Surat Terbuka untuk Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden 2019

Assalaamualaikum Bapak Prabowo, Bapak Jokowi, Bapak Sandi dan Bapak Kiai.

Sebelumnya tolong maafkan ya, Pak, kelancangan (baca:keberanian) saya menulis surat ini. Sengaja saya tulis mumpung masa kampanye masih lama. Dan mumpung konten-konten negatif terkait pilpres belum banyak di media sosial. Saya sudah lega bisa mengeluarkan uneg-uneg ini meskipun hanya di blog pribadi, entah terbaca atau tidak oleh Bapak-bapak sekalian. Daripada bisulan di kepala, mending saya tulis saja. Yang pasti Allah mengetahuinya dan malaikat sudah mencatatnya.

Saya sebenarnya cuma ingin minta tolong. Minta tolong dengan sangat kepada Bapak-bapak yang terhormat, untuk mengajak pengikutnya masing-masing melakukan #KampanyePositif tanpa perlu saling mencela dan menjelekkan. Capek kami, Pak, mengulang lagi kondisi 2014 dulu. Di mana musuh jadi bertambah dan teman makin berkurang. Sesama rakyat saling hujat dan memaki. Itulah catatan kelam pilpres 2014. Aib calon pemimpin terbuka sudah. Kesalahpahaman berseliweran. Entah mana yang betul dan entah mana yang salah, sudah tak jelas.

Makanya kami ingin mengajak Bapak-bapak sekalian untuk belajar dari kondisi tersebut. Jangan kita ulangi lagi. Hanya keledai yang jatuh pada lubang yang sama, itupun karena gak ada otaknya (baca:pikirannya). Masa kita lebih bodoh dari keledai?

Kami bisa menganggap kondisi tahun 2014 sebagai kekhilafan, itung-itung belajar demokrasi terbuka, meskipun hasilnya menyedihkan karena menimbulkan jurang perpecahan yang dalam. Maka di tahun 2019 nanti harusnya kita sudah cerdas kan, Pak? Masa 5 tahun masih bodoh saja, masih saling bully, saling serang, saling hina dan saling buka aib. Yang malu kan Bapak-bapak juga, yang gak dapat apa-apa ya kami juga. Sama jelaknya kan, Pak? Meskipun Bapak-bapak mendapat kemenangan, tapi menang di atas perpecahan itu menyedihkan, Pak.

Jadi plis dong, Pak, plis…
Hidup kami sudah cukup pusing dengan beban di sana-sini, tagihan ini itu, jangan lagi ditambah dengan mendengar dan membaca ujaran kebencian, celaan dan hoax yang tak ada habisnya. Oya, kami para netizen ini, sudah sepakat lho, Pak bersama Polda Metrojaya untuk menghimbau masyarakat agar #SebarkanBeritaBaik dan #HargaiPerbedaan demi Menjaga Keutuhan Bangsa. Nah, kami harapkan juga kerjasamanya dari Bapak-bapak sebagai calon pemimpin kami.

Jadi tolong tertibkan anak buah Bapak-bapak, kaki tangannya, terlebih tim suksesnya, agar tak mudah melontarkan statement negatif ke awak media. Lebih baik mereka suruh irit bicara daripada gak bisa bicara yang baik. Bukan apa-apa, Pak, media massa zaman now sangat suka menggoreng omongan pejabat karena itu menjual tapi tak mendidik. Maka Bapak-bapak lah yang harus menahan diri, jangan tiap ditanya media langsung bicara tanpa disaring. Apalagi menjadikan media sebagai tempat meluapkan uneg-uneg dan kemarahan. Ingat, Bapak adalah tokoh masyarakat, akan ditiru dan dinilai oleh masyarakat.

Jadi tolong ya, Bapak-bapak calon Presiden dan Wakil Presiden 2019, atur anak buah dan pendukungnya agar bicara yang baik atau lebih baik diam. Agar menyebarkan konten positif saja tentang jagoan mereka, tak perlu menyebarkan konten negatif lawan. Sebab konten negatif hanya akan mengundang konten negatif lain dari pihak lawan. Maka aib Bapak-bapak lah yang akan semakin terbuka. Dan kami pun semakin pusing membacanya. Semestinya Bapak-bapak yang pusing mikirin nasib kami, bukan kami yang pusing mikirin Bapak-bapak. πŸ˜„

Satu lagi, Pak. Jangan menjual agama ya, Pak. Bapak-bapak tahu apa itu menjual agama? Yaitu Bapak-bapak mendadak jadi orang alim ketika kampanye padahal hari-hari biasa mah enggak. Bapak-bapak mendadak peduli agama padahal hari-hari biasa mah enggak. Istri dan keluarga Bapak-bapak mendadak kerudungan padahal hari-hari biasa mah enggak. Pokoknya mendadak semua sholeh sholehah selama kampanye. Itulah yang disebut menjual agama, Pak. Itu semua Bapak-bapak lakukan demi mendapatkan suara dan cinta kami. Sumpah, kalau itu sungguhan, kami sangat tersanjung, Pak. Demi menarik hati kami Bapak-bapak mendadak agamis. 😍

Tapi sayangnya kadang itu hanya pura-pura. Capek, Pak, kami diberi cinta palsu. Apalagi Allah, yang tahu persis isi hati Bapak-bapak, tentu lebih capek lagi. Eh, enggak ding, Allah gak pernah capek. Mau sampai kiamat pemimpin negeri ini pura-pura mencintai-Nya, Dia tak kan capek, tak kan rugi. Tinggal nyuruh malaikat aja mencatatnya, beres.

Pak, meskipun saya bercadar, percayalah, saya tak punya pikiran teroris, saya cinta damai, cinta Indonesia, NKRI harga mati, saya dibesarkan dalam keluarga PNS, abdi negara, suami saya juga dosen PNS, jebolan terbaik S3 UGM, kami bangga pada negeri ini. Jadi tak mungkin memihak teroris. Maka jangan biarkan orang-orang berpikir negatif pada perempuan bercadar, sebab cadar bagi saya hanya salah satu bentuk ketundukan pada pendapat terkuat dalam Mazhab Syafi’i, bukan pelanggaran HAM seperti yang dituduhkan sebagian pihak yang tak paham. Justru memakai cadar ini HAM bagi saya sebagai pemeluk agama Islam bermazhab Syafi’i. Bahkan beberapa perusahaan masih melarang lho, Pak, pemakaian jilbab bagi karyawannya, di negara mayoritas Muslim ini. Jika Bapak-bapak memang peduli Islam, tak cuma pura-pura, tolong buktikan pembelaannya, Pak. Semoga dimengerti.

Sebelum surat ini saya akhiri, bolehlah saya tambahi satu pesan manis ya, Pak. Kami rakyat Indonesia yang keren-keren ini, mencintai dan mendukung Bapak-bapak dengan tulus dan ikhlas, maka tolong dibalas dengan ketulusan juga. Jangan khianati kami setelah Bapak-bapak berkuasa nanti, sakitnya tuh di sini, Pak. Kami jadi merasa seperti sapi perahan saja, diperah lalu dibiarkan mati tanpa dikasih makan. Lebay ya, Pak? Ya begitulah kami, rakyat yang kian hari kian lebay, baik dalam menyanjung maupun dalam menghina. Jujur ini membuat kami merasa tak lagi sekadar jadi rakyat jelata tapi telah turun derajat jadi rakyat jelantah, Pak. Maka tolong didik kami, berilah contoh dan teladan pada kami agar kami naik derajat lagi jadi rakyat jelata, syukur-syukur bisa naik lagi jadi rakyat jelita. 😍

Mungkin ungkapan “Pemimpin adalah cerminan rakyatnya” ada benarnya, tapi rakyat memilih yang terbaik menurut mereka dengan harapan mendapat pimpinan terbaik pula. Jika sama saja rakyat dan pemimpinnya buat apa dipilih? Menghamburkan uang negara yang begitu banyak hanya untuk memilih sesuatu yang tak punya nilai lebih. Rugi dong. Maka kami lebih suka mengatakan “Rakyat adalah cerminan pemimpinnya” agar Bapak-bapak semua berpikir keras bagaimana menjadi pemimpin yang baik hingga rakyat pun menjadi baik secara mental, spiritual dan ekonomi. πŸ˜‡

Demikian surat terbuka ini, yang mungkin juga hanya dibaca segelintir netizen yang tersesat saat berselancar. πŸ˜…

(Salam paling keren dan doa paling full dariΒ  rakyat Indonesia yang cinta damai)

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


One thought on “Surat Terbuka untuk Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden 2019

  1. Iecha

    Kalo aja gak ada yg maen akun klonengan, kalo aja mau adu gagasan bukan maen elpiji, kalo aja fokus k ide bukan urusan personal. Tp mimpi

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *