Yang Hilang di Keremangan

hilang-di-keremanganWarung minuman kecil itu tampak sepi. Hanya dua orang manusia yang terlihat duduk di bangku panjang bagian depan warung tersebut. Mereka adalah Bambang si pemilik warung dan seorang perempuan bernama Sumi yang tampak gelisah menatap merahnya langit petang.

“Kamu yakin siap bertemu dengannya, Sum?” tanya Bambang dengan raut gundah.

Sumi mengerutkan alis. “Tentu saja, Mas. Jauh-jauh aku datang dari kampung, memangnya untuk apalagi?”

Bambang menarik napas agak panjang. Rokok yang terselip di bibirnya tinggal separuh. Asapnya mengepul menyapu wajah Sumi yang terlihat lelah. “Maaf, Sum, aku tidak puasa,” ucapnya agak risih.

Sumi tampak tak peduli. “Sebenarnya apa yang terjadi pada Kang Sarmun, Mas? Kenapa Mas Bambang seperti menghalangi aku untuk menemuinya?” Kecurigaan bermain di kedua bola matanya. Namun Bambang tak menyahut, ia malah semakin asyik dengan rokok di tangannya, seakan sengaja menghindari petanyaan Sumi.

“Anak kami sedang sakit keras, Mas,” kata Sumi sesaat kemudian. “Tidak tahu apakah umurnya akan panjang atau tidak. Satu-satunya yang dia inginkan hanya bertemu dengan bapaknya. Dia ingin lebaran nanti bisa naik sepeda dengan bapaknya keliling-keliling kampung, Mas. Hampir tiap malam dia memanggil-manggil Kang Sarmun.” Mata perempuan itu berkaca-kaca.

Bambang melirik, prihatin.

“Dua tahun Kang Sarmun tidak pulang. Sekarang anak kami sudah berumur lima tahun, Mas. Apakah Kang Sarmun tidak ingin melihat anaknya yang sedang lucu-lucunya itu? Kenapa dia seperti menghilang, Mas? Dan anehnya, dia masih terus mengirimkan uang belanja. Padahal, kehadirannya jauh lebih aku butuhkan dibanding setumpuk uang sekalipun. Sebab, melihat sakit yang diderita anak kami, hanya Kang Sarmun lah yang mampu memberi kekuatan untukku, Mas!” Sumi mengusap sudut matanya yang berair. Suaranya serak menahan sesak di dada.

“Jika dia marah padaku, kenapa dia tidak mengatakan apa salahku? Atau jika dia sudah bosan, kenapa dia tidak mengatakannya terus-terang? Kenapa malah menghilang begitu saja? Kenapa?” Sumi seakan menyesali. “Dia telah membuatku menduga-duga, bermain dengan segala prasangka. Aku jadi serba salah, Mas!”

“Sum,” Bambang menatap wajah Sumi resah. “Sarmun bukan lagi Sarmun yang kamu kenal dulu.”

“Maksud Mas Bambang?”

“Terus-terang saja aku merasa berdosa pernah mengajaknya ke Jakarta ini. Aku tidak menyangka jika akhirnya dia jadi begini, Sum. Dulu, aku cukup bangga padanya, meskipun hanya bekerja sebagai buruh kasar, tapi dia masih Sarmun yang dulu. Namun sejak dua tahun yang lalu, sejak pekerjaan semakin sulit… semuanya berubah, Sum.”

Mata Sumi makin berpendar curiga. “Apakah… Kang Sarmun telah menjadi pencuri, Mas? Atau pembunuh? Atau…”

“Tidak, Sum!” Bambang menggeleng. “Bukan seperti yang kamu bayangkan. Sudahlah, mungkin memang lebih baik kamu bertemu langsung dengannya. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Aku tidak sanggup menjelaskannya, Sum. Sungguh!”

Sumi tertegun. Jantungnya berdetak tak karuan. Berbagai pikiran buruk berseliweran di kepalanya, seperti berseliwerannya perempuan-perempuan genit berpenampilan menor di gang kecil depan warung itu. Apa yang terjadi pada suaminya?

“Mas, apakah Kang Sarmun telah terjerumus…, maksudku apakah Kang Sarmun suka main perempuan?” tanya Sumi dengan suara bergetar.

Bambang terdiam sejenak sebelum akhirnya menggeleng. “Setahuku, perempuan yang ada dalam hidup Sarmun hanya kamu, Sum.”
“Tapi sekadar pengusir sepi, sekadar iseng, bisa saja kan dia…”

“Tidak, Sum! Kurasa tidak.” Bambang membuang puntung rokoknya ke dalam selokan kotor di samping warungnya.

“Lalu… lalu dia kenapa sih, Mas? Aku benar-benar bingung,” keluh Sumi sambil memandang ujung kakinya yang dibalut sandal murahan. Alisnya berkerut tak mengerti.

Bambang tak menyahut lagi, hanya helaan napasnya yang cukup panjang menandakan bahwa ia juga didera perasaan tidak nyaman. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.

“Tapi… tapi dia sehat-sehat saja kan, Mas?” tanya Sumi sesaat kemudian. Ada kekhawatiran dalam nada bicaranya.

“Kurasa begitu. Tapi… entahlah, Sum.” Bambang menggelengkan kepala. “Baik atau tidaknya, kamu sajalah nanti yang menentukan.”

Sumi menatap Bambang dengan kebingungan yang kian menumpuk. “Baiklah. Tapi kapan aku bisa bertemu dengannya?”

“Kurasa agak malam sedikit. Nanti kamu kuantar ke kontrakannya,” jawab Bambang sambil meneguk kopinya. “Eh, ayo diminum tehnya, Sum. Sudah adzan Magrib tuh, kamu puasa, kan?”

Sumi mengangguk sambil mengambil gelas berisi teh hangat yang sejak tadi terhidang di depannya. “Terimakasih, Mas. Oya, apakah kontrakan Kang Sarmun itu jauh dari sini?”

“Tidak. Tapi sebaiknya kamu menunggu di sini saja.”

“Kenapa?”

“Sudahlah, Sum. Jangan bertanya terus.”

Sumi pun akhirnya diam, meski seribu tanda tanya masih bercokol di benaknya. Ya, mungkin sebaiknya dia memang bertemu langsung dengan Sarmun agar ia tahu persis apa yang terjadi pada lelaki yang telah menikahinya selama enam tahun itu.

@@@

“Rumahnya yang bercat cokelat muda itu, Sum.”Bambang menunjuk sebuah rumah petakan di gang kecil yang mereka lewati. “Aku cukup mengantarmu sampai di sini saja.”

“Lalu aku ke sana sendiri saja, Mas?” Alis Sumi berkerut bimbang.

“Tidak apa-apa, kurasa itu lebih baik. Aku harus menjaga warungku lagi,” jawab Bambang meyakinkan. Sumi memandangnya sejenak sebelum mengangguk kecil. Dan begitu Bambang menghilang di belokan, Sumi pun kembali melanjutkan langkahnya.

Jantung perempuan itu berdegub kencang ketika ia semakin dekat dengan rumah bercat coklat yang ditunjuk Bambang tadi. Dan saat ia sudah berdiri di depan teras rumah tersebut, dadanya semakin berdebar kencang. Seperti apakah suaminya sekarang?

“Cari siapa, Dek?” tanya seorang perempuan setengah baya yang muncul di pintu rumah tersebut. Perempuan itu memakai kaos tanpa lengan dengan celana pendek sebatas lutut. Tubuhnya lumayan gemuk.

“Eh, maaf. Saya mencari Kang Sarmun, Bu,” jawab Sumi kikuk. Terus-terang ia merasa tidak enak melihat perempuan itu berada di rumah kontrakan Sarmun. Apakah mereka tinggal serumah? Siapa dia? Pikiran Sumi jadi terasa semrawut.

“Sarmun? Adek ini siapa?” selidik perempuan itu tanpa beranjak dari pintu.

“Saya Sumi, Bu. Saya baru datang dari Trenggalek.”

“O… orang kampungnya Mumun, ya?” Perempuan itu menolehkan kepalanya ke arah dalam rumah. “Muuun! Mumuuun! Ada tamu nih, nyariin elu!”

Sumi tertegun heran. Mumun?

“Ada apa, Tante?” Seseorang muncul dari dalam.

“Tuh! Ada yang nyariin elu,” jawab perempuan gemuk itu sambil menunjuk Sumi dengan bibirnya yang bergincu merah menyala. “Ya, udah. Gue pulang dulu, ya! Ntar kalo ada obyekan, gue hubungi elu lagi, deh!” Perempuan itupun bergegas pergi.

Sosok yang baru muncul itu tak menjawab, ia malah menatap Sumi tak berkedip. Raut wajahnya tampak menegang, lalu memucat seperti mayat. “Sum… Sumi?”

Sumi tak kalah terkejutnya, matanya membesar tak percaya. Bibirnya bergerak-gerak, namun tak satu katapun keluar dari mulutnya.

“Ma… masuk, Sum,” ajak sosok yang diragukan Sumi sebagai Sarmun itu, gugup. Sumi masih tak mampu berkata-kata ketika perlahan kakinya melangkah memasuki rumah kontrakan yang sempit itu. Ia merasa lututnya gemetar luar biasa. Dan ketika mereka sudah duduk berhadapan, Sumi masih tak percaya bahwa sosok di depannya itu adalah Sarmun, suaminya yang menghilang selama dua tahun ini.

“Sum… aku malu bertemu denganmu.” Lelaki itu menunduk menatap lantai. “Aku… aku bukan Sarmun yang dulu lagi, Sum.”

Sumi mematung dalam duduknya. Sekujur tubuhnya benar-benar terasa kaku. Benarkah ini suami yang ia cari selama ini?

“Aku benar-benar malu dengan keadaanku, Sum. Maafkan aku ya, Sum.” Suara lelaki itu serak.

Sumi masih diam, berusaha mempercayai penglihatannya, meski sejujurnya ia berharap ini hanya mimpi buruk yang menghantui tidurnya. Lelaki itu, terlihat sangat asing di matanya. Bagaimana tidak asing, Sarmun yang ia kenal dulu adalah sosok yang memiliki tulang pipi, dagu dan bibir yang kokoh layaknya seorang lelaki. Bukan berpipi tembem, berdagu lancip dan berbibir rekah seperti itu. Meski suaranya memang persis suara suaminya, namun wajah yang seakan ditempeli tumpukan lemak itu bukanlah wajah suaminya. Wajah Sarmun diukir oleh garis-garis otot yang keras, bukan lembek seperti itu!

Sungguh, Sumi yakin sekali, Sarmun yang menikahinya enam tahun silam memiliki alis yang tebal alami, bukan alis yang dicukur melengkung berlapis pinsil hitam seperti sosok di hadapannya itu. Dan Sarmun yang menjadi ayah dari anaknya adalah seorang lelaki tulen, bukan setengah lelaki dan setengah perempuan seperti yang kini ia lihat. Sama sekali bukan!

Sumi menggeleng, masih tak percaya pada penglihatannya. “Tidak mungkin… aku tidak percaya…” desisnya seakan pada diri sendiri.

“Sum…” Sarmun mencoba memandang wajah Sumi yang tegang. “Kepahitan hidup telah membuatku kalut. Tadinya aku cuma mau coba-coba mencari rezeki dengan cara seperti ini, karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa kukerjakan. Bagiku saat itu yang penting adalah tetap mengirimimu uang belanja, juga uang jajan untuk Rama, anak kita.”

Sumi menelan ludah. Kini ia tak bisa menampik lagi, bahwa sosok itu memang Sarmun. Hatinya pun terkoyak.

“Dan ketika seorang teman menawarkan bantuan untuk memperbaiki penampilanku agar lebih meyakinkan, aku menurut saja. Wajahku disuntik. Katanya hanya sekadar memperhalus garis wajah. Aku tidak menyangka akhirnya akan jadi begini, Sum. Sebelumnya, aku masih bisa tampil seperti laki-laki kapanpun aku mau, tinggal menghapus make up saja. Tapi sekarang, aku… aku benar-benar jadi seperti perempuan!” Mata Sarmun berkabut.

Sumi tercekat, hatinya sungguh ingin menjerit. Karena yang terlihat olehnya bukanlah sosok seorang perempuan, tapi sosok setengah lelaki dan setengah perempuan. Wajah seorang perempuan tidak tembem seperti itu. Yang di hadapannya itu adalah murni wajah seorang waria! Nyeri, itulah kini yang dirasakan Sumi.

“Aku tidak berani pulang, Sum, sampai keadaanku pulih seperti semula. Tapi… aku tidak tahu bagaimana cara mengembalikan wajahku seperti semula. Jika dioperasi, pasti sangat mahal.” Sarmun terlihat putus asa.

Dan Sumi nyaris tak berkata sepatah katapun. Ia telah kehilangan segenap tenaga untuk berbicara, bahkan saat ia melangkah meninggalkan rumah Sarmun, mulutnya masih seakan terkunci.

“Maaf, aku harus pulang, Kang.” Hanya itu yang terlontar dari bibirnya yang kering. Dan Sarmun, hanya bisa melepasnya dengan tatapan berkaca-kaca. Ia merasa telah kehilangan sesuatu yang begitu berharga, yaitu cinta Sumi!

@@@

Bis yang membawa Sumi kembali ke kampung halamannya malam itu mulai merayap membelah jalan raya. Kemacetan yang selalu menjadi warna Jakarta, seakan membuat pikiran Sumi kian semrawut.

“Sabar ya, Nak. Emak akan jemput Bapak ke Jakarta. Emak pasti pulang bersama Bapak! Kita akan pergi lebaran sama-sama.” Begitu janji Sumi meyakinkan buah hatinya sebelum ia berangkat ke Jakarta tempo hari. Ya, hari lebaran nanti adalah hari yang penuh harapan bagi mereka berdua. Namun hari yang diharapkan ceria itu, kini seperti hari yang senyap bagi Sumi. Terlebih jika melihat sakit anaknya yang hanya menyimpan sedikit harapan untuk sembuh.

“Iya. Rama minta dibelikan baju lebaran sama Bapak ya, Mak…” jawab bocah itu lemah. Bibir dan wajahnya yang pasi membuat hati Sumi teriris. Anaknya itu benar-benar tengah berjuang hidup di antara sakit kanker darah yang dideritanya. Suaranya putus-putus penuh harap.
Tapi kini semua itu tinggal mimpi. Sumi tidak tahu harus berkata apa pada anaknya, juga pada ibu dan bapaknya jika nanti bertanya tentang menantu mereka yang bernama Sarmun itu. Sarmun yang kini berubah nama menjadi Mumun! Belum lagi jika para tetangga ikut bertanya, kenapa lebaran kali ini suaminya tidak juga pulang. Padahal semua orang kampungnya yang pergi mengadu nasib ke Jakarta, pasti mudik saat lebaran.

Sumi menelan ludah getir. Hatinya kian tersayat saat bis yang ditumpanginya melewati perempatan Rawamangun. Dua orang manusia berpakaian ketat yang tak jelas jenisnya, tampak melenggak-lenggok menunggu lampu merah menyala. Sebuah kerincingan tergenggam di tangan mereka. Mereka memang bukan Sarmun, namun wajah mereka sangat identik dengan wajah Sarmun. Wajah seorang waria yang konon telah disuntik cairan yang entah apa namanya, Sumi pun tidak tahu.

Perlahan Sumi memejamkan mata, membiarkan tetesan-tetesan bening itu menapaki pipinya. Lebaran semakin dekat, dan harapan untuk terus hidup bagi anaknya semakin menipis. Sementara Sarmun, terasa kian jauh dari jangkauan. Sungguh hati Sumi terkoyak sudah. Entah di lampu merah yang mana suaminya itu akan melenggak-lenggok malam ini. (V)

Note: Cerpen Yang Hilang di Keremangan ini telah dimuat di buku antologi Sepotong Kata Cinta.

Baca juga cerpen Segi Tiga Emas.

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik sebagai penulis bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak sejak tahun 2002 dengan cerbung berjudul Putri Kejawen. Media yang pernah menulis karyanya seperti Majalah Kartini, Paras, Ummi, Suara Pembaruan, Warta Kota, dan juga koran daerah. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku.


6 thoughts on “Yang Hilang di Keremangan

  1. oka nurlaila

    Di awal cerita, sempat nebak-nebak. Kirain suaminya jadi preman atau yang lainnya. Ternyata…. saya lebih kasian sama anaknya.

    Saya suka gaya bahasa tulisan mbak. Tidak terlalu tingkat tinggi. Tapi tetap ada rasa di setiap kata. Menikmati hingga cerita tamat. 😀

    Reply
  2. Ophi Ziadah

    Uniii..
    aku kok bisa menebak padahal blom smp ke bagian yg menunjukkan identitas sarmun.
    jujur aku sering “membayangkan” kisah spt ini Uni.
    aku sering melihat para waria berganti rupa di stasiun palmerah, dulu waktu stasiun blom rapih spt sekarang. aku bahkan mengenali salah satunya. saat dia berpenampakan spt laki2. sekarang sdh mulai menua dia.
    kadang kasihan dan miris
    Belakangan saat jam pulang kantor dan kebetulan naik kereta langsam (bukan comline) sering satu gerbong dengan rombongan waria yg berangkat “kerja”dan sudah cantik2. mrk biasanya turun di stasiun pondok ranji dan seterusnya.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *