Wali Nagari

wali-nagariSejak Sutan Mangkuto jadi Wali Nagari di kampung Parak Durian, banyak kejadian aneh yang terjadi. Yang merasakan peristiwa aneh itu pertama kali adalah Haji Malin. Ia mengeluh belakangan ini tak bisa lagi berzikir dengan khusyuk. Jangankan di rumahnya, di surau tempat ia menjadi imam pun tidak bisa. Entah sudah berapa kali lelaki tua itu melakukan shalat taubat, jangan-jangan ada dosa yang tak disadarinya, yang telah membuat hatinya terhijab dari Allah. Namun sampai hari ini, masih saja tak ada perubahan yang ia rasakan.

Kejadian lain yang dialami penduduk kampung itu adalah panen durian yang menyedihkan. Sebagai penghasil durian terbaik, kampung Parak Durian belum pernah mengalami kesialan semacam ini. Buah-buah durian yang mereka panen hampir semuanya busuk dan jatuh sebelum waktunya. Dan hal itu terjadi baru pada panen tahun ini, tepatnya tiga bulan setelah pelantikan Sutan Mangkuto sebagai Wali Nagari.

Kemudian ada lagi kejadian yang tak kalah anehnya. Pada malam perhelatan yang diadakan Sutan Mangkuto untuk merayakan sunatan anaknya, tiba-tiba muncul angin limbubu dari arah belakang rumahnya. Penduduk yang hadir di sana langsung berlarian menyelamatkan diri. Sudah berpuluh-puluh tahun kampung ini tak didatangi angin limbubu, kenapa sekarang tiba-tiba muncul tanpa tanda apa-apa?

Semua kejadian-kejadian aneh itu telah menjadi buah bibir orang sekampung. Sutan Mangkuto yang mengerti kekhawatiran masyarakatnya, mencoba menenangkan.

“Semua kejadian itu adalah hal biasa. Hukum alam yang tak perlu dicemaskan. Cuaca yang kurang baik, memang bisa mengakibatkan panen durian kita tidak bagus.  Begitupun dengan angin limbubu yang tiba-tiba muncul. Sebenarnya memang sudah saatnya angin tersebut berputar melewati kampung kita, setelah berkeliling ke negeri-negeri lain selama puluhan tahun. Jadi tenanglah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tuhan tidak akan mengazab kita jika kita…”

BUK! Kalimat Sutan Mangkuto terpenggal tiba-tiba. Benda bulat berduri yang jatuh persis di sampingnya membuat Wali Nagari itu terperanjat bukan main. Rupanya ia lupa kalau sedang berpidato di bawah pohon durian. Namun Sutan Mangkuto bukan orang sembarangan. Otaknya termasuk licin dalam mengantisipasi keadaan. Kejadian yang nyaris membocorkan kepalanya itu  malah menimbukan ide baginya.

“Nah, misalnya saja kejadian ini. Adalah wajar jika saya ditimpa buah durian, sebab saya berdiri tepat di bawah pohonnya. Jadi semua kejadian ini sangat masuk akal bukan? Kecuali kalau saya berdiri di atas podium, lalu tiba-tiba ada durian jatuh di samping saya, itu baru aneh bin ajaib,” ujarnya tersenyum lebar.

Orang-orang kampung hanya diam. Mereka masih sibuk mengurut dada, melihat buah durian yang nyaris membunuh Wali Nagari mereka. Hanya para dubalang kampung yang menyahut, membenarkan ucapan Sutan Mangkuto. Para dubalang itu adalah orang-orang yang bertugas menjaga keamanan kampung, terutama kemanan Wali Nagari.

“Tapi bagaimana dengan keluhan Haji Malin itu, Pak Wali? Beliau mengaku sudah beberapa bulan ini tak bisa berzikir dengan khusyuk. Padahal sebelumnya tak pernah seperti itu,” tanya seorang warga kampung.

“Oo… itu soal lain. Zikir itu urusan manusia dengan Tuhan. Jadi jangan ditanyakan pada saya. Mungkin Haji Malin saja yang kurang beribadah akhir-akhir ini. Toh saya tidak begitu. Saya tetap bisa khusyuk jika melakukan shalat tahajjud. Malah rasanya sulit menahan air mata saya ketika sedang berzikir,” jawab Sutan Mangkuto santai.

Orang-orang saling memandang. Mereka baru tahu kalau Wali Nagari yang baru ini rajin shalat malam. Soalnya, untuk shalat Jumat saja beliau kadang ijin, dengan alasan ada tugas penting kenagarian yang harus dikerjakan.

“Baiklah, saya permisi dulu. Silakan bekerja kembali seperti biasa. Percayalah, tidak akan terjadi apa-apa lagi.” Sutan Mangkuto melangkah pergi, diikuti oleh dua orang dubalang kampung.

@@@

Dunsanak semua, saya rasa sudah terjadi kesalahan besar di kampung ini,” kata Haji Malin yang akrab dipanggil Buya itu, ketika berkumpul bersama beberapa tokoh tua di kampung Parak Durian. Saat itu mereka baru saja selesai menunaikan shalat Isya berjamaah di surau tua milik Haji Malin.

“Maksud, Buya?” Datuk Nan Kayo bertanya bingung.

“Entah apa yang telah kita lakukan hingga kampung ini seperti dikutuk Allah. Dunsanak lihat sendiri, bukan, berbagai peristiwa aneh telah terjadi,” jelas Haji Malin prihatin. “Yang terbaru adalah meranggasnya pohon-pohon di sepanjang jalan kampung. Saya sungguh khawatir, jangan-jangan besok sawah ladang kita yang akan mengalami nasib naas.”

“Tapi mungkin ini ujian dari Yang Kuasa.” Mak Itam menyela.

“Mungkin saja demikian. Tapi apakah tidak mungkin pula bahwa semua ini adalah karena kesalahan kita-kita?” Haji Malin menatap jamaahnya bergantian.

“Kesalahan apa?” tanya Mak Itam tak mengerti.

Haji Malin terdiam. Ia belum berani mengungkapkan pendapatnya. Terlalu dini untuk menyampaikannya jika belum ada bukti.

“Maaf, Buya. Kalau saya boleh mengutarakan pendapat, saya merasa kesalahan terbesar kita adalah memilih Sutan Mangkuto sebagai Wali Nagari!” Buyung Angek angkat bicara.

Semua mata menoleh padanya.

“Apa maksudmu, Buyung?” tanya Haji Malin berdebar. Sebenarnya itu jugalah yang tadi hendak disampaikannya. Tapi menuduh Wali Nagari sebagai penyebab semua ini tentu sangat beresiko. Lagi pula tidak ada bukti yang nyata bahwa semua musibah itu disebabkan oleh Sutan Mangkuto sebagai Wali Nagari Parak Durian.

“Saya merasa ada yang aneh pada Wali Nagari kita. Beliau terlihat begitu berbeda dibandingkan ketika dulu belum menjabat sebagai Wali Nagari. Dulu kita merasa akrab dengannya. Beliau selalu jadi orang paling dahulu dalam menangani persoalan-persoalan yang terjadi di kampung ini. Tapi sekarang? Beliau selalu jadi orang terakhir. Sebelum orang-orang di kampung gempar, beliau belum mau turun tangan menyelesaikan. Ini menandakan bahwa beliau dulu hanya mengambil hati kita untuk diangkat jadi Wali Nagari.” Buyung Angek mengemukakan pendapatnya panjang lebar.

“Betul, Buya!” Ujang Leman menimpali. “Ketika seminggu yang lalu kambing saya hilang dicuri maling, saya melaporkannya pada Pak Wali. Tapi beliau acuh-acuh saja dan menyuruh saya mencarinya lagi. Lalu kemarin saya laporkan lagi bahwa kambing saya masih belum bertemu juga, eh, beliau malah menyuruh saya bersabar saja. Mungkin itu sudah nasib saya. Padahal dulu, ketika ayam dubalang yang hilang, pencurinya langsung ditemukan dan dihukum. Nah, ini tandanya Wali Nagari kita itu tidak adil!”

Tak hanya Buyung Angek dan Ujang Leman yang mengemukakan pendapat, beberapa jemaah lain juga ikut berkomentar. Haji Malin tampak terdiam agak lama, menyimak setiap keluhan para jamaah di suraunya itu. Keluhan yang sebenarnya juga ia rasakan dalam hatinya, namun selalu ia pendam. Ia tak mau terlalu cepat berprasangka, meski hati kecilnya yakin ada sesuatu yang tidak beres pada Wali Nagari mereka itu.

“Sebaiknya kita tunggu dulu. Kita lihat perkembangan kampung ini selanjutnya. Siapa tahu ini memang cuma kebetulan, sebuah kejadian yang alamiah, seperti kata Pak Wali minggu lalu.” Haji Malin bersikap menengahi. Ia tak ingin para jemaah itu jadi emosional dalam menghadapi persoalan ini.

“Kebetulan bagaimana? Buya sendiri pernah bilang, bahwa di dunia ini tak ada kejadian yang terjadi secara kebetulan. Semuanya pasti ada sebabnya, pasti ada hikmahnya dan pasti sudah direncanakan Allah.” Mak Itam menyanggah.

“Betul, Mak Itam. Maksud saya, kita tidak bisa berbuat apa-apa jika hanya berlandaskan pada prasangka. Pak Wali tak pernah terlihat melakukan kejahatan secara nyata. Apalagi beliau baru menjabat beberapa bulan.” Haji Malin mencoba memberi pengertian.

“Baru beberapa bulan saja sudah begini, apalagi kalau bertahun-tahun! Apa kita harus menunggu sampai kampung ini jadi binasa dilanda berbagai musibah?” tandas Buyung Angek.

Semua yang hadir terdiam. Raut mereka terlihat resah. Haji Malin berkali-kali tampak menarik napas berat.

Angku-angku!! Ada kejadian aneh!” Tiba-tiba Buyung Ketek muncul di tangga surau dengan napas memburu.

“Apa yang terjadi, Buyung?” tanya Haji Malin heran.

“Baru saja saya melihat api sijundai melayang-layang di sekitar jalan kampung!”

“Apa? Api sijundai?” Haji Malin dan beberapa jemaah menyahut serentak. Wajah mereka langsung terlihat tegang. Haji Malin mengucap istighfar dengan wajah prihatin. Beliau nyaris tak percaya pada apa yang disebut api sijundai itu. Yang ia tahu, biasanya api berbentuk bulat sebesar bola kasti itu hanya ada dalam cerita masyarakat, tapi jarang sekali ada yang melihatnya. Sebab itu berhubungan erat dengan penganut ilmu hitam.

“Saya melihatnya dengan jelas, Buya! Ekornya kira-kira sehasta orang dewasa. Warnanya merah kekuningan!” Buyung Ketek meyakinkan dengan suara bergetar. Jika melihat ekspresi wajahnya, jelas Buyung Ketek tak mungkin berbohong. Lagi pula dia bukan tipe manusia pembohong.

“Kemana arahnya?” tanya Mak Itam sambil menatap Buyung Ketek tajam.

“Tidak jelas, Mak. Tapi sepertinya ke arah Timur.”

“Setahu saya, api sijundai itu hanya akan muncul  pada saat mencari tuannya, Buya. Berarti di kampung ini memang ada yang memelihara ilmu hitam!” Kalimat Buyung Angek membuat para jemaah saling berpandangan. Raut mereka kian tegang.

“Begini, dunsanak sekalian.” Haji Malin berdehem kecil. “Kalau memang ada yang menganut ilmu hitam di kampung ini, maka sudah kewajiban kita semua untuk mencegahnya. Tapi jangan bertindak gegabah! Kita harus pastikan dulu, siapa orangnya!” tegasnya. Para jemaah mengangguk setuju.

@@@

Keesokan harinya tak ada hal yang mencurigakan di kampung Parak Durian. Semua berjalan seperti biasa. Sutan Mangkuto pun masih terlihat melenggang tenang di tengah kampung. Sepertinya ia tidak terpengaruh oleh berita heboh tentang api sijundai semalam.

“Hal itu tidak perlu dibesar-besarkan. Kalian memang tidak ilmiah sedikitpun, percaya pada hal-hal semacam itu. Tahayul!” kata Sutan Mangkuto sambil tertawa. Ia duduk di kedai ujung kampung yang memang sedang ramai. Pembicaraan orang-orang di sana tak beranjak dari masalah api sijundai tersebut.

“Maksud Pak Wali bagaimana?” tanya salah seorang dari mereka.

Sutan Mangkuto mengusap dagunya dengan gaya pajabat tinggi. “Begini dunsanak semua. Api sijundai itu sebenarnya bukan hal yang menakutkan seperti yang kalian bayangkan. Itu adalah tahi bintang alias meteor. Jadi wajar saja kalau kita jarang melihatnya. Meteor itu kan benda langit yang secara alamiah dan ilmiah akan jatuh ke bumi jika terjadi benturan hebat di luar angkasa. Maka salah satu dari pecahannya itulah yang kita lihat sebagai api sijundai.”

Orang-orang yang duduk di kedai menyimak dengan serius, meski sebenarnya mereka tidak mengerti sama sekali dengan penjelasan Wali Nagari itu. Tapi dari pada dituduh mempercayai tahayul, maka akhirnya mereka mengangguk membenarkan. Setidaknya sebagian mereka jadi tahu bahwa Wali Nagari mereka itu rupanya sangat hebat pengetahuannya.

@@@

Haji Malin membuka pintu rumahnya ketika mendengar panggilan cukup keras malam itu. Ternyata suara Buyung Angek.

“Buya, tolong ikut dengan saya sekarang juga! Sesuatu telah menimpa Pak Wali!” seru Buyung Angek tersengal. Di tangannya tergenggam lampu senter yang masih menyala.

“Apa yang terjadi, Buyung?” Haji Malin segera menuruni anak tangga dengan raut khawatir.

“Pak Wali menjerit-jerit sejak Magrib tadi. Beliau seperti ketakutan sekali, Buya. Sampai-sampai beliau naik ke atas atap rumahnya. Katanya ada galodo yang akan menuju ke kampung kita ini!”

“Apa? Galodo?” Haji Malin tampak heran. Segera ditutupnya pintu dan bergegas mengiringi langkah Buyung Angek.

Rumah Sutan Mangkuto sudah penuh sesak oleh orang-orang kampung yang ingin melihat keadaannya. Wali Nagari itu seperti tak menghiraukan keheranan masyarakatnya. Ia terus bertahan di atas atap rumahnya dan sedikitpun tidak ada tanda-tanda akan segera turun.

Haji Malin dan Buyung Angek tiba di sana tepat jam sebelas malam. Melihat Haji Malin, Sutan Mangkuto langsung berteriak.

“Buya! Tolong katakan pada semua orang-orang kampung ini, agar mereka segera menyelamatkan diri. Sejak tadi mereka terus berdiri di situ, tidak mendengarkan kata-kata saya. Sebentar lagi galodo besar akan datang melanda kampung kita. Saya sudah melihatnya di kejauhan!”

Haji Malin terpana beberapa saat. Apa maksud Wali Nagari itu sebenarnya?

“Pak Wali, kami tidak mengerti apa yang Pak Wali maksudkan itu. Kami tidak melihat sedikitpun tanda-tanda galodo akan datang!” Haji Malin jadi ikut berseru.

“Bagaimana pula Buya ini? Yang namanya galodo itu, datangnya tidak pernah permisi. Selalu tiba-tiba, Buya!” balas Sutan Mangkuto pula.

Haji Malin dan orang-orang kampung saling berpandangan. Istri Sutan Mangkuto hanya tertunduk pilu melihat kelakuan suaminya. Sejak tadi ia selalu menggeleng tiap kali ditanya perihal tingkah suaminya yang aneh itu.

Dan sampai Subuh, tak seorangpun berhasil membujuk Sutan Mangkuto untuk turun. Ia malah sempat histeris ketika Haji Malin beranjak menuju surau.

“Buya! Jangan pergi dulu! Coba lihat ke sana, itu dia galodo yang akan merambah kampung kita!” teriak Sutan Mangkuto histeris. Semua mata tertuju ke arah yang ditunjuk Wali Nagari itu. Dan untuk kesekian kalinya mereka tak menemukan apa-apa. Haji Malin menatap lelaki itu prihatin dan kembali melanjutkan langkahnya. Sebentar lagi waktu shalat Subuh akan masuk.

Baru lima menit sejak Haji Malin pergi tiba-tiba Sutan Mangkuto kembali berteriak. Kali ini lebih keras lagi. “Hei, coba kalian lihat! Itu! Itu dia! Galodooo…!!!” Telunjuk Sutan Mangkuto terarah lurus ke Selatan. Spontan orang-orang yang masih berada di halaman rumahnya menoleh. Dan kali ini mereka tak hanya menemukan kegelapan, tapi juga sebuah bola api dengan ekor sepanjang satu hasta.

“Itu bukan galodo! Tapi api sijundai!” Buyung Ketek yang sejak tadi duduk di bawah tangga berteriak.

Semua mata yang menatap bola api itu tertegun tak percaya. Seumur hidup baru kali ini mereka melihat api sijundai yang ceritanya sangat populer itu. Saking tertegunnya, mereka tak menyadari ketika Sutan Mangkuto merosot dari atas atap. BRUK! Suara tubuhnya yang jatuh ke tanah membuat orang-orang langsung tersadar bahwa Wali Nagari mereka telah turun dari atap rumahnya dengan cara yang sangat menyedihkan. Rupanya Sutan Mangkuto langsung tak sadar diri ketika melihat bola api itu mendekat.

@@@

Haji Malin mengucap istighfar ketika dikabari nasib naas Sutan Mangkuto. Wali Nagari itu hanya bernapas beberapa menit saja begitu jatuh dari atap. Setelah itu nyawanya pun lepas dari raga, tepat ketika bola api berwarna merah itu melayang menghantam bagian belakang rumahnya. Dan sekejap kemudian api pun berkobar. Menurut istrinya, bagian yang terbakar itu adalah kamar yang biasa dipakai Sutan Mangkuto untuk memperdalam ilmu hitamnya.

“Itulah kesalahan terbesar kita. Kita telah mengangkat orang yang menyekutukan Allah sebagai pemimpin kita. Bahkan alam pun menolak kepemimpinannya. Panen durian gagal, pohon-pohon meranggas, sawah ladang kering kerontang dan sebagainya,” ujar Haji Malin sebelum meninggalkan surau pagi itu. (V)

(Cerpen ini telah dimuat dalam buku antologi berjudul: 20 Tahun Cinta (Penerbit Senayan Abadi)

Catatan kaki:

dunsanak = saudara

dubalang = penjaga kampung

limbubu = angin yang berputar-putar

sijundai = guna-guna

galodo = banjir

Baca juga cerpen lain: Sepotong Kata Cinta

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *