Titip Rindu Buat Ibu

21Apa yang dicemaskan Datuak Naro akhirnya jadi kenyataan juga. Keesokan harinya ia dipanggil secara resmi ke rumah Datuak Sutan Malin, petinggi lareh Koto-Piliang se-luhak Lima Puluh Kota. Jantungnya berdebar keras saat menaiki tangga Rumah Gadang milik petinggi adat tersebut. Sejenak ia berdiri di tengah tangga.“O, Datuak! Ambo datang manjawek parintah!” serunya kemudian setelah berhasil menenangkan diri.

Sekerat wajah menyembul di jendela. Tanpa senyum. “Tidakkah bisa Datuak mengucapkan salam? Bukan orang Muslimkah Datuak ini? Apakah sudah benar-benar jadi orang Komunis gerangan?” Sindiran tajam itu membuat Datuak Naro terperangah.

“Ehm, maafkan Ambo, Datuak.” Wajah lelaki tua di tangga itu memerah.

Raut muka tuan rumah tampak sinis, “Naiklah, Datuak!”

Datuak Naro kembali melangkah naik. Duduk bersila di hadapan Datuak Sutan Malin.

“Saya tidak perlu lagi menjelaskan kenapa Datuak saya panggil kemari. Datuak sendiri sudah tahu kesalahan Datuak, bukan?”

Datuak Naro mengangguk lemah. Ya, ia sangat tahu kesalahannya, yaitu mengumpulkan para pemangku adat di rumahnya dan mengajak mereka mendukung paham Komunis tanpa setahu dan seizin petinggi adat luhak. Inilah kesalahan terbesarnya.

“Perbuatan Datuak itu telah mengakibatkan terpecahnya para pemangku adat, para ulama, dan juga masyarakat! Bahkan telah mencemarkan nama kampung ini di mata orang-orang tiga luhak. Datuak tahu, siapa yang paling sering mereka sebut-sebut? Orang suku Piliang! Mau disurukkan ke mana muka saya ini? Juga muka orang-orang Piliang yang tidak terlibat dalam kasus ini?!” Tinggi nada suara Datuak Sutan Malin.

“Saya, kan cuma …,”

“Sudahlah, Datuak! Tidak perlu membela diri lagi!” potong Datuak Sutan Malin cepat. “Saya malu sekali pada Datuak Sutan Dirajo, petinggi lareh Bodi-Caniago. Benar-benar malu!!”

Datuak Naro kian tertunduk. Kini lelaki berkulit legam itu merasa semakin kehilangan daya untuk berkoar membela diri. Sejak dituding dalam pertemuan adat kemarin, rasanya ia mulai kehilangan wibawa. Belum lagi tamparan akibat ditangkap Belanda minggu lalu itu. Memalukan sekali. Saat itu, ia merasa hidupnya telah berakhir kalau saja Datuak Haji Bagindo tidak menjemputnya.

“Tidak ada pilihan lain, Datuak. Secepatnya akan kita adakan pengangkatan Penghulu baru untuk suku Piliang! Juga suku Koto!” Tegas kalimat itu meluncur dari bibir Datuak Sutan Malin.

Leher Datuak Naro menegang. Meski sudah menduga, namun tetap saja kalimat itu seperti peluru Belanda yang melesat ke jantungnya.

“Datuak …, apakah tidak ada hukuman lain lagi?” Ia masih berusaha memperjuangkan nasibnya.

“Hukuman apa? Apakah Datuak ingin dibuang sepanjang adat? Itukah yang Datuak inginkan?” Datuak Sutan Malin menatapnya tajam.

Datuak Naro terdiam. Sepertinya ia harus pasrah menerima nasibnya kali ini. Datuak Sutan Malin sudah tidak bisa diajak tawar-menawar lagi.

Saat menuruni tangga ketika hendak pulang, tangannya tampak gemetar menggenggam tongkat ambalau-nya. Tongkat yang fungsinya bukan saja untuk menopang tubuh gaeknya, tapi juga untuk menuding, dan menakut-nakuti orang sekampung.

Bagaimana tidak gemetar, belum ada kejadian di kampung Ambacang ini seorang Penghulu diberhentikan ketika masih hidup. Dialah orang pertama yang mengalaminya. Benar-benar celaka.

Catatan:

Ini adalah novel kedua yang saya tulis. Berlatar budaya Minang dan sentuhannya dengan perkembangan Islam di sana. Namun yang lebih ditonjolkan adalah bagaimana posisi seorang anak yang lahir dari budaya campuran antara suku Minang dengan suku lain. Bagaimana adat Minang yang matrilineal memandang dan memberi solusi bagi masalah semacam ini. Meski berlatar tahun 1920 an, saya berharap dengan menulis novel ini, generasi muda Minang (non Minang juga tentunya) bisa memahami bagaimana sebenarnya akar budaya dan adat Minang itu.

Proses kreatifnya memakan waktu kurang lebih dua bulan. Karena untuk menulis novel dengan latar sejarah dan budaya memang cukup menguras energi dan kesabaran, sekalipun sejarah dan budaya daerah sendiri. Ada garis merah yang harus dijaga saat memadukan antara fakta dan fiktif. Garis merah itu adalah kejelian, kreatifitas dan kehati-hatian yang cukup tinggi. Tapi bagi kita yang ingin belajar, kenapa tidak? Toh saya pun merasa novel ini masih jauh dari sempurna. Yang penting jangan cepat menyerah! (V)