Takdir Untuk Kinara

Sebagai seorang anak, maka orang yang paling saya cintai adalah ibu saya. Tapi sebagai seorang ibu, yang paling saya cintai adalah anak saya. Dan yang ingin saya ceritakan di sini adalah tentang anak saya, khususnya anak bungsu saya yang kini menginjak usia 2,5 tahun.

Tapi sejujurnya menceritakan tentang dia, seperti membuka sebuah tabir penyesalan bagi saya. Serasa membuka lagi sebuah kesalahan yang pernah saya lakukan. Enggan sebenarnya menceritakan soal ini, karena selama ini semuanya saya simpan saja dalam hati, baik rasa sesal maupun rasa sayang saya yang sulit digambarkan. Namun kadang sesuatu yang disimpan justru membuat rasa bersalah kita semakin menjadi. Maka mungkin dengan mengungkapnya di sini, perlahan hati saya terasa lebih ringan. Who knows?

Ada Apa Dengan Si Bungsu?

Manusia memang tak bisa mengatur takdir. Misalnya saya, yang semula hanya berencana punya anak tiga orang, pada akhirnya ditakdirkan memiliki empat anak. Ketika menyadari saya hamil, muncul kepanikan luar biasa pada diri saya. Anak ketiga saya waktu itu baru berusia 1 tahun lebih sedikit, belum disapih sama sekali.

Terbayang pekerjaan di kantor yang baru saya lakoni selama beberapa bulan. Terbayang repotnya nanti jika punya bayi, siapa yang mengurus anak-anak dan pekerjaan rumah lainnya sementara saya hanya punya satu orang Asisten Rumah Tangga, jelas dia tak akan mampu mengerjakan semuanya sendiri. Apakah saya harus berhenti bekerja? Padahal saya sedang menikmati pekerjaan baru saya, masa iya sudah berhenti?

Terbayang usia yang sudah menapaki angka 40, sudah cukup rawan untuk hamil dan melahirkan. Duh, saat itu semua terasa begitu menekan perasaan. Saya pun seakan ingin menolak kehamilan itu, menolak kehadiran janin dalam perut saya. Menyesali kenapa saya hamil lagi? Kenapa waktunya tidak tepat? Kasian kakaknya yang juga masih kecil banget. Dan entah apa lagi yang saya sesali waktu itu. Cukup lama saya berada dalam kondisi gagal move on itu.

Sampai akhirnya bayi lucu itu lahir juga, dengan cara yang berbeda dibanding kakak-kakaknya. Jika yang lain lahir normal, Si Bungsu yang saya beri nama Kinara ini lahir lewat operasi. Saya pun mulai mencoba menerima kenyataan bahwa saya memang ditakdirkan memiliki empat orang anak. Mencoba bersabar memberi pengertian pada anak ketiga saya, Kanaya, tentang kehadiran seorang adik di usianya yang belum genap dua tahun. Terbayang bagaimana dia yang awalnya excited melihat ada bayi di bawa pulang, lama-lama mulai menolak dan cemburu berat. Duh…, sudah banyak ditulis oleh para pakar bahwa ketika lahir seorang anak maka yang perlu dikondisikan adalah kakaknya apalagi yang posisinya kesundulan seperti anak ketiga saya. Inilah pekerjaan terberat yang harus saya tuntaskan ketika pulang ke rumah.

Kemudian ketika menghadapi masa cuti yang mulai kian mendekati batas akhir, saya pun dihadang galau memikirkan ke depannya bagaimana. Bayi saya jelas butuh tambahan pengasuh karena ada dua anak kecil yang butuh diurus dengan baik. Belum lagi dua anak yang besar dan setumpuk pekerjaan rumah lainnya. Minimal saya harus punya dua asisten rumah tangga. Mau dicari kemana orang yang bisa dipercaya mengasuh anak-anak yang masih kecil? Saya pun mulai pasrah, jika tak ada orang yang bisa saya percaya ya sudahlah, saya akan berhenti saja berkerja. Saya menguatkan hati dengan mengatakan, dunia belum kiamat kok hanya dengan berhenti kerja.

Rupanya kepasrahan itu berbuah manis. Saya mendapat seorang asisten rumah tangga satu lagi tepat sehari sebelum saya masuk kerja. Alhamdulillah. Orangnya bisa dipercaya, sama seperti asisten saya sebelumnya. Mereka juga masih ada hubungan saudara, jadi cukup bisa bekerja sama. Lega sekali rasanya waktu itu. Ternyata ketakutan dan kekhawatiran manusia memang sering berlebihan. Padahal selalu ada jalan keluar jika kita mau berusaha dan yakin akan pertolongan-Nya.

Terbukti saya tetap bisa beraktifitas seperti biasa. Asisten rumah tangga pun jadi ada dua, sehingga semua bisa terselesaikan. Bahkan saat harus berangkat ke Singapura untuk acara kantor, saya juga bisa berangkat dengan mengajak Kinara yang waktu itu berusia tujuh bulan. Jadi dari empat anak saya, baru Kinara yang dibuatkan pasport dan diajak jalan-jalan ke luar negeri  😀

Merenung Kembali

Meski sesudah itu kondisi saya bertambah repot dengan dua orang anak yang masih batita, namun saya terus mencoba berbesar hati menerima anugerah keempat dalam hidup saya. Saya coba merenungkan sikap saya selama ini, penolakan-penolakan saya yang sebenarnya tidak pantas. Berapa banyak orang di luar sana yang menunggu kehadiran buah hati hingga belasan bahkan puluhan tahun? Berapa banyak orang di luar sana yang memiliki anak sakit-sakitan dengan berbagai kekurangan, sementara saya dianugerahi anak yang sehat.

Dan bukankah bagus kalau saya punya anak empat, berarti saya menjadi penerus generasi unik dalam keluarga. Unik? Ya, kakek saya bernama Arbain dan nenek saya bernama Arbaina yang kedua nama itu berarti ‘empat’. Kakek dan nenek saya memiliki anak empat orang. Dilanjutkan oleh ibu saya yang juga memiliki empat orang anak. Lalu di generasi saya, ada saya yang melanjutkan dengan jumlah anak empat orang juga. Saudara ibu saya atau sadara-saudara saya tidak ada yang memiliki anak empat, selalu lebih sedikit atau lebih banyak. Makanya saya katakan generasi unik karena selalu ada yang punya anak empat di setiap generasinya.

Hasil renungan saya selanjutnya adalah saat melihat pertumbuhan Kinara. Kalau dilihat, dia lah yang paling mirip dengan saya.  Warna kulit, ruas jari dan kuku, bentuk dan ekspresi wajahnya mengikut saya banget. Duh, saya selalu didera rasa bersalah karena sempat menolak kehadirannya dulu. Dia juga terlihat gesit, aktif dan paling mandiri. Hati ibu mana yang tak terenyuh?

Mendadak saya ingat cerita ibu saya. Kata beliau, dulu saat ibu mengandung saya, sempat terbersit juga penyesalan, kenapa ibu saya masih hamil, sementara anaknya sudah tiga orang, sudah ada dua perempuan dan satu laki-laki (persis seperti saya) dan saya sebagai anak keempat tetap menjalani takdir saya, tumbuh dan lahir ke dunia sebagai Si Bungsu yang jadi kesayangan ibu saya. Takdir memang tak selayaknya ditolak karena itu adalah kemustahilan.

Yang kemudian menjadikan saya takjub pada takdir adalah, Kinara dan Kanaya seperti tumbuh bersama dengan perbedaan usia mereka yang memang tidak terpaut jauh. Teringat bagaimana dulu saya ingin sekali punya anak kembar, sering berdoa agar diberi anak kembar. Sekarang mereka justru terlihat seperti anak kembar, semuanya harus dibelikan sama. Jika yang satu diajak pergi, yang lain kehilangan dan mencari-cari.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jika sudah begini, saya merasa sangat menyesal atas sikap saya dulu. Terasa sangat bodoh dan terkesan mendikte takdir. Padahal Allah yang lebih tahu segalanya. Dan takdir membuktikan, Kinara kini jadi begitu disayang oleh semua orang. Dia juga memiliki panggilan kesayangan yaitu Kinkin.

Satu Yang Ulang Tahun, Dua Yang Dirayakan

Sebentar lagi Kinara ulang tahun, sebulan kemudian giliran Kanaya yang ulang tahun. Jika salah satunya ulang tahun, keduanya harus dibelikan hadiah. Jadi biarpun yang ulang tahun hanya satu orang, yang dirayakan dan dibelikan hadiah adalah dua orang. Dua bulan berturut-turut seperti merayakan ulang tahun untuk empat anak hehe…

Hmmm, kalau melihat kondisi, hadiah terbaik itu adalah yang bisa dimainkan bersama oleh Kinara dan Kanaya, karena mereka memang teman bermain setiap hari. Persis anak kembar. Tapi sepertinya seru ya kalau dibelikan mainan pasir kinetik. Maklum, anak Jakarta kan susah ketemu pasir sementara main pasir adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Setidaknya itu yang saya rasakan saat menjalani masa kecil di kampung dulu. Pasir kinetik juga terlihat unik dan bikin penasaran. Kok bisa sih terlihat seperti pasir beneran? Jadi penasaran pengen lihat aslinya, makanya hadiah ini sepertinya cocok bagi kembar saya, Kinara dan Kanaya. Menurutmu bagaimana? Atau punya kisah yang sama dengan saya? (NSR)

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak sejak tahun 2002 dengan cerbung berjudul Putri Kejawen. Media yang pernah menulis karyanya seperti Majalah Kartini, Paras, Ummi, Suara Pembaruan, Warta Kota, dan juga koran daerah. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku.


9 thoughts on “Takdir Untuk Kinara

  1. Ade Delina Putri

    Saya juga sempet nyesel pas dulu hamil kedua. Padahal Emir masih bayi hiks. Tapi lama kelamaan mikir, kalo ditolak terus, saya juga takut terjadi apa-apa. Jadi sekarang lebih dinikmati aja 🙂

    Reply
  2. Nanik

    saya juga dulu anak pertama umur 3 bulan, saya sudah hamil anak kedua. Alhamdulillah mereka tumbuh bersama, dan sering di kira anak kembar. Ulang tahun mereka selisih 1 minggu, tapi nggak pernah ada perayaan khusus sih. Klo soal mainan, harus beda, karena yang satu laki, yang kedua perempuan hehehe…

    Reply
  3. Anggarani Ahliah Citra

    Eh, waktu Abg aku juga dulu sempet nanya sama ibuku, “Aku anak yg ngga di arepin ya, Ma?”
    Soalnya jarak usiaku sama kakak2 jauh banget, 8 tahun sama 10 tahun.

    Ga dijawab sih, cuma aku langsung dijitak.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *