Sebuah Wasiat Tak Tersurat

wasiatLama baru saya tergerak menulis ini. Begitu sulit melepaskan perasaan tak nyaman ketika harus menceritakan kembali tentang sosok yang telah mengalirkan darahnya dalam tubuh saya. Sosok yang telah berpulang di usia 75 tahun dan meninggalkan banyak kenangan bagi saya. Tentu tak semua kenangan itu bisa saya ceritakan disini. Terlalu banyak dan lama waktu yang dihabiskan bersama. Yang buat orang lain mungkin tak menarik.

Tapi mungkin menarik mengetahui bahwa beberapa tahun silam beliau berwasiat pada saya. Sebuah wasiat tak tersurat.

“Sakaratul maut itu sangat sakit. Saya nggak mau menjelang meninggal nanti ditambah lagi rasa sakitnya dengan berbagai peralatan medis. Biarkan saya meninggal tenang di rumah. Peralatan medis tak akan mampu menghalang maut. Sudah berapa banyak orang yang meninggal di Rumah Sakit, dan saya tidak mau jadi salah satunya.”

Begitu beliau berpesan pada saya. Mungkin karena waktu itu hanya saya yang di rumah (efek anak bungsu, paling lama di rumah) makanya pesan itu hanya saya yang tahu. Dan beliau waktu itu masih terbilang muda dan sehat hingga wasiat itu hanya tersimpan dalam benak saya tanpa pernah tersampaikan ke saudara yang lain. Barulah saat beliau sakit parah beberapa bulan yang lalu wasiat itu saya sampaikan.

Bagi seorang anak, membawa orang tua ke RS adalah ikhtiar untuk menolong dan bentuk bakti. Namun di sisi lain ada wasiat yang harus ditunaikan. Saya sebagai pendengar langsung wasiat itu menyampaikannya saat kami (saya dan dua kakak saya) berada di RS. Ketika tubuh ringkih beliau hendak di-observasi oleh pihak RS, beliau sudah tidak sanggup bicara. Namun erangan dan air mata yang menetes di pelipis beliau membuat kami paham bahwa beliau menolak observasi tim medis.

Kamu bisa bayangkan betapa tidak nyamannya ketika dimasukkan slang ke dalam hidung menuju tenggorokan dan juga ke dalam saluran kemih.

“Saya sudah mau mati, nggak usah dimacam-macamin lagi,” begitu beliau pernah berkata ketika masih sanggup bicara beberapa minggu sebelumnya.

Akhirnya kami meminta perawat yang bertugas untuk membatalkan observasi.  Bisa dibayangkan kemudian bagaimana alotnya tarik ulur antara kami dan pihak medis. Pihak RS tetap menyarankan observasi dilaksanakan sementara kami keukeuh dengan wasiat beliau.

“Lalu untuk apa dibawa ke RS?” tanya dokter yang bertugas.

Saya rasa pihak medis sudah mulai kesal dan kami memaklumi itu. Kami hanya meminta waktu satu malam untuk mendapatkan aliran infus dan penginapan. Selanjutnya akan kami bawa pulang dan melanjutkan pemasangan infus di rumah karena beliau memang sudah tidak sanggup menelan apapun.

Malam berlalu. Keesokan harinya beliau dibawa pulang dan dirawat di rumah dengan asupan berupa infus. Entahlah, saat itu kami semua sudah pasrah. Kondisi beliau yang sejak beberapa bulan terakhir mulai tidak stabil akibat penyakit diabetes dan hipertensi, semakin menurun di minggu-minggu tersebut. Beliau sudah seperti orang tertidur pulas dengan suara ngorok yang semakin lama semakin halus.

Dan pada akhirnya, Allah pun menetapkan takdir, beliau berpulang diam-diam dalam tidur lelapnya. Bahkan ibu saya yang ada disamping beliau pun tak tahu kapan tarikan napas terakhirnya. Innalillaahi wa inna ilaihi rojiuun…

Dan saya, saat malam itu mendapat telepon dari ibu saya tentang kabar duka ini, hanya menarik napas dalam dan panjang. Harusnya malam itu giliran saya berjaga disana setelah beberapa hari sebelumnya giliran abang saya. Saya menitikkan air mata, ada rasa kecewa pada diri sendiri. Namun di sisi lain hati saya lega karena merasa sudah menunaikan wasiat beliau untuk dibiarkan meninggal dengan tenang di rumah, bukan di antara peralatan medis.

shalira1Terbayang beberapa minggu sebelumnya beliau ngotot ingin ke rumah saya dan tiap hari menanyakan saya. Ibu saya sampai menelepon berkali-kali agar saya datang. Dan saat saya datang beliau pun bangun, berceloteh banyak, antara sadar dan tidak. Saya temani duduk-duduk di halaman sambil menyuapi beliau.

Terbayang bagaimana dulu beliau sering mengulang-ulang kalimat, “Saya tidak akan memberi dosa anak-anak saya, apapun kesalahannya. Karena sebagai orang tua saya sadar tidak mampu memberikan pendidikan agama pada mereka. Mereka belajar sendiri, mencari guru sendiri, dan hutang saya pun tunai karena usaha mereka.”

Terbayang bagaimana dulu beliau mendiktekan kata perkata, kalimat perkalimat untuk saya tulis dan saya hapalkan karena saya ditunjuk pihak sekolah untuk menyampaikan pidato di sekolah. Sepertinya bakat menulis saya adalah warisan bakat dari beliau.

Terbayang dulu tiap kali saya sakit, usapan tangan beliau di kening adalah kegembiraan dan semangat sembuh bagi saya. Maka menunggu beliau pulang dari kantor sambil berbaring di tempat tidur adalah sesuatu yang membosankan bagi saya.

Dan terbayang pula bagaimana beliau mengomel panjang lebar karena sesuatu dan saya selalu jadi anak paling ‘kurang ajar’ karena selalu berani menyahuti omelan beliau dengan maksud membela diri. Namun segalak apapun beliau, segala kenangan masa lalu itu selalu terasa manis dan berkesan bagi saya.

apa

Rabbighfirli waliwaalidayya warhamhuma kamaa rabbayaani shaghiiraa….

Terakhir, saya mengucapkan terimakasih pada semua pihak yang telah melapangkan hati untuk mendoakan dan memaafkan kesalahan beliau. Juga untuk semua pihak yang sudah meringankan langkah penghadiri pemakaman beliau. Semoga semuanya dibalas Allah dengan pahala berlipat ganda. Aamiinnn…

Baca juga: Antara salah kostum dan berat badan.

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


4 thoughts on “Sebuah Wasiat Tak Tersurat

  1. Teman Lama

    ” Sakaratul maut itu sangat sakit. Saya nggak mau menjelang meninggal nanti ditambah lagi rasa sakitnya dengan berbagai peralatan medis. Biarkan saya meninggal tenang di rumah.
    Saya tidak akan memberi dosa anak-anak saya, apapun kesalahannya. Karena sebagai orang tua saya sadar tidak mampu memberikan pendidikan agama pada mereka. ”
    Kata2 itu jg pernah keluar dari mulut ibuku….
    Jadi ingat Ibu…..

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *