Inspirasi Tak Bertepi

inspirasi-tak-bertepiUntuk ibuku…

Ibu, maafkan jika aku tak seperti yang lain. Aku nyaris tak pernah mengucapkan selamat Hari Ibu padamu. Bahkan di hari ulang tahunmu, tak sekalipun aku mengucapkan kata selamat. Sekali lagi maafkan aku, Ibu. Aku memang tak seperti anak-anak yang lain.

Aku tak pernah bermaksud durhaka meski tak punya kata-kata manis untukmu. Aku pun tak bermaksud melupakan jasa jika jarang memelukmu. Aku anak yang kaku melakukan semua itu. Aku anak yang kelu untuk menuturkan kalimat-kalimat indah itu. Namun percayalah,  segenap hatiku senantiasa memeluk hangat dirimu. 

Aku memang tak pernah melakukan semua yang dilakukan teman-temanku. Aku tak bisa seperti mereka. Mengungkapkan rasa sayang dengan kalimat berbunga-bunga di setiap sosial media. Aku tak bisa lakukan itu. Media sosialku sepi di Hari Ibu.

Bukan karena tak ingin. Tapi karena setiap kali jari ini ingin menulisnya, mataku mendahului berkaca-kaca. Hatiku berbisik ngilu, “Ibuku tak kan membacanya. Ibuku bukan orang yang terakses ke media sosial. Ibuku adalah perempuan sederhana yang menikmati usianya di penghujung senja. Buat apa aku menulisnya jika aku yakin itu percuma?”
Jariku pun urung merangkai kata.

Ibu…

Maafkan aku Ibu, meski kasihmu telah membaluri sepanjang usiaku, namun balasanku hanyalah bakti yang tak seberapa. Bahkan mendoakanmu kadang masih saja aku terlupa. Dan bagimu, itu tak menyisakan dosa. Tidakkah ini patut aku syukuri dengan menjadikanmu inspirasi dalam hidupku?

Sungguh, belajarku tak cukup waktu tentangmu. Tentang kesabaranmu, kepedulianmu dan keresahanmu tentang aku. Dan aku malu, Ibu. Malu untuk terus menerima jasa dan perhatianmu yang tak melihat dewasanya usiaku. Di matamu, aku tetaplah seorang anak yang harus selalu diberi perhatian, selalu dikhawatirkan, selalu ditawarkan bantuan. Duh, Ibu…!

Sekali lagi maafkan aku Ibu, jika media sosialku sepi di Hari Ibu. Sepi dari nama dan sosokmu. Sepi dari kalimat manis tentangmu.

Cukuplah bagiku tiap kali rindu menyesaki dada ini -seperti biasa- aku akan meneleponmu, menyapamu dengan sapaanku yang tak berbunga-bunga. Hanya sapaan biasa, namun kuyakin membuat senyummu mengembang bahagia di ujung sana.

“Ibu, lagi ngapain? Ibu sehatkah?”

========================

Inspirasi Tak Bertepi

Penggal demi penggal kalimat di atas memang layak ditujukan pada orang yang istimewa bergelar ‘ibu’. Ibu yang menginspirasi. Dan inilah report terbaik bagi saya tentang seorang ibu. Di sepuh usianya, yang selalu tergambar adalah jasanya di sepanjang usia saya.

Seperti apakah perempuan yang saya panggil ‘ibu’ itu? Ibu saya bukan orang terkenal, bukan orang yang pernah mendapat penghargaan atas jasa dan kontribusinya, bukan pula sosok berpendidikan tinggi dengan karir gemilangnya. Namun hati saya digempuri oleh ketakutan akan kehilangan. Kehilangan sosoknya yang penuh pengertian, kehilangan doa-doa mustajabnya yang membuka pintu-pintu keberkahan.

Ibu saya adalah seorang perempuan yang kedua kakinya tak lagi mampu berjalan menopang tubuhnya. Yang jika hendak menuju ke kamar mandi harus merangkak di kedua lututnya dan bertopang di kedua tangannya. Dan itu selalu membuat kedua mata saya merebak iba. Saya melihat beliau menjalani semua itu dengan penuh kesabaran. Saya katakan sabar karena ibu saya menjalani hari-hari ‘tanpa kaki’ itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Saya bahkan tak begitu ingat kapan persisnya.

Dengan keterbatasan itu, ibu saya terkadang juga masih harus didera penyakit lain di usianya yang kian senja. Namun yang selalu saya tangkap dari sosoknya adalah semangat untuk melanjutkan hidup. Ibu saya pantang menghendaki mati meskipun sakitnya kadang tak terperi. Baginya hidup sangat berharga dan ia tak mau kehilangan nyawa sia-sia. Ia masih sangat ingin melihat anak-anaknya hidup bahagia, tak kekurangan apapun jua. Kalau bisa ia pun ingin melihat cucu-cucunya beranjak dewasa. Semangat ibu saya, mampu menggerus segala keluh-kesah akibat sakitnya.

Ibu saya, dengan segala keterbatasannya, masih harus melayani suaminya yang juga telah beranjak renta. Bapak saya adalah sosok laki-laki yang sedikit manja. Cepat emosi ketika keinginannya tak segera dipenuhi. Dan ibu saya dengan segala kesabaran terus melayani, meski kadang untuk melayani dirinya sendiri pun sudah tertatih-tatih. Ibu saya ibarat mata bagi seorang suami yang buta. Buta? Ya, bapak saya sudah bertahun-tahun tak lagi mampu menikmati warna-warni dunia. Ditambah gerogotan penyakit lainnya, maka menjelmalah bapak saya seperti bocah yang berlagak raja. Bersikap kekanakan dan marah sesukanya.

Semua itu dihadapai ibu saya dengan sabar dan diam. Beliau selalu beranggapan,  “Laki-laki memang begitu kalau sudah tua.”

Ibu saya tahu betul, laki-laki yang selalu bersamanya itu tak punya harapan lain selaian terus didampingi olehnya. Ibu saya sangat memaklumi, orang yang sudah tua seringkali gagal mengendalikan emosinya seperti anak-anak, sergapan penyakit membuat emosi tersulut kapan saja. Namun masih terngiang kalimat jujur dari mulut bapak saya, “Saya selalu berdoa, semoga saya yang meninggal lebih dulu dibanding ibumu. Saya akan sengsara tanpa dia.”

Tahukah maknanya? Ya, bapak saya sangat tergantung pada ibu saya. Takut kehilangannya. Takut tak lagi ada orang yang sabar mengurusnya. Dan mungkin memang hanya ibu sayalah yang bisa sesabar itu. Jika dalam mengurus suaminya ibu saya begitu sabar dan telatennya, apalagi mengurus anak-anaknya.  Karena itulah saya menyebut beliau sebagai inspirasi tak bertepi.

Itulah ibu saya. Bahkan saya tak ingat kapan terakhir beliau memarahi saya. Sungguh saya tak ingat sama sekali. Yang saya ingat justru kapan terakhir kali ibu menangis untuk saya, menangis sebagai ungkapan sayangnya. Saya ingat kapan terakhir beliau mengkhawatirkan saya. Saya bisa ingat kapan terakhir beliau mendoakan saya agar berhasil dalam segala usaha.

“Bu, apa kabar? Ini lagu buat Ibu, ya.” (V)

Baca juga: Terimakasih, Abo!

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dengan mengangkat tema sejarah dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita Islam.


19 thoughts on “Inspirasi Tak Bertepi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Share yuk untuk berbagi manfaat pada yang lain!

  • Follow by Email
  • Facebook
  • Twitter
  • Telegram