Tukang Pijat

Tukang PijatDibanding teman-temannya yang lain, Buyung Kundan sebenarnya terbilang berhasil. Ia sempat merantau selama sepuluh tahun dan pulang ke kampung membawa uang lumayan banyak untuk modal berdagang. Maka setibanya di kampung, ia langsung merealisasikan cita-citanya, membuka sebuah kedai serba ada. Dan Alhamdulillah, kedainya cukup laris untuk kelas pendatang baru. Buyung Kundan sangat senang dan bersyukur. Namun di tengah kebahagiaannya itu ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Apakah itu?

Selama di rantau, ia terbiasa dipijat tiap kali badannya terasa pegal-pegal. Dengan upah 20 ribu rupiah saja, badannya kembali terasa bugar. Nah, yang jadi masalah, di kampungnya tukang pijat yang paling terkenal adalah Mak Condah. Dan Mak Condah ini adalah ibu Buyung Kundan sendiri yang biasa ia panggil Amak.

Lalu apa masalahnya? Bukan apa-apa, Buyung Kundan merasa tidak enak hati jika harus dipijat oleh amaknya sendiri. Buyung Kundan merasa kurang ajar sebagai anak, menyuruh amaknya yang sudah tua itu memijat badannya.

“Ah, andai saja aku sudah punya istri,” hayalnya suatu hari. Meski sudah lama mengidamkan seorang pendamping hidup, toh ternyata mencari istri pun tidak semudah membalik telapak tangan. Meski Buyung Kundan sudah terbilang sukses, tampang pun tidak begitu jelek dipandang, namun belum juga ada seorang gadis yang bisa diajak ke pelaminan.

Dulu waktu di rantau, Buyung Kundan pernah dekat dengan seorang gadis. Tapi begitu dikabari ke kampung, amaknya langsung menolak.

“Amak tidak mau punya menantu orang lain! Amak maunya yang sesuku dengan kita!” komentar amaknya dengan tegas di telepon.

“Tapi dia gadis yang baik, Mak.”

“Kalau soal baik, banyak orang yang baik. Si Ros yang janda itu juga baik, tapi apa kamu mau kawin dengan dia?”

Buyung Kundan manyun.

Si Ros? Janda beranak lima itu? Yang umurnya sudah kepala lima? Memangnya aku laki-laki apaan? Biar umurku sudah kepala tiga, aku masih mampu mencari yang gadis! Hati Buyung Kundan menceracau sendiri.

“Kalau kamu kawin dengan orang sesuku, Amak kan bisa menjalankan adat istiadat, bisa sama-sama manjalang, punya besan dan menantu yang bisa Amak bawakan kolak pisang jika mau masuk bulan puasa, Amak juga punya cucu yang berdarah asli Minang, Amak juga bisa…”

“Kawin dengan orang sesuku kan bukan jaminan pernikahan itu akan bahagia dan awet, Mak,” potong Buyung Kundan berfilosofi.

“Beda suku juga bukan jaminan!” balas amaknya tak kalah sengit, tak sudi omongannya dipangkas.
“Tapi saya sudah merasa cocok dengannya, Mak.”

“Cocok juga bukan jaminan. Buktinya si Neni Caniago itu, dia sama-sama guru dengan suaminya, tapi bercerai juga!”

Buyung Kundan tambah manyun. Jaka Sembung bawa petromak, gak nyambung, Maaaaak!

“Tapi saya sudah cinta sama dia, Mak…”

“Cinta? Sudahlah, Buyung! Kamu itu sudah terpengaruh oleh sinetron dan lagu-lagu cinta di tipi!”

Mata Buyung Kundan memanas. Tapi hatinya lebih panas lagi. Terbayang sudah cintanya yang akan kandas akibat tidak ada restu orang tua. Benar-benar senasib dengan lagu-lagunya Obbie Mesakh.

“Kalau begitu Amak jangan mendesak saya terus untuk cepat-cepat kawin!” ketus Buyung Kundan merajuk, senjata pamungkasnya keluar. Maklum, anak tungga babeleang alias semata wayang. Biasa dibujuk-bujuk kalau sudah merajuk.

Sejenak diam di ujung telepon. Hati Buyung Kundan berdebar penuh harap, semoga amaknya mengalah.

“Terserah! Kalau kamu tidak malu jadi bujang lapuk!”

Plak! Hati Buyung Kundan tertampar telak.

“Atau kalau kamu sudah tidak mau jadi anak Amak lagi!”

Plak! Plak! Plak! Kali ini tamparan itu bertubi-tubi menghajar hati Buyung Kundan. Tidak jadi anak Amak lagi? Mana dia kuat? Jelek-jelek begitu, amaknya adalah tipe orang tua yang sangat perhatian. Sejak bapaknya meninggal 20 tahun yang lalu, Buyung Kundan adalah tumpuan kasih sayang amaknya. Apapun akan dilakukan amaknya untuk Buyung Kundan. Pokoknya, bagi Buyung Kundan Amak itu is the best!

“Jadi mau Amak bagaimana?” Akhirnya Buyung Kundan bertanya dengan nada lemah.

Sudah terbayang raut wajah amaknya yang penuh kegembiraan dan juga kemenangan di ujung telepon sana.

“Begini anak Amak nan coga,” Suara amaknya terdengar begitu lembut, jauh dari nada sebelumnya. Apalagi ditambah dengan sebutan coga yang berarti ‘cakep’ itu, sudah pasti ada maunya.

“Sebenarnya sejak kemarin Amak mau telepon tapi wartel di kampung sedang diperbaiki. Untung kamu menelepon tadi, jadi Amak tidak perlu menunggu lama,” imbuh amaknya lagi. Di kampung Buyung Kundan, rumah yang sudah punya telepon memang masih sedikit, jadi warga yang ingin menelepon harus ke wartel yang dibangun dekat balai desa.

Kalau Buyung Kundan mau menelepon amaknya, dia bisa menghubungi lewat rumah tetangganya yang kebetulan sudah punya telepon rumah.

“Kamu tahu kan anak Wan Sati? Yang dulu sekolah di Bukittinggi itu?” sambung amaknya lagi.

“Iya, si Mona.” Buyung Kundan tambah tak bersemangat. Sudah pasti amaknya mau menjodohkan dia dengan Mona yang berkulit hitam keling itu. Ondeh, nasib!

Bukan bermaksud menghina, Buyung Kundan sudah merasa cukup dengan kulitnya yang hitam, jadi tidak perlu lagi ditambah dengan istri yang juga berkulit hitam. Kasihan anak-anaknya nanti, tak punya harapan punya kulit putih. Dan itu artinya tidak ada perbaikan keturunan, dong!

“Mona itu kan baik, pantas untuk diperistri. Amak berniat menjodohkan kalian.”

Tuh, kan?

“Bagaimana?”

Buyung tak menjawab. Malas. Bukan apa-apa, kalau ia menolak maka pertengkaran seperti tadi akan terulang lagi, dan amaknya yang is the best itu akan kembali keluar sebagai pemenang. Itu sudah pasti.

“Lihat nantilah, Mak. Saya kan baru pulang tahun depan, masih lama. Jadi nanti sajalah kita bicarakan di kampung soal itu,” jawab Buyung Kundan setengah hati. Pasrah tapi tak rela.

Begitulah, selalu tidak ada kecocokan antara Buyung Kundan dan amaknya jika sudah bicara soal jodoh. Dan bukan sekali saja amaknya menyatakan keberatan itu, sudah berkali-kali malah. Padahal Buyung Kundan baru sekali itu mengajukan jodoh ke amaknya. Tapi wanti-wanti dari beliau itu sudah ia dengar sejak dulu, sejak ia memutuskan merantau ke Jawa. Intinya, jangan menikah dengan orang di luar suku Minang! Titik!

Sekarang beginilah nasibnya. Jangankan mencari istri, mencari tukang pijat saja susahnya minta ampun, dan lagi-lagi penyebabnya adalah Mak Condah, amaknya tercinta. Kalau saja amaknya bukan tukang pijat, apalagi tukang pijat tersohor di kampungnya, tentu Buyung Kundan bisa memanggil tukang pijat lain ke rumah.

“Memangnya Amak sudah tidak punya tenaga untuk memijat kamu! Bikin malu saja! Nanti orang sekampung mengira Amak sudah tidak becus memijat, masa anaknya sendiri minta dipijat orang lain!” sembur amaknya ketika keinginan memanggil tukang pijat itu sempat ia utarakan beberapa minggu yang lalu.

Padahal bukan begitu maksud Buyung Kundan. Ia sungguh menghormati dan menghargai profesi amaknya. Namun sebagai anak ia benar-benar serba salah. Melihat ia dipijat oleh amaknya bisa-bisa orang akan berkata sinis, “Dasar anak kurang ajar! Amaknya disuruh memijat badannya yang besar itu. Apa mentang-mentang sudah berhasil?”

Lalu Buyung Kundan harus bagaimana lagi? Badannya sudah semakin tidak karuan rasanya kerena telah berbulan-bulan tidak dipijat. Mungkin karena keletihan berpikir ditambah rasa putus asa, akhirnya Buyung Kundan tertidur sendiri di bangku panjang yang ada di teras rumahnya. Angin sepoi-sepoi membuatnya kian pulas.

Begitu terbangun Buyung Kundan kaget bukan kepalang. Seorang laki-laki tua duduk di pinggir bangku panjang yang ditidurinya sambil meraba-raba kakinya.

“Hei! Apa-apaan ini?” Buyung Kundan spontan duduk. Pikiran jeleknya muncul. Jangan-jangan kakek ini punya kelainan. Hiyyy… masa di kampung terpelosok begini ada kakek-kakek kena virus homo? Idih, najis! Buyung Kundan bergidik jijik.

Bukannya menjawab, kakek tua itu malah nyengir memperlihatkan kondisi gigi-giginya yang sudah pada pamit. Namun ada juga sirat kebingungan di wajah keriputnya.

“Ditanya malah berlagak innocent!” sembur Buyung Kundan lagi.

Laki-laki tua itu masih tak menjawab, malah senyumnya kian mengembang. Buyung Kundan jelas makin panik. Ia tidak sudi jadi korban pelecehan kakek-kakek. Biar sudah kepala tiga begini, harga diri mah masih utama, Coy!

“Dia Datuk Patih, tukang pijat kampung sebelah,” jelas amaknya yang datang membawa segelas kopi untuk laki-laki yang bernama Datuk Patih itu.

“Telinganya sudah pekak, jadi tidak mendengar lagi kalau diajak bicara. Harus dengan isyarat-isyarat,” jelas amaknya lagi.

Ooo…syukurlah! Hati Buyung Kundan pun jadi lega.

“Kenapa Amak menyuruh dia memijat saya?” tanya Buyung Kundan sambil kembali tengkurap di bangku panjangnya.

Mak Condah duduk di kursi rotan tua yang terletak di samping Buyung Kundan. Agak lama perempuan itu terdiam sebelum akhirnya bicara, “Untuk menebus rasa bersalah Amak sama kamu. Makanya tadi Amak suruh si Sarip menjemput Datuk Patih ini. Kamu kan sudah lama ingin dipijat, tapi dipijat sama Amak tidak mau.”

Buyung Kundan terdongak, “Kata Amak untuk menebus rasa bersalah?”

“Iya, Yung. Soal calon istri kamu yang Amak tolak dulu itu.”

Buyung Kundan tersenyum kecil, “Sudahlah, Mak. Mungkin bukan jodoh saya. Lagi pula bagi saya restu Amak lebih penting.”

Amaknya kembali terdiam, sementara Buyung Kundan juga kembali memejamkan mata, menikmati pijatan tangan keriput Datuk Patih. Entah karena sudah lama tidak dipijat atau karena Datuk Patih sudah puluhan tahun jadi tukang pijat, maka pijatan itu terasa begitu enak bagi Buyung Kundan.

“Amak jadi makin merasa bersalah ketika tahu si Mona ternyata sudah hamil di luar nikah,” Mak Condah menatap anaknya dengan hati iba.

Buyung Kundan hanya diam mendengarkan. Ia terlalu keenakan menikmati pijatan Datuk Patih. Lagi pula ia sudah tahu soal kehamilan Mona tersebut. Dan ia malah bersyukur karena tidak jadi dijodohkan dengan gadis hitam keling itu.

“Ada satu lagi, Yung…”

“Hm…” Buyung Kundan masih tengkurap dengan mata terpejam.

“Sebenarnya Amak keberatan dengan calon kamu itu bukan karena beda suku dengan kita.”

Buyung terusik juga, sembari tetap tengkurap ditolehnya perempuan tua yang sudah beruban itu.
Mak Condah lagi-lagi terdiam.

“Lalu kenapa, Mak?” Buyung Kundan jadi penasaran.

Mak Condah menatap Datuk Patih dengan muka canggung. Yang ditatap tak peduli, membalas pun tidak. Sepertinya suara-suara di sekelilingnya memang sudah tak menarik bagi laki-laki tua itu. Tentunya selain karena telinganya yang memang sudah disconnect.

“Kata Amak dia tidak akan mendengar pembicaraan kita,” ujar Buyung Kundan seakan mengetahui kekhawatiran amaknya.

“Iya. Sebenarnya… Amak menolak karena Amak takut tidak bisa berbicara dengan menantu Amak sendiri. Amak kan tidak bisa berbahasa Indonesia, Yung. Apa nanti kata orang sekampung melihat Amak dan menantu Amak hanya saling diam tak bertegur sapa? Kalaupun bertegur sapa, pastilah dengan bahasa isyarat seperti bicara dengan Datuk Patih ini, apa enaknya seperti itu? Amak pasti ditertawakan orang,” jelas Mak Condah dengan suara bergetar.

Hah??? Kali ini Buyung Kundan benar-benar mendongak. Jadi itu alasan amaknya yang sebenarnya? Ya Tuhan, apakah dia yang tidak peka ataukah amaknya yang terlalu pandai menutupi kekurangan? Lalu itukah maksud amaknya mendatangkan tukang pijat tuli ini jauh-jauh dari kampung sebelah? Agar ia tahu betapa sulitnya berkomunikasi jika kita tak bisa satu bahasa? Duh…

“Mak,” Buyung Kundan menggeleng-gelengkan kepala penuh kekaguman, “Amak itu benar-benar hebat, ya! Is the best!”

“Maksud kamu, Yung?” emaknya mengerutkan alis bingung.

Buyung Kundan hanya tersenyum geli, sambil kembali merebahkan kepala dan memejamkan mata, untuk menikmati pijatan demi pijatan Datuk Patih yang terasa nikmat luar biasa. (V)

Ciputat, Februari 2009

(Cerpen ini meraih juara 1 dalam lomba yang diadakan oleh MataKataKita)

Baca juga cerpen lainnya: Kursi Goyang Ayah

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini juga jadi Tour Planner di program Muslimah Trip, dan masih aktif sebagai relawan GenPi bentukan Kemenpar untuk Halal Tourism Indonesia.


7 thoughts on “Tukang Pijat

  1. cputriarty

    kata-katanya mengalir begitu indah dan kekuatan inti ceritanya juga melekat banget. Pantesan aja menjawarai ya mba Novi. Eh betewei saya udah nunggu folbek twitternya sejak lama banget :(( (@cputriarty). Maturnuwun.

    Reply
  2. Nirafdi Pitopang

    Sebuah cerita yang sangat menarik, dan menggunakan nama orang orang yang ada disekitar Novia sendiri, hebatnya nama tokok yang satu dengan.nama tokoh yang lainnya tidak saling berhubungan. Kalau sempat berhubungan dia bukan lagi cerpen melainkan biografi seseorang. Dengan membaca ini saya seakan kembali ke masa kecil dikampung dulu. Karena pilihan nama tokohnya sangat akrab diteliga saya

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *