Mereka Datang Lagi

mereka datang lagiEntah sudah berapa kali para ibu itu datang ke rumah saya, mengucap salam dengan cukup keras, menyalami dan menanyakan kabar saya begitu saya muncul di hadapan mereka, lalu dengan gaya yang masih sangat akrab menanyakan juga kabar anak-anak saya. Mereka adalah tiga orang ibu-ibu dengan usia sekitar 40 tahunan.

Namun yang saya ingat betul adalah saat kedatangan mereka yang terakhir. Saat itu saya tengah bermain dengan kedua anak saya di halaman samping yang kebetulan bersisian langsung dengan jalanan. Jadi siapa pun yang lewat akan bisa melihat kami disana.

“Assalaamualaikum…” Suara salam milik salah satu dari ibu-ibu itu membuat saya menoleh ke halaman depan, tepatnya ke arah pintu pagar. Saya agak menarik napas ketika tahu siapa yang datang, dan terlebih lagi melihat mereka (tanpa basa-basi) langsung membuka pintu pagar padahal salamnya pun belum selesai saya jawab. Biasa, mereka memang selalu menunjukkan sikap akrab yang terlihat agak berlebihan.

Maka seperti sudah terendus sebelumnya, acara selanjutnya adalah bersalaman, bertanya kabar, mendoakan kesehatan dan keselamatan bagi saya dan keluarga. Dan seperti biasa pula, saya masih menyambut dengan senyuman, menjawab pertanyaan dan doa mereka sewajarnya. Saya memang tak bisa bersikap ketus meski sedang tak suka menerima mereka (bayangkan, kadang mereka datang pada saat saya sedang berjibaku di dapur atau sedang mengeloni anak saya yang kecil), saya juga tidak bisa bersikap terlalu akrab seperti mereka.

“Maaf ya, Bu, kedatangan kami kesini untuk minta sumbangan seikhlasnya dari Ibu. Saya kan punya anak-anak yatim, mereka butuh biaya untuk sekolah. Ini, saya masih menunggak untuk bulan ini,” ujar salah satu dari mereka sembari menunjukkan sebuah buku kecil berwarna hijau yang sudah tampak lusuh.

Terus-terang saya tidak begitu tertarik mengamati buku tersebut, buat saya yang penting adalah maksud kedatangan mereka menemui saya. Saya mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan tersebut, yang buat saya adalah penjelasan kesekian kalinya karena ini bukanlah kedatangan mereka yang pertama. Saat pertama datang dulu, saya sudah mendengar penjelasan yang sama, hanya saja yang menyampaikan adalah ibu dengan tubuh agak gemuk.

Jujur, saya merasa tidak enak jika harus menolak permintaan ini. Apalagi dengan kedatangan mereka yang berkali-kali ke rumah saya, baru sekali saya memberikan sumbangan yang mereka minta yaitu saat kedatangan mereka yang pertamai. Kedatangan kedua, ketiga dan seterusnya, saya selalu menolak. Tentunya bukan tanpa alasan saya menolak.

Saya tahu pemerintah sudah melarang memberikan sumbangan atau sedekah kepada para peminta-minta, namun bukan itu alasan saya menolak. Saya hanya tidak suka cara mereka. Dan saya ingin menyampaikan itu di kunjungan mereka kali ini.

Sambil bermain dengan anak-anak, saya mulai mengajak mereka ngobrol, bertanya tentang suaminya yang (katanya) sudah meninggal, tentang sekolah anaknya dan sebagainya. Saya berusaha menunjukkan sikap serius saat mengobrol.

Akhirnya setelah merasa cukup bertanya, saya pun berkata, “Maaf ya, Bu. Sebenarnya saya bukan keberatan membantu. Mungkin begitu juga dengan orang lain yang Ibu kunjungi, saya rasa bukan masalah pelit atau tak mau peduli. Ibu pasti paham, setiap orang yang Ibu mintai sumbangan tentulah bekerja untuk mendapatkan uang. Dan ketika ada orang seperti Ibu, yang ujug-ujug datang meminta uang tanpa bekerja, maka wajar kalau mereka merasa keberatan.”

Saya perhatikan raut muka ketiganya agak berubah, senyum yang sejak tadi diumbar mulai memudar, canggung.

Saya melanjutkan, “Kalau saya boleh menyarankan, jika Ibu memang benar-benar butuh uang, maka datangilah orang-orang dengan menawarkan jasa atau tenaga. Membantu mereka apa saja, demi mendapatkan imbalan uang. Jangan cuma meminta sumbangan begitu saja, karena itu tidak menunjukkan kesungguhan Ibu. Sekali lagi maaf ya, Bu, saya tidak bermaksud menggurui. Tapi coba Ibu bayangkan, para pembantu rumah tangga saja harus bekerja sepanjang hari untuk mendapatkan gaji 300 sampai 500 ribu perbulan di kompleks ini. Itu artinya mereka harus bekerja mencuci, menggosok, memasak dan sebagainya untuk mendapatkan uang antara sepuluh sampai dua puluh ribu perhari.”

“Bu, kalau Ibu tidak mau membantu ya tidak apa-apa, kami kan tidak memaksa, seikhlasnya saja,” sahut ibu-ibu bertubuh agak gemuk. Saya rasa dia mulai tak suka mendengar ‘ceramah gratis’ saya.

“Kan sudah saya bilang, saya bukan tidak mau membantu. Saya juga tidak bermaksud menggurui. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya rasakan, dan saya yakin orang-orang yang pernah Ibu datangi juga merasakan hal yang sama dengan saya. Cobalah tunjukkan kesunggughan Ibu dengan menawarkan diri bekerja, membantu sebisanya sambil menceritakan kebutuhan dan kondisi Ibu yang sebenarnya. Saya yakin orang akan lebih bersimpati untuk membantu. Bahkan bisa jadi mereka akan membantu jauh lebih banyak dari yang Ibu minta,” jelas saya lagi.

“Sekarang dari pada Ibu jalan berkeliling mengharapkan sumbangan sepuluh atau dua puluh ribu yang belum tentu dapat, bagaimana kalau Ibu membantu saya membersihkan halaman ini. Nanti saya kasih uang seratus ribu. Itu sudah lebih lho dibanding harga yang biasa saya kasih ke langganan saya. Biasanya langganan saya juga harus memotong tanaman pagar ini,” tawar saya sambil menunjuk tanaman pagar yang mengelilingi halaman, “Ibu cukup membersihkan rumput-rumput di sekeliling rumah ini saja. Bagaimana?”

“Maaf ya, Bu, kami bukan tidak mau, tapi lain kali saja. Kami masih ada keperluan lain soalnya. Terima kasih.” Mereka langsung pamit dan berlalu dari hadapan saya dengan ucapan salam yang tak lagi bersemangat. Juga tanpa menyalami dan mendoakan saya seperti biasanya.

Saya hanya tersenyum getir memandang kepergian mereka. Inilah cermin sebagian masyarakat di negeriku yang katanya makmur, rajin dan ramah tamah. Tapi saya masih berharap kelak mereka akan datang lagi, tentunya sambil menawarkan jasa, membantu saya apa saja, dan saya pun dengan senang hati akan membantu keperluan mereka. Karena membantu orang lain adalah hal yang sangat membahagiakan saya, namun membantu orang yang bersungguh-sungguh jauh lebih membahagiakan saya. (V)

Note:

Harus saya akui, kadang saya terlalu malas dan merasa membuang-buang waktu memberi ‘ceramah gratis’ seperti di atas. Belum lagi jika membayangkan balasan (berupa sikap ketus, mengomel, bahkan caci-maki) dari orang-orang tersebut. Lha wong mereka minta duit kok malah dikasih nasihat! Namun siapa tahu, waktu yang kita luangkan sedikit untuk memberi ‘ceramah gratis’ itu justru akan membuat mereka jera meminta-minta. Minimal mereka sudah mendapat pengalaman baru, bahwa ternyata orang-orang yang mereka datangi sudah tak seperti dulu lagi. Mereka tak lagi cukup mendengar kata kata ‘maaf’ sebagai bentuk penolakan dan usiran halus. Kini mereka harus siap mendengar sebuah ‘ceramah gratis’ yang jelas-jelas tidak akan berakhir dengan uang! 🙂

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dengan mengangkat tema sejarah dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita Islam.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Share yuk untuk berbagi manfaat pada yang lain!

  • Follow by Email
  • Facebook
  • Twitter
  • Telegram