Yang Tak Terungkap

Yang Tak Terungkap“Oalah, NdukNduk! Apa kowe bisa pergi sendiri? Jakarta itu jauh lho, Nduk, apa kowe ndak takut kesasar?” Si Mbok menatap khawatir.

“Belum lagi kowe musti ninggalin si Tole.”

“Tapi aku ndak bisa menunggu terus di sini, Mbok. Sudah hampir setahun aku menunggu dan hanya menunggu. Aku sudah ndak tahan, Mbok. Jangan-jangan Kang Kardi kawin lagi di Jakarta.” Narti mengucapkan kalimat itu dengan raut kecut.

“Nyebut, Nduk! Kowe ndak boleh berprasangka begitu sama suami sendiri. Kardi itu orangnya baik, ndak mungkin macam-macam seperti pikiranmu itu!” Mboknya menegur dengan nada agak tinggi.

Narti terdiam. Ia juga percaya suaminya adalah orang yang baik dan tidak suka macam-macam, tapi kekhawatiran dan kejenuhan karena lama menunggu telah membuatnya kalut dan berpikir yang tidak-tidak.

“Mbok ngerti, kowe sudah jemu menunggu. Tapi jangan kebablasan koyo ngono tho, Nduk.” Wanita tua itu mengelus punggung anak perempuannya lembut.

Narti menoleh. “Aku memang salah, Mbok. Tapi…, kenapa Kang Kardi ndak pulang-pulang?” Ia nampak putus asa.

Yo wis, kalau kowe memang ingin menyusulnya, Mbok ndak akan larang. Tapi jangan pergi sendiri, minta Cecep menemanimu,” kata perempuan tua itu melegakan hati Narti.

“Benar, Mbok? Aku boleh berangkat?” Ia bertanya tak percaya. Mboknya mengangguk dengan senyum tulus.

“Terima kasih, Mbok. Do’akan aku ya, Mbok, biar cepat menemukan Kang Kardi.” Dipeluknya perempuan tua itu erat. Lega hatinya kini, karena ia bisa pergi ke Jakarta dengan langkah ringan, tanpa terbebani oleh larangan Si Mbok.

“Tolong jaga anakku ya, Mbok. Aku janji, kalau Kang Kardi sudah berhasil kutemui, aku akan segera pulang,” ujarnya meyakinkan. Lagi-lagi perempuan tua itu hanya tersenyum sambil mengangguk.

@@@

“Waaah…, kali di Jakarta ini banyak, Mbak. Kali yang mana dulu?” Pemilik warung nasi itu nampak bingung.

Narti dan Cecep jadi ikut bingung. “Wah, kalau itu kami juga tidak tahu, Pak. Aduh…, gimana ya?” keluh Narti dengan alis berkerut.

“Katanya sih dulu tidak jauh dari Halim ini, Pak.” Cecep mencoba mengingat-ingat.

“Halim ini saja luas, dari sini sampai ke kelurahan Makasar sono. Dan kali yang deket ke sini ada dua, kali Malang sama kali Cipinang yang bau itu! Emangnya bener dia kerja di proyek kali?” Pemilik warung nasi itu nampak meragukan.

“Benar, Pak. Saya tahu persis. Wong suami saya sering cerita kok kalau proyek kali itu penting untuk kota sebesar Jakarta ini, katanya biar ndak terjadi banjir,” Narti berujar yakin.

Pemilik warung itu mengerutkan kening. Penting untuk mencegah banjir? Ia sendiri malah tidak yakin kalau itu fungsinya. Buktinya tahun kemaren banjir besar melanda Jakarta.

“Jakarta ini luas, Mbak, Mas. Jangankan nyari seorang kuli kasar, nyari biang koruptor aja susahnya minta ampun kok!” Pemilik warung itu tersenyum jenaka.

“O… iya, Cep!” Narti menepuk lengan adiknya, seperti diingatkan akan sesuatu. “Kang Kardi pernah bilang bahwa dia punya mandor yang sangat baik. Namanya Pak Dudung. Orang Jawa juga. Iya, bener! Namanya Pak Dudung!” Perempuan itu setengah berseru.

“Iya, Pak! Kira-kira Bapak pernah dengar tidak nama itu?” Narti menatap pemilik warung tersebut.

“Pak Dudung?” Pemilik warung nasi itu berpikir serius. “Yang ada Pak Idul. Dia emang mandor proyek kali ini dulunya. Coba tanya sama orang yang punya bengkel itu. Pak Idul sering kok mbetulin mobilnya di sana.” Ia menunjuk sebuah bengkel yang berjarak 20 meter dari sana.

Wajah Narti dan Cecep jadi agak berseri. Ada harapan mengerjap di mata mereka.

“Mbak tunggu di sini saja, biar aku yang nanya ke sana,” kata Cecep sambil berdiri. Narti mengangguk cepat, menatap punggung adiknya penuh binar. Tak sabar rasanya ia menunggu, berharap Cecep mendapat sebuah petunjuk yang jelas tentang suaminya.
Beberapa menit kemudian…

Piye, Cep?” Ia menyongsong Cecep yang berjalan tergesa menuju warung nasi tempat ia menunggu.

Wajah adiknya itu terlihat gembira. “Betul. Mbak. Pak Idul itu biasa dipanggil Dudung. Nih, aku dapat alamatnya!” Cecep memperlihatkan sebuah kartu nama.

“Coba lihat, dimana alamatnya?” Pemilik warung nasi itu mengambil kartu yang di tangan Kardi. “Oo…, ini mah tidak jauh. Naik angkot biru yang lewat di depan ini saja. Ntar bilang, turun di Pangkalan Jati. Nah, di sono tinggal nanya RT dan RW-nya. Gampang, kan?”

“Waduh, syukurlah, Cep!” Narti tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Pak, terima kasih banyak ya, telah menolong kami. Ini, tak bayar lebih makannya,” kata nya lagi sambil menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan ke hadapan pemilik warung itu.

“Eh, nggak usah dilebihin segala. Kan uangnya nanti bisa dipake buat ongkos. Transportasi di Jakarta ini mahal, lho! Ntar balik ke Brebes juga butuh ongkos, kan?” Lelaki itu menolak halus. Ah, baginya bisa menolong sesama saja sudah menyenangkan, apalagi jika yang ditolong adalah orang-orang kecil sebangsa dirinya.

“Sekali lagi terima kasih banyak ya, Pak,” kata Narti sebelum pamit.

@@@

“Pak Dudung? Beliau sudah pindah, Mbak. Ini memang rumahnya, tapi sekarang saya yang ngontrak di sini. Pak Dudung kan sudah punya rumah baru yang bagus.” Lelaki itu menjawab santai.

“Pindah? Wah…, piye iki? Pindah kemana ya, Mas?” Narti nampak kecewa.

“Ke Bekasi. Bentar ya, saya ambilkan alamatnya.” Lelaki yang kini menghuni rumah Pak Dudung itu bergerak masuk. Tak lama kemudian ia sudah kembali lagi dengan sebuah kertas kecil bertuliskan alamat baru Pak Dudung.

“Terima kasih ya, Mas. Kira-kira jauh tidak tempat ini?” tanya Cecep agak khawatir.

“Yaah, lumayan. Dari sini naik aja angkot nomor 26. Ntar turun di terminal Bekasi. Dari sono naik angkot merah nomor 39, turun di Tambun. Nah dari sono, naik lagi angkot nomor 23, merah juga, jurusan Kota Legenda. Mas turunnya di Dukuh Zamrud. Nyampe deh! Tinggal nanya RT sama RW doang,” jelas lelaki itu panjang lebar.

Narti dan Cecep saling berpandangan. Terlihat jelas bias kebingungan dan kelelahan di wajah mereka. Sejak sampai di Jakarta tadi Subuh, mereka tak henti-hentinya berjalan. Naik turun angkot. Dan kini…? Sebuah perjalanan yang sepertinya sangat melelahkan kembali menunggu mereka.

Ya Gusti, masih sejauh itukah? Batin perempuan itu mengeluh. Tapi bayangan wajah suaminya yang muncul tiba-tiba, kembali membangkitkan semangatnya.

“Ayo, Cep! Kita jalan lagi. Terima kasih banyak ya, Mas.” Ia menggandeng tangan Cecep setelah mengangguk pada lelaki yang telah memberi mereka alamat baru Pak Dudung itu.

@@@

“Dukuh Zamrud habis!” Teriakan kenek angkot itu mengagetkan Narti dan Cecep. Angkot nomor 23 yang mereka tumpangi langsung memutar arah, siap kembali ke arah Tambun.

“Ini sudah Dukuh Zamrud tho, Mas?” tanya Cecep meyakinkan.

“Iya, emang dimana lagi? Tuh ada tulisannya! Apa mau balik lagi ke Tambun?” Kenek itu menunjuk tulisan besar di tembok dekat gerbang masuk. Gaya bicaranya yang agak seenaknya itu membuat Narti dan Cecep cuma bisa mengangguk-angguk salah tingkah.

“Mau kemana, Mas? Diantar naik ojek, nggak?” Seorang tukang ojek menghampiri.

“Kami sedang mencari alamat ini.” Cecep menyodorkan kertas di tangannya.

“Wah, ini lumayan jauh, Mas,” ujar tukang ojek itu meyakinkan.

“Oya?” Narti merasa semakin lelah saja.

“Kalau gitu, terima kasih ya, Mas. Kami naik becak saja, biar bisa berdua.” Cecep langsung menarik lengan Mbaknya mendekati sebuah becak yang sedang ngetem di situ. Dengan senang hati tukang becak tersebut langsung mempersilakan mereka naik. Maka mulailah Narti dan Cecep menyusuri blok demi blok di sepanjang Dukuh Zamrud. Lelah, panas dan haus seakan berlomba memusnahkan harapan mereka untuk menemukan satu sosok bernama Kardi itu.

“Nah itu dia rumahnya!” Seruan tukang becak itu menyentakkan kebisuan mereka. Rasanya sejak tadi kepala mereka sudah pegal menoleh kiri kanan, mengamati blok demi blok.

“Ya, betul! Nomor 30!” seru Cecep girang. Mata Narti langsung berbinar lega. Akhirnya mereka menemukan juga rumah sang mandor yang baik hati itu. Rumah yang begitu besar dan bertingkat.

Setelah membayar ongkos becak, mereka langsung bergegas menuju pintu pagar. Memencet bel dan menunggu…

“Cari siapa?” Seorang pembantu perempuan seusia Narti melongok dari balik pintu yang sedikit terkuak. Raut mukanya tidak begitu ramah.

“Ehm, maaf. Kami mencari Pak Dudung,” jawab Narti agak terbata.

Pembantu itu menatap mereka tajam, sepertinya tidak percaya. Perlahan ia melangkah keluar, mendekati pagar besi yang cukup tinggi itu.

“Siapa? Pak Dudung?” tanyanya masih kurang ramah.

“Saya ingin menanyakan tentang suami saya, Mbak. Sudah hampir setahun ndak ada kabar beritanya. Suami saya itu kerja di proyek kali yang dimandori Pak Dudung,” jelas Narti sungguh-sungguh.

Sejenak perempuan di balik pagar itu terdiam. Ada kilatan aneh di matanya.

“Siapa tahu beliau bisa memberitahu kami dimana kira-kira suami saya sekarang.” Narti belum putus asa.

Perempuan itu masih terdiam. Tertegun menatap kilatan bening di mata Narti.

“Tolonglah, Mbak…! Saya sudah hampir putus asa menunggunya di kampung. Saya ingin suami saya pulang untuk merayakan ulang tahun pertama anak kami…,” mohon Narti nyaris menangis.

Perempuan di balik pagar itu kian tertegun. Nampak ia menatap Narti dengan iba. “Saya…, saya tidak bisa mengijinkan kalian masuk sebelum Pak Dudung pulang,” katanya agak tersendat.

“Kami akan menunggu sampai beliau pulang.” Cecep menegaskan.

“Kalau boleh tahu, Pak Dudung kemana ya, Mbak?” tanya Narti.

“Ng… sedang keluar. Ya sudah, kalau kalian mau menunggu silakan saja. Tapi lebih baik kalian menunggu di warung depan itu saja. Di sini panas. Kalau di sana kalian kan bisa beli minuman atau makanan” Perempuan di balik pagar itu membalik cepat. Nada suara dan tatapan matanya yang menyiratkan belas kasihan dan rasa simpati itu bagi Narti dan Cecep terlihat begitu melegakan.

“Terima kasih, Mbak.” Narti mengangguk santun diikuti adiknya, Cecep.

@@@

Tinah, pembantu Pak Dudung itu, nampak kian gelisah di ruang makan. Sejak sore tadi ia terus bolak-balik tak karuan. Sesekali ia berlari menuju ruang tamu, menyibak gorden dan mengintip keluar. Berharap kedua tamu majikannya itu sudah tak ada di warung depan. Tapi tiap kali ia mengintip, tetap saja kedua tamu itu masih ada di sana.

Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Sebentar lagi Pak Dudung pulang. Kalau Pak Dudung tahu kedua tamu itu menunggunya, pasti beliau marah besar! Batinnya mulai kebat-kebit. Sudah sejak berbulan-bulan yang lalu ia diberi wangsit tegas oleh majikannya, agar menolak setiap orang yang datang menanyakan Kardi! Apapun caranya. Kalau perlu ia boleh mengatakan bahwa Pak Dudung atau Pak Idul sudah pindah ke kota lain. Yang penting orang itu bisa percaya dan segera angkat kaki dari rumahnya.

Tinah terduduk lemas di kursi meja makan. Ia sudah tak tahu harus berbuat apalagi. Ia sudah terlanjur mengatakan pada kedua tamu itu bahwa Pak Dudung sedang keluar. Entahlah, ia juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja mulutnya tidak mau kompromi dengan otaknya, hingga akhirnya jadi begini. Ya, kali ini mulutnya lebih manut pada kata hatinya. Uh! Perempuan itu memijit kepalanya yang terasa sakit.

Teeet! Teeet! Teeet! Suara klakson mobil melonjakkan Tinah dari duduknya. Majikannya sudah pulang! Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Panik, ia berlari menuju ruang depan. Persendiannya terasa gemetar. Jantungnya juga berdentam luar biasa, namun ia tetap mencoba melangkah setenang mungkin menuju halaman. Membukakan pintu pagar untuk majikannya.

“Itu Pak Dudung ya, Mbak?” Narti dan Cecep memburu ke halaman begitu mobil sedan mengkilap itu masuk ke garasi.

“Eh, iya. Itu…”

Belum selesai kalimat Tinah, Narti dan Cecep sudah langsung berlari memburu lelaki yang baru keluar dari mobil sedan itu. Tinah menatapnya pasi.

“Pak! Pak Dudung! Saya minta maaf jika mengganggu,” kata Narti begitu sampai di hadapan lelaki itu. Istrinya yang kini berdiri di samping lelaki itu menatap kedua tamu tak diundang itu dengan kening berkerut.

“Siapa mereka, Pak?” tanyanya sinis.

“Aku juga tidak tahu. Tinah!! Siapa mereka?!” Lelaki itu berteriak memanggil pembantunya. Tinah yang masih tertegun di dekat pagar, datang tergopoh.

“Siapa mereka dan ada perlu apa?” Lelaki itu menatapnya tajam.

“Mmm… mereka…”

“Saya ingin menanyakan kabar suami saya, Pak. Kang Kardi! Bukankah Bapak mandornya? Dia sering bercerita tentang kebaikan Bapak waktu pulang ke kampung setahun yang lalu. Tapi sejak setahun yang lalu itu pula ia tak pernah lagi pulang. Padahal biasanya sekali tiga bulan dia pasti pulang,” Narti yang menjelaskan.

Lelaki di hadapannya nampak terkesiap. Begitupun dengan istrinya. Tapi hal itu hanya berlangsung sekejap. Setelah itu raut muka mereka kembali tenang, bahkan langsung berubah ramah.

“Oo…kamu istrinya Kardi, tho? Ya, ya, aku ingat. Kardi itu adalah karyawan yang baik, rajin dan jujur. Aku bangga padanya. Tapi…masa sih sudah setahun dia tidak pulang?” Lelaki itu nampak heran.

“Sungguh, Pak! Saya ndak bohong!” Narti meyakinkan.

“Tapi Kardi sudah pamit pada saya tujuh bulan yang lalu, begitu proyek kali itu selesai. Katanya dia mau langsung pulang ke kampungnya. Dan saya sendiri setelah itu langsung dipindahkan ke proyek lain oleh atasan saya,” ujar lelaki itu dengan alis terangkat heran.

“Sudah pulang? Tapi…dia tidak pernah pulang, Pak! Ya Gusti…, kemana ya dia?” Narti nampak sangat bingung.

“Oya, karena kalian sudah jauh-jauh datang ke sini, saya akan ganti semua ongkos kalian. Yaah, anggap saja sebagai tanda kekerabatan kita. Kardi memang karyawan yang baik. Sayangnya, saya juga tidak tahu di mana dia sekarang.” Lelaki bertubuh tinggi besar itu tersenyum, menyesali. “Oya, mari silakan masuk!” ajaknya kemudian.

Tinah yang masih berdiri di teras hanya bisa menahan gemuruh di dadanya. Betapa hebat akting kedua majikannya itu. Hhh…! Ia menghembuskan napas dengan keras. Sampai sekarang kedua majikannya tersebut belum tahu bahwa ia telah mendengar percakapan mereka waktu itu.

“Sekarang kita sudah aman, Bu. Kali itu sudah dipasang tumbalnya. Paijo yang memasangnya tadi malam.” Suara Pak Dudung setahun yang lalu kembali terngiang di telinganya.

“Oya? Kepala siapa yang dijadikan tumbalnya, Pak?” Istri majikannya bertanya agak berbisik.

“Kardi! Kuli dari Brebes itu,” jawab majikannya tenang, seakan tak merasa berdosa sama sekali.

“Kenapa sih, Pak, harus dipasang tumbal segala?”

“Harus itu! Kalau tidak, proyek itu bisa terkena masalah dan akibatnya bisa merembet pada kita. Begitu kan kata paranormal kita?”

Tinah tidak kuat lagi mendengar pembicaraan kedua majikannya itu. Ia seakan hendak pingsan saat menyeret langkahnya menjauhi ruangan tersebut. Dia tidak bisa membayangkan, jika untuk sebuah kali saja membutuhkan tumbal sebuah kepala manusia, lalu untuk jalan layang, monas, atau gedung-gedung pencakar langit itu, tumbalnya berapa kepala manusia?

Perempuan itu menarik napas dalam. Ia benar-benar geram mengetahui semua ini. Dan celakanya lagi, ia tak mampu mengeluarkan suara untuk mengungkapkan kebenaran itu. Ia tahu betul, posisinya sebagai wong cilik, hanya akan membuat sengsara dirinya sendiri jika ia berani buka mulut. Sungguh, hatinya memberontak atas kebisuan yang kini membelenggu lidahnya.

Dan ia masih terus membisu tatkala kedua tamu itu berlalu pulang dengan membawa segepok uang. Huh! segepok uang yang telah menjadi nilai sebuah nyawa. Ah, andai saja mereka tahu…

“Tinah! Kesini kamu, perempuan bodoh!!!” (V)

Januari 2003
Terinspirasi dari sebuah kisah nyata yang tak pernah terungkap.

Baca juga cerpen lainnya: Pasanga Ri Kajang

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dan aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita dengan judul Cinta Jemputlah Aku. Selain jadi Founder di komunitas Blogger Muslimah Indonesia, saat ini masih aktif sebagai Manager Marketing dan Komunikasi di PT. Khalifa International Business, juga relawan Kemenpar untuk Wonderful Indonesia.


5 thoughts on “Yang Tak Terungkap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *