    Non fiksi terbungkus fiksi…..terima kasih, saya jadi tahu tentang muchtar luthfi. Terus terang selama ini saya hanya tahu kalau nama beliau diabadikan sebagai salah satu nama jalan di makassar

    Reply
  2. Mugniar

    Terima kasih Mbak Via. Jadi tahu sejarahnya Muchtar Lutfi. Benar kata Mbak Haeriah, nama beliau diabadikan menjadi nama salah satu jalan yang letaknya tegak lurus dengan Pantai Losari. Rupanya beliau orang Minang, yah.

    Penasaran dengan masji yang dibangunnya, apakah masjid yang di Jalan Somba Opu itu, yah. Apakah di referensi yang Mbak Via dapatkan tidak disebutkan nama masjidnya?

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *