Anak Anda Yang Dititipkan Melalui Rahim Orang Lain

Anak Anda Yang Dititipkandi Rahim Orang LainSetelah menelusuri berbagai artikel dan pengalaman orang lain dalam hal mengadopsi anak, sepertinya saya harus meredam keinginan saya untuk mengadopsi anak dari sebuah yayasan. Karena ternyata yang diperbolehkan dalam peraturan adalah pasangan suami istri yang belum memiliki anak. Sementara saya sudah memiliki beberapa orang anak, laki-laki dan perempuan lagi. Jadi saya termasuk dalam kategori orang tua dengan anak lengkap.

Syarat berikutnya adalah menikah minimal 5 tahun dan berusia antara 25 sampai 45 tahun. Saya sebenarnya memenuhi syarat kedua ini tapi sayangnya sudah terganjal di syarat pertama.

Sebenarnya saya maklum, kenapa orang yang sudah memiliki anak tidak dibolehkan mengadopsi anak di sebuah yayasan. Mungkin lantaran khawatir akan membeda-bedakan perlakuan antara anak kandung dan anak angkatnya. Padahal menurut saya itu bukan alasan yang kuat karena banyak juga orang tua yang bisa berlaku adil terhadap anak angkat mereka sampai si anak angkat pun nyaman dan merasa diperlakukan seperti anak kandung.

Atau mungkin juga lantaran orang yang belum punya anak dianggap lebih berhak dan lebih bisa mencurahkan perhatian serta kasih sayangnya disebabkan mereka belum punya anak. Saya rasa ini pun bukan jaminan sebenarnya. Bisa saja orang yang belum punya anak justru malah lebih kaku sebab tidak menjalani proses hamil dan melahirkan yang merupakan terminal awal terikatnya kasih sayang antara orang tua dan anak. Sementara mereka yang sudah melewati proses berat itu tentu tahu betul betapa tidak ringannya menghadirkan seorang anak ke dunia dan sudah berpengalaman pula dalam mengasuh seorang anak. Alasan saya ini juga bukan menafikan adanya orang tua yang tidak becus mengurus anak kandungnya sendiri.

Lagi pula, sepanjang pengamatan saya (mudah-mudahan tidak benar) suami istri yang belum memiliki anak cenderung takut melakukan adopsi meski secara batin mereka sudah sangat ingin memiliki anak. Mereka lebih memilih menunggu dengan alasan, “Kata dokter kami berdua sehat dan bisa punya anak. Memang belum dikasih saja sama Tuhan. Banyak kok orang yang memiliki anak setelah belasan tahun menikah.”

Kita mungkin sudah sangat sering mendengar kalimat di atas. Keinginan untuk memiliki anak kandung adalah sesuatu yang sangat manusiawi dan saya paham betul betapa kuatnya keinginan itu bagi pasangan yang sudah menikah. Namun haruskah menunggu sampai belasan tahun untuk bisa menikmati indahnya jadi orang tua? Tidakkah lebih indah jika jeda waktu yang begitu panjang juga diisi dengan mengasuh seorang anak adopsi yang bisa memberi keceriaan di antara suami istri sambil menunggu hadirnya buah hati dari rahim dan sulbi sendiri. Jeda waktu yang meresahkan itu tak perlu lagi diselingi keluhan-keluhan seperti berikut…

“Saya merasa seperti perempuan yang tidak sempurna di mata suami dan mertua lantaran belum juga hamil sampai sekarang.”

“Saya selalu berusaha menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas agar lupa akan kesepian saya karena belum juga punya anak.”

“Saya benci sekali tiap kali orang bertanya, sudah punya anak berapa?”

“Sungguh membosankan sekaligus menyebalkan tiap kali orang menyuruh kami berobat kesana berobat kemari, memangnya mereka pikir kami nggak berusaha?”

“Suami saya tidak pernah mau periksa ke dokter, padahal bisa jadi dia yang mandul, tapi selama ini selalu saya yang disalahkan!”

“Rasanya ini lebih berat dibanding para gadis yang belum menikah di usia menjelang 40 tahun.”

Saya ikut sedih untuk teman-teman dan semua orang yang belum dikaruniai anak setelah sekian lama menikah. Tapi sebenarnya mereka tidak butuh dikasihani, mereka cuma butuh solusi dan pengertian dari semua pihak untuk tidak terus didesak. Siapa sih yang tidak ingin punya anak?

Sejujurnya saya ingin menyarankan mereka untuk mengadopsi anak, tapi sepertinya itu bukan saran yang tepat (meski menurut penilaian saya mereka sangat layak lho menjadi orang tua adopsi), karena itulah saya pun tidak akan menyarankan pada mereka untuk menjadikan adosi sebagai jalan keluar. Kenapa? Karena buat mereka saat ini yang jadi prioritas utama adalah memiliki anak kandung. Karena itu pulalah saya yang sudah punya anak-anak kandung mengambil alih tempat tersebut dengan mencalonkan diri sebagai orang tua asuh.

Lalu apa kira-kira komentar orang?

“Berat lho ngadopsi anak orang!”

“Pikir lagi deh, ntar kalau sudah besar malah berebut warisan sama anak kandungmu.”

“Jangan-jangan anak itu anak haram, atau punya orang tua yang bejat, bisa repot kamu nanti.”

“Kayak orang-orang kaya aja. Emangnya kamu sudah punya harta dan uang banyak utk mengadopsi anak orang?”

Mungkin banyak lagi komentar miring yang bisa saya dengar jika keinginan itu benar-benar saya realisasikan. Faktanya, mengadopsi anak orang lain pasti berat, lha wong mengasuh anak sendiri saja sudah berat. Tapi jangan salah, belum tentu anak adopsi lebih merepotkan dibanding anak kandung. Banyak kasus yang membuktikan anak kandung lebih manja, lebih egois dan kalah berbakti dibanding anak angkat.

Soal berebut warisan, apa tidak terlalu berlebihan? Dan soal orang tua kandungnya yang bejat, bukankah itu bukan jaminan anaknya juga pasti bejat. Nabi Ibrahim saja ayahnya adalah pembuat berhala bukan? Lalu soal kekayaan, apa iya kita harus menunggu sampai kaya raya baru bersedia mengadopsi anak? Apa iya orang yang kaya selalu mau mengadopsi anak? Apakah kekayaan bisa jadi jaminan kenyamanan bagi seorang anak?

Mungkin banyak ketakutan lain yang mampir di benak setiap orang tentang anak adopsi, tapi tidak bisakah kita memandang hal ini dari sisi kemanusiaannya. Betapa kita sudah melakukan hal yang sangat besar untuk masa depan anak-anak yang tak beruntung. Soal apakah kelak ia akan jadi anak berbakti atau soal apakah kelak kita akan mampu menyekolahkannya sampai tinggi, saya rasa itu sama saja posisinya dengan anak kandung. Artinya itu hanya ketakutan yang tak perlu dibesar-besarkan.

Bukankah hal terpenting adalah perhatian dan kasih sayang yang tulus? Ada kok penjual jamu gendong menyekolahkan anaknya sampai sarjana. Dan ada juga penyapu jalanan berhasil mendidik anaknya hingga dapat beasiswa keluar negeri. Intinya, begitu seorang anak kita adopsi, maka sesungguhnya dia sudah menjadi anak kita, menjadi bagian diri kita yang akan kita pertanggungjawabkan seperti anak kandung. Jadi pada hakikatnya kita mengadopsi anak kita sendiri yang memang sudah ditakdirkan Allah terlahir dari rahim dan sulbi orang lain. Dan ini bukan dosa atau aib.

Namun apapun alasan saya dan apapun alasan orang yang membuat peraturan adopsi, tentu dilandasi niat memberikan yang terbaik bagi seorang anak yang kurang beruntung dalam hal pengasuhan. Logikanya memang yang paling tepat untuk mendapatkan hak adopsi adalah pasangan suami istri yang menikah secara sah, belum memiliki anak, memiliki penghaslan yang memadai, dan tentunya tulus mengedepankan kepentingan anak yang akan diadopsi, bukan semata melampiaskan hasratnya untuk punya anak.

Mungkin saya menganggap peraturan adopsi agak membatasi hak saya sebagai orang yang sudah memiliki anak, lantaran dalam peraturannya orang yang belum menikah justru dibolehkan padahal menurut saya seorang anak selayaknya diasuh oleh orang tua yang lengkap. Namun di sisi lain bisa jadi alasan saya juga terkesan egois. Dianggap ‘kemaruk’ karena masih ingin memiliki anak orang lain padahal sudah punya anak kandung. Tapi saya merasa lebih egois kalau berkata pada diri sendiri, “Sudahlah, urus saja anakmu yang sudah ada, jangan berpikir ingin mengurus anak orang segala! Mengurus anak sendiri saja belum tentu becus!”

Okelah, saya dianggap egois atau kemaruk…. tapi sungguh, hati saya selalu miris melihat, membaca dan mendengar tentang bayi-bayi dan anak-anak yang dibuang, dititipkan, atau dijual oleh orang tuanya sendiri. Belum lagi anak-anak yatim piatu korban kerusuhuan dan bencana alam. Sementara di yayasan penampung belum tentu mereka mendapatkan semua yang berhak mereka dapatkan.

Mungkin saya terdengar sok moralis, tapi sesekali cobalah  mendatangi yayasan penampung anak terlantar, yayasan penampung anak-anak TKW hasil perkosaan, dll. Lihat bagaimana mata anak-anak itu menatap Anda, menyambut Anda dengan penuh harapan bahwa Anda lah orang tua yang mereka tunggu-tunggu untuk mengadopsi, membawa mereka ke dalam sebuah keluarga yang lengkap dan  nyaman. Yang menerima mereka dengan tulus tanpa syarat bibit, bebet dan bobot. Perhatikan bagaimana bayi-bayi yang lucu itu begitu menggoda hati untuk dipeluk, dibelai dan disayang sepenuh hati. Datang, lihat dan rasakanlah…

Siapa tahu di antara wajah-wajah tak berdosa itu ada anak Anda!

Wassalam

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dengan mengangkat tema sejarah dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita Islam.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Share yuk untuk berbagi manfaat pada yang lain!

  • Follow by Email
  • Facebook
  • Twitter
  • Telegram