Yakin Mau Membeli Follower?

Tak bisa dipungkiri, dunia blogger saat ini sudah dirambati oleh dunia buzzer. Karena ada orang yang ngeblog benar-benar untuk jadi buzzer. Bukan karena kecintaannya terhadap dunia blogging yang sejatinya adalah dunia tulis menulis. Terbukti dengan banyaknya blog yang isinya nyaris review dan promosi semua. Namun di sisi lain masih ada juga blogger yang tetap menikmati dunia blogging tanpa tertarik untuk ngebuzzer.

Jika dulu dunia blogger benar-benar berkutat di platform blog, maka di era masifnya buzzer ini maka platform-nya menjadi lebih luas, merambah jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dll. Karena sebagai sponsor, klien tentu berharap promosi mereka berjalan di banyak platform sehingga promosi pun berlangsung masif dan agresif. Blog sebagai media sosial adalah platform utama dan Facebook, Twitter, Instagram dan jejaring sosial lainnya sebagai platform pendukung.

Lalu apa masalahnya?

Sejak ngebuzzer jadi trend di kalangan blogger, maka tuntutan untuk memiliki banyak follower pun jadi PR bagi para blogger ini. Masalahnya, sebagian mereka adalah pemain baru, jadi dari segi jumlah, follower-nya memang masih sedikit. Sementara klien meminta syarat yang tinggi.

Begitupun bagi blogger yang ingin tulisannya dibaca banyak orang agar banyak juga yang memetik manfaat dari tulisannya, memiliki banyak follower juga penting. Karena melalui follower lah sebuah tulisan menjadi viral.

Maka dari sini muncullah para penjual follower untuk menawarkan jasa. Jual beli follower pun terjadi. Persetan follower-nya manusia beneran atau jin, yang penting jumlahnya banyak sesuai yang diinginkan. Meski itu sudah biasa dilakukan para buzzer, tapi ternyata ini tetap dianggap aib dan nyaris gak ada yang mau mengaku kalau follower-nya hasil beli di lapak sebelah hehe… Lucunya, para penjual follower inipun seringkali menutupi jati dirinya, seolah-olah mereka jualan barang seludupan 😀

Tapi sejatinya benarkah seremeh itu?

Saya paham, untuk mendapatkan follower banyak tidaklah mudah. Tapi apakah memang harus dengan membeli? Masih yakin hasilnya berkah? Yakin gak membohongi klien? Jangan lupa, klien itu butuh real follower, yang akan membaca postingan kita di media sosial dan jejaring sosial. Bukan dibaca oleh jin atau robot. Lalu apa bedanya kita dengan peserta kampanye yang membeli suara atau membuat surat suara palsu demi memenangkan pemilu?

Baiklah, ini memang pertanyaan yang gak perlu dijawab karena ditujukan pada hati nurani masing-masing. Yang gak boleh kita sepelekan adalah, bahwa hasil yang didapat itu akan jadi nafkah keluarga. Untuk makan anak-anak kita.

Tapi dari pada kita membahas halal haram yang bukan ranah saya sebagai orang yang masih awam ilmu agama, lebih baik simak nih sedikit tips anti galau saat melihat follower yang sepi 🙂

Pertama. Follower itu artinya pengikut. Orang yang mengikuti kita. Orang yang mengikuti ini biasanya adalah orang yang sudah punya mindset positif tentang kita. Karena kalau dia benci sama kita, jangankan di-follow, yang ada kita diblokir hehe… Maka tugas kita adalah membentuk mindset positif tentang diri kita, menguatkan personal branding kita secara wajar dan benar. Sementara follower yang dibeli, mana tahu dia tentang kita? Apalagi kalau mereka ternyata cuma siluman yang pura-pura jadi manusia, makin jauh panggang dari api 😀

Kedua. Untuk dapat follower, maka berusahalah memosting konten-konten bermanfaat, menarik, menghibur dan konsisten, baik di blog ataupun jejaring sosial. Makanya dikatakan bahwa konten adalah raja. Orang akan dengan senang hati mengikuti kita karena merasa mendapatkan manfaat dari postingan-postingan kita meskipun hanya untuk tersenyum karena terhibur membacanya.

Ketiga. Mulailah dengan jadi follower terlebih dahulu. Percayalah, kita gak hina kok dengan mem-follow banyak orang. Penyakit kronis blogger atau buzzer (gak semua lho ya) adalah perasaan emoh mem-follow orang tapi maunya di-follow. Memangnya hina banget kalau jumlah following kita 5000 sementara follower kita cuma setengahnya? Padahal gak sesadis itu juga sih, dari 5000 yang kita follow, paling tidak 4000 an akan follow back kita dengan durasi beberapa minggu atau apes-apesnya beberapa bulan. Jadi ruginya dimana kalau kita follow duluan? Bukankah kita yang butuh banyak follower, jadi wajar dong kita berusaha mem-follow duluan. Kalau kita sepenting TMC Polda Metro Jaya (dengan 1 following dan 6 jutaan follower) ya gak usah follow orang lain hehe…

Keempat. Kita bisa adakan semacam kuis, giveaway dan sejenisnya untuk menarik minat orang menjadi follower kita. Para pelapak (online shop) sering menggunakan cara ini untuk menambah follower mereka. Dan ini cara yang sah-sah saja jika digunakan oleh para blogger maupun buzzer. Modalnya jelas, metodenya jelas dan hasilnya juga jelas.

Kelima. Nikmatilah proses yang harus kita jalani ketika memutuskan jadi blogger atau buzzer. Segala yang instan hasilnya tidak akan maksimal. Semua orang sukses pasti merintis dari bawah dan mereka berusaha mencintai proses itu sendiri. Ketika tata bahasa kita saja masih berlepotan typo, masa iya sudah ingin disebut penulis profesional? (Ehm, saya juga masih suka typo 😛). Disaat follower saja masih secuil, masa iya sudah bermimpi dapat job besar kayak Ria Ricis? Bersabarlah, semua ada proses, dan rugi sekali ketika kita mencoba memutus mata rantai proses itu hanya demi materi. Ingat, Gaes, pengalaman itu mahal lho dan tak pernah bisa dibeli.

Begitupun ketika memutuskan jadi blogger, belajarlah mencintai dunia tulis menulis sehingga tanpa dibayar pun kita tetap akan menulis di blog. Seorang blogger itu isi blognya tidak melulu review produk, namun juga ide, pemikiran, informasi dan gagasannya sebagai individu. Dengan konsisten menulis konten bermutu dan bermanfaat, insya Allah follower kita akan terus bertambah secara alamiah dan loyal. Mencari follower dengan menulis konten semenarik mungkin adalah hal yang paling disarankan untuk para blogger.

Begitupun saat memutuskan jadi buzzer, belajarlah untuk jujur karena ini terkait dengan kepercayaan pihak lain. Belajar profesional dan menjauhi sifat dan sikap yang bisa merusak kepercayaan klien. Sebab di sini buzzer dibayar oleh klien. Sudah sangat banyak buzzer yang berkasus dengan klien atau dengan sesama buzzer hanya karena masalah job dan ketidakprofesionalan mereka. Bahkan sekadar menulis review pun malas padahal klien pasti sudah menghitung jumlah review yang akan mereka dapat sesuai jumlah buzzer yang diundang. Di sini kita sudah mencederai kepercayaan klien dan mencederai kepercayaan koordinator yang mengajak kita tentunya.

Nah, back to topic, masih tertarik dan yakin mau membeli follower? Ingat, hidup ini cuma sebentar, Gaes! Tapi hidup juga tidak seinstan mie rebus, hehehe… Jangan terlalu serius merekayasa hidup. Nikmatilah prosesnya, segala yang tumbuh secara alami jauh lebih berkualitas dari pada yang karbitan. Dan begitulah seharusnya cara kita menghargai diri sendiri. Jika membaca artikel ini saja kamu sudah baperan, tersinggung dan pengen nge-bully, bagaimana kelak kamu menghadapi kerasnya hidup dan persaingan yang setajam silet? 😀 (NSR)

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di Blogger Muslimah, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di Asia Wisata, juga relawan di program Wonderful Indonesia.


12 thoughts on “Yakin Mau Membeli Follower?

  1. Ade Delina Putri

    Aku ga pernah tertarik untuk beli Follower dr dulu. Walau Follower memang aku butuhkan saat ini. Tapi buat apa ngeluarin uang hanya untuk beli ‘hal yang semu’. Iya sih keliatannya banyak, bakal dpt banyak job. Kalo ga berkah? Duh naudzubillah deh. Jauh-jauh.

    Reply
  2. Sinta

    Alhamdulillah, nggak tertarik sih kalo beli follower, un. Akun jualan semuanya real follower. Nah, ajaibnya itu yang akun pribadi. Banyak gost followernya, hiks…

    Reply
  3. shona vitrilia

    Pernah penasaran sama jasa satu ini. Gimana cara kerjanya kalau oke mau ah make juga. Tapi pas liat komen2 yg order jadi ketahuan kalau jasa itu follow akun2 yg sesuai, kira2 bakal membutuhkan barang2 yg djual oleh kliennya. jd followersnya followers aktif.

    Tapi yg ga asiknya setelah mereka follow dan kita yg difollow udah folback mereka, bbrp hari berikutnya kita diunfol. Nah dsini aku ga suka un. harusnya sama2 untung, ngapain diunfol segala. oke fix ga jd make jasa mereka.

    Serunya dunia blogger itu kalau ada embel2 blogger di bio, kita saling follow. walau ada yg ga folback juga bbrp tp ya masih byk yg folback.. terbukti, kalau salah nggak nyampe 2 minggu bikin akun baru followers udah lebih dari 200-300. dan itu mayoritas blogger yg folback hihi

    Reply
  4. Aisyah

    Wah jadi ingat Aisyah pernah ditawari yang seperti ini, he.. ^_^
    Tapi blog dan instagram, buat Aisyah mah adalah tempat menulis dan berkarya aja, jadi jumlah followers tidak terlalu dibutuhkan, yang penting bisa bermanfaat untuk orang lain..
    Oya salam kenal kak..
    Blog nya keren Masya Allah!

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *