Salah Kaprah Orangtua

Sebagai orangtua, siapa sih yang gak pengen anak-anaknya jadi ahli surga? Semua pasti pengen. Namun ada sedikit salah kaprah di pihak kita sebagai orangtua. Kita begitu berharap anak-anak bisa jadi investasi akhirat kita. Anak yang hafal Quran kelak akan memasangkan mahkota surga untuk orangtuanya. Anak yang hafidz ini juga bisa memberi syafaat kepada 10 keluarga terdekatnya. Masya Allah. Orangtua mana yang gak berbunga-bunga mendengarnya? Maka berlomba-lombalah para orangtua, mulai dari yang kaya raya hingga kelas jelata, memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah agama. Mulai dari sekolah gratisan sampai yang berbiaya puluhan juta.

Sebuah semangat yang keren menurut saya. Gak ada yang salah sampai di sini. Lalu di mana salah kaprahnya?

Ternyata ada di diri kita sebagai orangtua. Kita begitu berharap anak bisa jadi penyelamat akhirat kita namun kita lupa menyelamatkan diri sendiri. Insya Allah biaya dan tenaga yang sudah kita keluarkan untuk pendidikan anak di sekolah agama atau pesantren itu memang akan berbuah amal jariah bagi kita selama ilmunya dimanfaatkan oleh si anak untuk kebaikan. Namun jika si anak ternyata di kemudian hari meninggalkan ilmu dan amal sholehnya, maka amal jariah itu terputus.

Nah, kenapa sebagai orangtua kita gak berusaha melakukan hal yang sama seperti anak-anak kita? Kenapa kita gak jadikan diri kita orangtua yang sholeh agar kelak bisa menyelamatkan 10 keluarga kita dari azab neraka? Kenapa kita gak berambisi memasangkan mahkota juga untuk orangtua kita sementara kita tahu hal itu sangat kita dambakan dilakukan oleh anak-anak kita?

Kenapa kadang kita terkesan seperti orangtua oportunis? Ingin mendapatkan ‘keutungan’ dari anak-anak kita namun kita sendiri ogah melakukan hal yang sama? Kenapa kita gak berpikir jadi penyelamat anak-anak kita kelak? Kan tidak ada jaminan anak-anak yang sudah disekolahkan di sekolah agama pasti akan istiqomah hingga akhir hayatnya? Kenapa kita gak saling berusaha bersama anak-anak kita?

Mereka belajar agama, kita juga. Mereka menghafal Alquran, kita juga. Mereka terbiasa shalat malam dan puasa sunnah di sekolahnya, kita juga. Jangan sampai anak-anak melihat kita seperti orangtua munafik, hanya menyuruh anak jadi orang sholeh, sementara kita sendiri jauh dari karakter itu. Tidakkah kita egois sebagai orangtua?

Saat saya menempel jadwal Karantina Ruhiyah di dinding, anak lelaki saya bertanya, “Kok Bunda kayak anak sekolah aja? Pake jadwal kegiatan gitu?”

Saya menjawab, “Kan Bunda juga mau masuk surga kayak kamu. Kalau kamu gak bisa nyelamatin Bunda, biar Bunda yang nyelamatin kamu.”

Dia terharu dan memeluk saya. Kadang anak perlu kita yakinkan bahwa ketika kita menginginkan kebaikan buat dia, berarti kita juga mengingkan kebaikan yang sama buat diri kita sebagai orangtua. Setidaknya anak paham bahwa bentuk sayang kita ke dia gak cuma lewat uang dan omelan, tapi juga lewat amalan.

Jangan sampai di pesantren anak kita sibuk menghafal Alquran, kita masih sibuk mondar mandir ke mal. Anak kita rajin puasa sunnah, kita sibuk ngopi-ngopi syantik. Anak kita rajin tahajjud, kita rajin nonton bioskop. Gak adil kan?

Nah, itulah kenapa orangtua juga harus berusaha memperbaiki diri. Harus rajin juga belajar agama, melatih diri dengan amalan wajib dan sunnah, berusaha menghafal Alquran semampunya. Ingat lho, meskipun kita gak akan pernah mampu menghafal seluruh isi Alquran, namun teruslah menghafalnya. Seayat sehari masa gak bisa? Usaha itu yang akan dinilai oleh Allah. Bukankah orang yang membaca Alquran dengan terbata-bata pahalanya dua kali lipat dibanding yang lancar membacanya?

Jadi alasan apalagi sekarang yang mau kita kemukakan? Sibuk? Otak sudah lemot? Sudah tua? Selamat mengarang alasan sebanyak-banyaknya yaaa 🙂

Baca juga: Apa Itu Karantina Ruhiyah?

#KarantinaRuhiyah

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dengan mengangkat tema sejarah dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita Islam.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Share yuk untuk berbagi manfaat pada yang lain!

  • Follow by Email
  • Facebook
  • Twitter
  • Telegram