Menuju Hijrah Kaffah Bersama tERe

Kadang kita gak pernah membayangkan bahwa hidayah bisa menyentuh seseorang dengan caranya yang unik. Kisah unik itu saya simak hari ini dari seorang musisi yang telah membulatkan tekad untuk hijrah, yaitu tERe yang juga menjadi konsultan HKI. Terlahir dalam keluarga non muslim, Tere menemukan hidayah lewat pesan singkat seorang teman dan juga lewat mimpi. Gimana sih kisah lengkapnya?

Tere yang memiliki nama lengkap Theresia Ebenna Ezeria Pardede, muslimah kelahiran Sumatera Utara yang besar dalam keluarga Kristen. Tere memulai pendidikan di SD Charitas St Stefanus, Jakarta (1985—1991), SMP Charitas St Stefanus, Jakarta (1991—1994), dan SMUN 70 Bulungan, Jakarta (1994—1997). Setamat pendidikan awal, dia melanjutkan studi di University of Indonesia, Diploma in Social and Political Sciences, Department of Communication Science (1998-2001) dan University of Indonesia, Bachelor in Social and Political Sciences, Department of Communication Science (2001—2005).

Tere adalah perempuan sarat prestasi, di antaranya:
• Juara Kedua Kompetisi Debat untuk SMU Negeri 70 Jakarta pada perayaan yang ke-13 tahun 1996
• One of the Best Graduate in Diploma-3 Program, FISIP-UI, Depok (2001)
• Cum laude in accomplish Diploma Program, University of Indonesia, Depok (2001)
• Platinum Award for tERe debute album Awal Yang Indah produced by PT Aquarius Musikindo, Jakarta (2002)
• Ambassador of Axa Champion Club 2007, Jakarta (2007)
• Ambassador of Axa Champion Ckub 2008, Jakarta (2008).

Dari Sebuah Pesan Singkat

Kapan Tere mulai tertuntun menuju jalan Islam? Ternyata berawal dari sebuah SMS yang dikirim temannya, pesan itu berisi: Dalam Islam juga ada Jesus, tapi kami menyebutnya Nabi Isa, bukan Tuhan.

Pesan itu mengejutkan Tere. Islam juga mengenal Jesus? Dari sanalah ia mulai merasa penasaran dan mencari tahu kebenarannya. Dari buku-buku ia mencari penjelasan sebelum akhirnya memberanikan diri membuka Alquran. Tere melakukan pencarian dengan penuh kesungguhan hingga ia pun mulai percaya pada kebenaran Islam.

“Semua data sudah terkumpul lengkap di kepala saya, namun hati saya masih keras untuk mengimaninya,” ungkap Tere menceritakan kenapa ia tak langsung mengucapkan dua kalimah syahadat. Sekitar setahun ia menyimpan dan berusaha menolak keberanan data yang ada di kepalanya. Akhirnya lewat sebuah mimpi ia tak lagi kuasa menutup hati.

Tere bermimpi meninggal dunia. Dalam mimpi itu ia ditanya oleh malaikat siapa tuhannya. Tere menjawab tuhannyabadalah Allah. Malaikat bertanya lagi, siapa nabinya. Tere kembali menjawab nabinya adalah Muhammad. Sesaat kemudian ia pun terbangun. Mimpi itu terasa sangat membekas dan seakan memberi isyarat padanya untuk segera masuk Islam. Kebenaran yang sudah ia simpan di pikirannya kini ia coba hubungkan ke hati untuk diimani. Menolak kebenaran yang sudah terang memang berat, hatinya terasa lega setelah mengucapkan dua kalimat syahadat.

Satu hal yang membuat Tere senang, ayahnya ternyata juga sudah jadi mualaf. Itu membantu menguatkan Tere. Namun hal itu tak berlangsung lama seperti dugaannya, ayahnya kembali ke keyakinan lama justru saat hendak menghembuskan nafas terakhir. Tere terpukul. Saat itulah ia menemukan kesadaran bahwa ketika hidayah dan iman itu berhasil diraih, maka jangan sia-siakan. Genggam dan gigit ia kuat-kuat agar tak lepas dari hati. Kesadaran ini membuat Tere makin serius mendalami Islam. Ia pun mulai istiqomah berhijab, menyibukkan diri dalam kajian keislaman dan kegiatan sosial.

Saya bisa melihat keharuan merayapi ruang lantai 2 Nutrifood Inspiring Center saat beliau bercerita. Saya yang bertindak sebagai moderator dibuat berkaca-kaca hampir di sepanjang acara. Menginspirasi sekali. Semangatnya yang kuat bisa dirasakan oleh peserta.

Yang paling mengharukan bagi saya adalah saat kami berpelukan, ia berbisik, “Cari aku nanti ya Ukhti, jika tak menemukanku di surga.”
Ya Allah, rasanya kayak kebalik, dosa saya tuh mungkin lebih banyak darinya, tapi kalimat itu terucap begitu sungguh-sungguh, mungkin karena ketulusan dan kerendahan hati beliau. Masya Allah.

Bersyukur banget bisa menghadirkan beliau di #Milad4BloggerMuslimah karena banyak sekali pelajaran dan inspirasi yang bisa dipetik. Ia menghimbau para peserta agar menjaga hidayah (Alquran dan sunnah Rasul)  dengan terus mempelajarinya. Hidayah itu sudah di genggaman kita, tinggal kitanya mau mengikutinya atau tidak. Alhamdulillah, acara sharing kali ini sangat bermanfaat dan penuh kesan. Jazakillahu khoir, Ukhti Tere, semoga Allah pertemukan kita di lain waktu dan juga di surga-Nya kelak. Aamiin Allaahumma aamiin. (Via)

Baca juga: Milad ke-4 Blogger Muslimah

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dengan mengangkat tema sejarah dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita Islam.


6 thoughts on “Menuju Hijrah Kaffah Bersama tERe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Share yuk untuk berbagi manfaat pada yang lain!

  • Follow by Email
  • Facebook
  • Twitter
  • Telegram