Sunyi Adalah Bunyi yang Sembunyi

 

“Sunyi Adalah Bunyi yang Sembunyi”

Judul di atas saya kutip dari akun Rocky Gerung.
“Semakin ramai orang di sekitar saya, semakin saya merasa sunyi,” begitu ungkap beliau.

Kamu, pernahkah merasa sunyi? Padahal begitu ramai orang di sekitarmu. Pernahkah kamu merasa dunia ini terlihat monokrom? Padahal begitu banyak warna menghiasinya.

Dalam istilah Minang, ada ungkapan “Langang di Nan Rami” yang artinya ya kurang lebih sama seperti di atas.

Banyak yang pernah merasakan hal itu. Saat kesusahan hidup tak kunjung menemukan kedamaian. Saat permasalahan yang melilit tak kunjung menemukan jalan keluarnya. Dan saat usaha-usaha yang kita lakukan seakan tak menemukan hasil yang memuaskan. Kita buntu. Terdiam sendiri tanpa solusi.

Lalu kapan lagi?

Saat jodoh yang dinanti tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Saat buah hati yang diidam tak kunjung mendekati kenyataan. Saat hutang yang menumpuk mengancam kita untuk dipidanakan. Saat sahabat kepercayaan menikam tepat di punggung kita. Saat orang yang kita sayang dan puja berkhianat di depan mata. Banyak dan banyak lagi momen keputus-asaan yang kita alami yang membuat kita terduduk sepi. Sunyi.

Kadang kita bertanya dalam hati, ke mana orang-orang pergi sehingga tak satupun yang datang menemani? Tapi terkadang kita pula yang mengusir orang-orang untuk menjauh karena kita ingin sendiri.

Benarkan kita sejatinya sendiri? Benarkan kita berada dalam sunyi? Tidak. Saat itu sesungguhnya kita sedang berdua dengan Dia. Tapi kita tak menyadarinya. Saat itu Dia sedang ingin disapa, dicurahi segala beban kita. Tapi kita mengabaikannya. Saat itu Dia ingin menguji kita apakah masih ingat pada-Nya. Tapi kita lebih sering lupa.

Celakanya, sebagai manusia kita memang lemah, pelupa, dan gampang putus asa. Sampai di titik itu kita lebih sering berteriak, “Di mana Tuhan yang katanya tak pernah tidur?! Di mana Tuhan yang katanya Maha Melihat dan Maha Menolong?!” Padahal Dia lebih dekat dari urat leher kita.

Sangat menarik kisah seorang mualaf yang saya baca beberapa waktu lalu (maaf, namanya tak usah saya sebut), ketika ia berada dalam kondisi sangat terpuruk, ia berkata dalam kesunyiannya, “Baik, aku telah memilih jalan ini dan aku tahu Engkau akan menguji keteguhanku! Silakan, ujilah aku sesuka-Mu! Ambillah semua yang ada padaku, pekerjaanku, keluargaku, bahkan masa depanku. Apa sih yang tidak bisa Kau lakukan padaku? Semua yang ada padaku berasal dari-Mu, bahkan diriku ini Engkau juga yang menciptakan. Ambillah semua, ujilah aku sesuka-Mu, tapi satu hal yang aku minta, jangan pernah mengambil imanku!”

Dia terus berkata pada dirinya sendiri. Dia mengakui kelemahannya di hadapan Tuhan, mengakui kalau Tuhan adalah pemilik dan penguasa segalanya, Dia berhak melakukan apapun terhadap hamba-Nya. Suka-suka Dia. Jadi ketika ujian itu datang, Tuhan bukan sedang tak ada. Tapi Dia sedang menatap kita dengan pandangan kasih-Nya, apakah hamba-Nya ini akan mampu keluar sebagai pemenang dalam ujian atau kalah dan membelakangi-Nya. Hanya itu.

Perkara doa kita mau dikabulkan atau tidak, itu urusan Dia. Terserah Dia. Tuhan berhak mengabulkan, menunda atau bahkan tidak mengabulkan sama sekali doa kita. Tuhan tahu apa yang dilakukan-Nya. Lihatlah bagaimana tangan-tangan Tuhan bekerja. Ketika seorang hamba sudah lelah menabung untuk umrah namun tak kunjung cukup ternyata. Dia pun pasrah, mungkin Tuhan memang belum memanggilnya. Tapi anehnya dia tak berhenti juga menabung, bertahun-tahun. Katanya tabungan itu tantangan baliknya pada Tuhan. Bahwa ia tak kan menyerah. Alhasil? Dia malah berangkat haji atas hadiah dari orang lain. Oke, ini hanya fiksi. 😀

Intinya, setiap kita punya kemampuan berbeda dalam menerima ujian. Dan ujian kita pun berbeda-beda. Bahkan proses pasca ujian itupun akan kita jalani dengan cara yang berbeda-beda pula. Lihatlah sekeliling kita, biasakanlah mengamati dengan cermat dan teliti.

Si A akan berkata, “Tuhan, aku akan jalan terus apapun yang terjadi!”
Si B pun berkata, “Tuhan, attention! UjianMu terlalu berat, cooling down dulu…”
Si C berkata pula, “Tuhan itu ternyata tidak ada, aku dibiarkan sendiri.”
Si D lain lagi, “Sumpah, justru di saat begini aku baru percaya kalau Tuhan itu ada dan aku butuh Dia!”

Reaksi orang-orang pasti berbeda, hasilnya pun tak bisa kita prediksi secara dini. Bisa jadi yang kini membelakangi Tuhan, besok kembali dengan degup rindu yang menggebu. Yang hari ini yakin akan melangkah tanpa henti, bisa jadi besok menyerah dan patah. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi besok atau lusa.

Yang bisa kita lakukan di hari ini hanyalah berdoa agar kita terus percaya bahwa Tuhan itu ada dan akan ada satu titik di mana kita merasa sangat butuh pada-Nya. Dan semoga itu terjadi saat ruang sunyi itu menyergap kita, menyembunyikan segala bunyi, menyirnakan segala warna.

Saat itu, hanya ada aku dan Dia!

#RefleksiBerserahDiri

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih senang jadi relawan Kemenpar untuk Wonderful Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *