Cadar dan Kisah Panjang di Belakangnya (2)

Alasan pertama mungkin iman saya belum sekuat yang diharapkan untuk mempertahankan cadar saya. Kedua karena dalam lingkungan pengajian saya cadar masih dianggap hal yang memberatkan dakwah, jadi bab-nya adalah bab Fiqhud Dakwah. Cadar adalah sesuatu yang sunnah sementara dakwah adalah sesuatu yang wajib. Maka mendahulukan dakwah adalah lebih penting, kira-kira begitu. Namun seiring berjalannya waktu, perubahan demi perubahan dalam cara berdakwah telah membuka banyak pintu-pintu dakwah yang lain. Dakwah sudah lebih terbuka, sudah merambah dunia politik, fashion, televisi, film dan sebagainya. Siapapun bebas memilih mana yang lebih sesuai dengan diri mereka. Tak ada paksaan dalam bergama, apalagi dalam memilih cara berdakwah.

Mana yang lebih baik dari semua metode itu? Saya rasa tak perlu ada klaim-klaiman mana yang lebih baik dan benar, setiap orang memiliki hujjah sendiri. Silakan pilih dan lakukan metode yang paling sesuai dengan keyakinan masing-masing, tak perlu merendahkan atau menghujat cara orang lain. Di akhir zaman ini, orang mau berdakwah saja sudah bagus karena tantangan dakwah semakin berat, godaan dan ujian kian banyak. Mungkin hijab syar’i dan cadar sudah semakin familiar dan diterima, namun godaan dan ujian semakin berat dalam bentuk yang berbeda dibanding dulu.

Tak perlu mereka yang sudah bercadar puluhan tahun lalu merasa mereka lebih baik, atau mereka yang baru bercadar hari ini merasa lebih baik pula dari yang gak pake cadar. Atau yang sudah berhijab syar’i meremehkan mereka yang berjilbab pendek. Jangan! Karena itu adalah kesombongan yang ditiupkan iblis ke dalam hati kita secara halus. Dan sifat sombong adalah sifat yang sangat dibenci Allah, kesombongan lah yang membuat Iblis terusir dari surga Allah. Pakaian hanyalah satu dari sekian banyak amalan dan ibadah yang wajib dan sunnah dikerjakan. Boleh jadi mereka yang tak bercadar ibadahnya jauh lebih banyak, jauh lebih ikhlas. Who knows?

Cukup Allah yang menilai kualitas diri hamba-hamba-Nya. Jika memang ada yang kita anggap kurang maka perbaikilah dengan cara yang baik, jangan menghujat, menyudutkan atau menghakimi karena itu bisa membuat orang malah menjauh dari hidayah. Sampaikanlah yang baik dengan cara yang baik pula. Hal yang sangat sering saya ulang-ulang adalah bahwa setiap orang butuh proses untuk menjadi lebih baik, maka tahanlah diri kita untuk tidak men-judge seseorang ketika mereka masih dalam proses tersebut. Jangan sampai sikap kita malah membuat prosesnya jadi terhalang bahkan mental.

Jelas tak mudah untuk istiqamah, karena istiqamah adalah hal yang paling berat. Namun saya berharap (meskipun meyakini sebagai sunnah) saya tetap bisa istiqamah memakainya. Tentu cibiran, ejekan, tatapan sinis dan sebagainya tak bisa dinafikan, namun bukankah setiap pilihan ada positif dan negatifnya, setiap pilihan ada resikonya. Hidup di dunia ini adalah deretan resiko demi resiko. Karena dunia adalah temapt ujian bagi seorang Muslim. Muslimah bercadar pun tak kurang-kurang ditempa fitnah. Yang terberat adalah fitnah teroris seperti yang baru-baru ini terjadi.

Namun Allah memang Maha Hebat. Di saat muslimah bercadar diidentikkan dengan teroris, muncul pula berita  di berbagai media bahwa istri polisi korban teroris di Riau ternyata memakai cadar juga. Masya Allah. Terlihat foto Kapolri mengunjungi ruang perawatan polisi tersebut untuk menyerahkan penghargaan. Dan tak hanya satu itu saja istri polisi yang memakai cadar, masih ada beberapa orang lagi. Di bawah ini hanya contoh foto-foto yang banyak beredar di internet.

Muslimah bercadar juga manusia biasa yang tentunya bisa berbuat salah dan khilaf. Sama seperti muslimah berjilbab lainnya. Hukum cadar tak ujug-ujug bisa dikaitkan dengan hukum akhlak. Keduanya butuh waktu untuk dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan. Tak ada manusia yang sempurna. Saya sering membaca atau mendengar tudingan begini misalnya, “Percuma berjilbab atau bercadar, mulut gak dijaga!”

Meskipun tudingan itu tak diarahkan pada saya namun membacanya tetap saja hati saya tertohok. Sebab saya juga berjilbab, itu seperti pecut buat diri saya juga. Namun sekali lagi setiap orang perlu proses. Dari mana ia memulai proses itu bisa jadi berbeda-beda pada setiap orang. Yang sudah berjilbab atau bercadar, perlu proses untuk menyempurnakan akhlaknya. Mereka yang belum berjilbab perlu proses untuk mempelajari dan meyakini wajibnya hukum menutup aurat. Memang sebaiknya akhlak berbanding lurus dengan penampilan namun tetap saja hukum keduanya berbeda dan hisabnya nanti juga berbeda. Hukum membuka aurat beda azabnya di akhirat dengan hukum bergunjing atau berzina misalnya.

Khusus tentang hukum Ccadar sendiri, silakan dibaca di sini: Hukum Cadar yang Saya Yakini

Jadi mari kita saling mendukung, saling mengingatkan dengan cara yang baik, singkirkan ego dan perbedaan mazhab, perbedaan kelompok dan semoga Allah turunkan ampunan-Nya atas dosa-dosa kita di masa lalu. (NSR)

Baca kisah sebelumnya: Cadar dan Kisah Panjang di Belakangnya (1)

Salam Ukhuwah

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dengan mengangkat tema sejarah dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita Islam.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Share yuk untuk berbagi manfaat pada yang lain!

  • Follow by Email
  • Facebook
  • Twitter
  • Telegram