Ego Menjahanamkan Diri

Almarhum guru saya bilang, “Ego itu menjahanamkan diri.”

Karena ego, banyak orang mengharamkan poligami, padahal Allah menghalalkan.
Karena ego, banyak orang menganggap jilbab itu gak wajib, padahal Allah jelas mewajibkan.
Karena ego, banyak orang mengharamkan agama masuk ranah politik padahal dalam Islam jelas ada ilmu politik yang disebut siyasah.

Begitulah manusia. Ketika sesuatu itu tak sesuai dengan egonya maka ia mengharamkan, namun jika sesuai maka ayat Alquran mereka perjualbelikan.

“Menolak karena ketidaktahuan adalah kebodohan dan menolak karena ego adalah kesombongan.”

Kalimat dalam tanda kutip ini perlu kita renungkan sejenak. Menjadi orang bodoh itu masih bisa diampuni namun menjadi orang sombong artinya menantang Allah. Sampai Allah menyebut orang yang sombong itu sebagai perampas mantelnya Allah. Iblis pun terusir dari surga karena kesombongan bukan karena kebodohan.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan seberat zarrah dalam hatinya.”

Kemudian ada sahabat yang bertanya,

“Ada orang yang suka memakai baju bagus, sandal yang bagus. Apakah termasuk kesombongan?”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Allah itu indah menyukai sikap berhias. Sombong itu menolak kebenaran dengan takabbur dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim 275)

Kenapa saya jadi bahas soal ini? Karena saya cukup miris melihat iklan pemilu di TV yang dengan pedenya menentang poligami seolah-olah dia paham betul asbabun nuzul ayat poligami tersebut. Dia berani mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah.

Poligami itu ya, Gaes, jangan dianggap seperti hantu yang harus dimusuhi meskipun ia menyakitkan. Ayat poligami itu justru memberi batasan pada lelaki untuk menikahi perempuan. Sebab sebelum ayat poligami itu turun, para lelaki bebas menikahi perempuan berapapun jumlahnya. Dan saat Rasulullah menikahi 9 istrinya, turunlah ayat tentang batasan empat orang istri tersebut. Jadi Rasulullah bukan melanggar aturan yang dibuat Allah sebagaimana fitnah yang dilontarkan oleh seorang lelaki yang mengaku mantan ustadz beberapa waktu lalu atau yang ditudingkan oleh kaum liberal. Latar belakang pernikahan Rasulullah pun sarat muatan syiar, bukan mengikuti hawa nafsu sebagaimana kebanyakan lelaki pada zaman itu. Bahkan ayat poligami dalam Alquran itu menekankan syarat adil yang jelas sangat berat, hingga penawaran akhirnya adalah cukup menikahi satu orang perempuan saja jika mereka takut tak mampu berlaku adil.

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilama kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (An-Nisa: 3)

Masalahnya di mana? Masalahnya adalah ketika kita memahami ayat tersebut dari sudut pandang yang keliru. Yaitu ketika kita memahami poligami sebagai syariat lalu berpikir bahwa itu berarti wajib dijalankan. Padahal jelas itu pilihan. Dan pilihan itu bisa jadi alternatif bagi sebagian orang, misalnya poligami yang dilakukan Nabi Ibrahim karena ingin mendapat keturunan. Poligami itu ternyata membawa berkah di sisi lain karena tak lama sesudah Siti Hajar melahirkan, lalu istri pertama beliau, Siti Sarah pun hamil. Poligami juga bisa jadi alternatif bagi lelaki yang istrinya tak mampu melayani karena sakit misalnya. Si suami tetap bisa hidup normal tanpa harus menceraikan istrinya. Setidaknya poligami lebih mulia dibanding berselingkuh atau menikah diam-diam, sebab selain bisa menyamarkan silsilah (silsilah anak keturunan harus jelas dalam Islam), selingkuh atau menikah diam-diam tetap sangat menyakitkan bagi perempuan.

Poligami berat? Pasti, berat bagi perasaan perempuan dan berat bagi rasa keadilan laki-laki. Bahkan digambarkan bahwa kecemburuan Fathimah pada Ali begitu memanaskan dada, hingga diumpamakan cemburunya Fathimah itu mampu menghanguskan pohon kurma. Dan dalam sebuh kisah diceritakan bahwa Nabi tak suka Ali menikah lagi selama Fathimah masih ada. Riwayat lain mengatakan karena secara finansial pun Ali termasuk kekurangan. Dan faktanya, Ali sama sekali tak menikah lagi sampai Fathimah meninggal. Dan faktanya juga, Rasulullah tak menikahi perempuan lain hingga Siti Khadijah meninggal, setelah 20 tahun pernikahan mereka. Jadi tudingan miring atas poligami Rasulullah jelas hanya sebuah upaya memadamkan cahaya Islam oleh musuh-musuh Islam dan mirisnya itu ditelan mentah-mentah oleh ummat Islam yang egonya memang menolak syariat.

Padahal poligami tidak wajib, itu pilihan bagi yang memerlukan dan mampu tentunya. Lalu buat apa kita dengan latah mengharamkan? Jika memang tidak sanggup ya jangan dipaksakan menjalani. Menolak itu hukumnya berbeda jauh dengan ketidaksanggupan menjalani. Menolak hukum berarti kesombongan karena menentang hukum Allah, berat akibatnya pada aqidah kita. Sementara keberatan menjalankan karena tidak mampu tentu hanya masalah fiqih, tidak merusak aqidah kita.

Ini sama saja dengan hukum lain yang disyariatkan Allah, seperti menutup aurat misalnya. Mengatakan hijab itu tidak wajib berarti menentang hukum Allah, tapi tidak mengenakan hijab karena belum sanggup atau belum paham dihukumi sebagai dosa fiqih, bukan dosa aqidah. Dosa aqidah ini yang berat karena bisa mengeluarkan kita dari aqidah Islam. Di sinilah maksud kalimat “Ego Menjahanamkan Diri” yang saya tulis di atas.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain).” serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir) merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (QS al-Nisa’: 150-151).”

Makanya saya miris melihat politikus yang dengan bangganya menolak hukum poligami dan itu disiarkan berulang kali di TV. Ini memiriskan karena yang bicara adalah seorang muslim di tengah masyarakat mayoritas muslim pula. Mungkin kalau yang bicara orang non muslim tidak aneh dan tidak merusak keyakinannya. Ingat lho, yang dia tentang itu adalah apa yang dijalankan oleh nabinya, orang yang dengan namanya ia bersyahadat. Mengimani sebagian hukum Islam dan menolak sebagiannya adalah bentuk penolakan pada keyakinan atau aqidah Islam secara keseluruhan. Di situ berbahayanya. Apalagi cuma demi menjaring suara di pemilu lalu menentang ayat Allah, tentu sangat memiriskan dan memalukan. (Via)

Baca juga: Memahami Cinta Allah Sebagai Cinta

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dengan mengangkat tema sejarah dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita Islam.


18 thoughts on “Ego Menjahanamkan Diri

  1. Siwi Ragil

    Banyak orang yang belum paham tentang syariat islam uni tapi sudah berani bicara lantang di muka umum, yang seperti ini kadang membuat binggung masyarakat yang pemahamannya masih sedikit. Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita dalam kebenaran..aamiin

    Reply
    1. Novia Syahidah Post author

      Aamiin. Iya, ilmu Islam itu amat sangat luas, penuh kelapangan dan kemanfaatan bagi manusia. Tapi sering disalahpahami karena tidak mempelajarinya dengan baik.

      Reply
  2. denik

    Betul Mba. Heran saya sama orang-orang itu. Poligami diharamkan, LGBT dimaklumi sebagai bagian dari hak asasi manusia. Seenaknya saja membuat aturan. Padahal jelas-jelas aturan dan hukumnya seperti apa.

    Reply
  3. lisa lestari

    Terima kasih diingatkan uni, betul banget, yang terjadi sekarang ini justru kebolak balik. Yang sudah jelas tercantum dalam al quran malah dibikin nggak jelas. Semoga kita dijauhkan dari sifat ego yang mampu menjahanamkan diri. Aamiin. (Jadi kepo, siapa yang bilang uni? Eh#)

    Reply
  4. Dian Restu Agustina

    Saya hampir enggak pernah nonton TV, jadi baca berita enggak lihat tayangannya..

    Seharusnya sebelum bicara belajar dulu hukumnya. Jadi enggak asbun.
    Apalagi kalau yang dibahas hal yang sejatinya jelas-jelas dasarnya.

    Reply
  5. Iecha

    Rombongan somplak Indonesia. Kaga ngerti agama, pake bahas agama. Agama orang pun yg dibahas. Maka benarlah yg Rasulullah bilang, kalo pada suatu masa, ada orang2 yg gak ngerti agama ngomongin agama. Tanda2 akhir zaman emang. Kudu bangetlah #2019GantiKalender!

    Reply
  6. April Hamsa

    Mungkin jg ada pengaruh dr org yg berpoligami. Di masyarakat, ada bbrp oknum yang poligami skrng istri mudanya jauh lbh mudah dan cantik dr istri pertama hehe. Trus saya perhatikan di lingkungan saya, yg poligami justru (maaf) mereka yg ekonominya rendah, pdhl menghidupi keluarga pertamanya aja gak mampu. Mungkin inilah yg akhirnya bikin jd dikecam oleh mereka yg emang blm paham.

    Reply
  7. Amelia Fafu

    Uni, izin share ya. Sebagai muslim, kita harusnya memahami semua hukum Allah yg dibuat pasti ada kebaikan di dalamnya. Sedih banget ada orang yg dengan terang-terangan bicara menentang… Hhhh,

    Reply
  8. Visya

    Ego itu apaksh selslu berkaitan dg negativisme Uni?
    Tapi aku setuju dengan kslimat2 di awal, egoisme diri bikin kita ‘tidak maju’ dnn stagnan.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Share yuk untuk berbagi manfaat pada yang lain!

  • Follow by Email
  • Facebook
  • Twitter
  • Telegram