Salfaz Syar’i Andalan Rumah Lentik

Leny Puspadewi

Leny Puspadewi

Beberapa kali saya melihat iklan merek dagang (brand) LENTIK di majalah. Sebuah produk yang memiliki sentuhan batik di setiap produknya. Penasaran siapa pemilik brand busana muslim yang unik ini? Beliau adalah seorang muslimah yang ramah dan murah senyum, Leny Puspadewi. Setelah melakukan wawancara singkat, cukup banyak informasi yang saya dapat. Yuk ah, disimak!

Leny ternyata tak hanya membuat merek dagang Lentik. Ada beberapa merek lain yang dibuat oleh rumah produksinya yang berkantor di Jl. Mentor No. 53 Gunung Batu, Bandung. Usaha ini berdiri sejak tahun 2010, saat dimana Leny mulai memproduksi dalam jumlah cukup banyak dan melakukan pemasaran keagenan via toko online saja.

Merek Lentik digunakan untuk baju muslim wanita dewasa yang selalu ada sentuhan batiknya. Ada juga merek Zirac untuk baju muslim laki-laki dewasa, dibuat sebagai pasangan untuk Lentik. Kemudian ada merek Salfaz untuk baju muslim wanita lebih muda dan tanpa sentuhan batik. Terakhir ada merek Manomani untuk aksesoris dari batik dan perlengkapan yoga.

Leny bercerita, “Sebetulnya diawali dengan ‘ketidaksengajaan’. Seperti kebanyakan perempuan, pada waktu itu saya hobby berbelanja terutama produk fashion. Setiap kali bepergian selalu tergoda untuk berbelanja apalagi ketika ada diskon. Padahal barang-barang yang dibeli sebagian besar tidak terlalu dibutuhkan. Terbukti dengan tanpa disadari barang-barang belanjaan saya kebanyakan menumpuk di salah satu sudut kamar. Suami lah yang kemudian menyadarkan saya dengan menanyakan kepada saya: “Bunda, itu apa sih yang menumpuk di sudut?” Dia juga memberikan ide untuk menjual kembali barang-barang tersebut ke tetangga, saudara, atau teman dekat dengan harga murah, ketika saya bingung harus diapakan barang-barang sebanyak itu yang sebagian besar tidak saya perlukan dan beberapa sudah out of date.”

Di luar dugaan Leny, ternyata barang-barang tersebut laris manis, mungkin karena harganya yang murah. Dan setelah itu banyak diantara pelanggan yang mulai meminta untuk dicarikan berbagai model busana. Jadilah Leny keluar masuk pasar dan grosiran untuk mencari pesanan-pesanan mereka. Leny senang karena hobby belanjanya tersalurkan dan bisa memperoleh pendapatan tambahan, bukan menghambur-hamburkan uang. Sayangnya keasyikan blusukan di pasar tersebut membuat Leny lupa untuk menjaga waktu makannya. Selain itu beliau juga masih harus melakukan kewajiban sebagai dosen di kampus. Sehingga beliau terkena penyakit pencernaan cukup parah yang membuatnya harus mendekam selama 7 bulan di rumah, tidak bisa kemana-mana. Otomatis terhentilah semua aktivitas berjualan dan mengajar di kampus.

“Dalam masa pemulihan, saya diajak suami untuk bergabung ke sebuah komunitas pengusaha Tangan Di Atas (TDA). Suami mendorong saya untuk mulai berbisnis lagi dengan menjadi agen produk-produk member TDA tersebut dan menjualnya melalui toko online. Setelah berkenalan dengan beberapa member yang memiliki produk fashion yang dijual secara keagenan, akhirnya saya menjadi agen aksesoris wanita seperti kalung, gelang, dan bros. Juga agen baju anak dan baju dewasa. Kemudian saya juga bertemu dengan salah satu member TDA yang mengajak untuk sharing membuka toko di salah satu mall besar di Bandung,” tutur Leny menceritakan kisah awalnya aktif di TDA.

Kendala mulai dirasakan ketika pelanggan menginginkan barang yang stoknya habis, dan pada saat Leny memesan ke supplier barang tersebut sudah habis atau belum tersedia (masih dalam proses produksi). Pelanggan Leny sering kecewa karenanya dan biasanya tidak mau menunggu barang yang dalam proses produksi. Hal inilah yang mendorongnya untuk mulai memproduksi sendiri baju-baju untuk dijual. Muncullah Lentik yang diproduksi masih dalam jumlah sangat terbatas karena hanya dijual retail.

“Setelah beberapa saat menjual retail di toko online dan offline, saya dan suami melakukan evaluasi. Hasilnya adalah toko offline sangat tidak efektif, sehingga diputuskan untuk dihentikan. Kemudian dari pengamatan dan konsultasi dengan beberapa teman yang sudah lebih dulu berbisnis fashion, ternyata menjual dengan sistem keagenan bisa meningkatkan omset dan bisnis pun berkembang lebih cepat. Maka mulailah Rumah Lentik mengadopsi sistem keagenan hingga sekarang. Dan juga membangun beberapa brand lain yaitu Zirac dan Salfaz, disusul dengan Manomani.

Di tahun 2013, saat hijab syar’i makin digandrungi, Leny pun melakukan perubahan konsep untuk brand Salfaz. Salfaz kemudian di-rebranding sebagai produk busana muslimah berkonsep ‘hijab syar’i’ dari yang sebelumnya berkonsep ‘hijabers’ dengan nama Salfaz Syar’i.

Salfaz, kini jadi brand andalan di Rumah Lentik

Salfaz, kini jadi brand andalan di Rumah Lentik

Bahan yang digunakan untuk busana syar’i Salfaz mengutamakan kenyamanan dan kesyar’ian. Artinya bahan tersebut dingin, halus, lembut, dan tidak menerawang. Tentunya bahan yang seperti itu hanya ada pada bahan dengan kualitas bagus. Begitu juga dengan jahitannya, seperti bahannya, jahitan untuk busana syar’i Salfaz pun berkualitas. Desain busana syar’i Salfaz simpel tapi elegan. Tidak banyak aplikasi dan mengusung warna-warna cenderung gelap. Dengan kualitas bahan dan jahitan seperti itu, tentunya harga jual busana syar’i Salfaz pun setara dengan apa yang didapat oleh konsumennya. Range harga ada di kisaran Rp.300.000-Rp.600.000 untuk satu set gamis dan khimarnya. Tidak terlalu mahal sebetulnya untuk kualitas bahan dan jahitan yang ditawarkan.

Apa rahasia sukses Rumah Lentik hingga bisa bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat ini? Rahasianya adalah rutin melakukan evaluasi, berkonsultasi dengan yang lebih ahli, mengamati bisnis-bisnis fashion lain terutama yang menjadi benchmark, dan aktif di komunitas.

Meski telah meraih sukses, bukan berarti Leny tak pernah mengalami masalah, kerugian atau kegagalan. Rumah Lentik pernah mengalami gagal produk atau brand. Akibatnya Leny terpaksa menghentikan produksi untuk brand tersebut.

Lalu gagal produksi dengan jumlah yang sangat banyak karena kurang jeli memilih konveksi (makloon) dan tidak melakukan inspeksi pada saat konveksi tersebut memproduksi serta tidak membuat kontrak kerjasama yang jelas dengan bagian konveksi. Kejadian ini membuat Leny jadi lebih selektif dalam memilih konveksi, melakukan inspeksi pada saat konveksi mengerjakan jahitannya, dan membuat kontrak kerjasama tertulis dengan konveksi setiap kali menjahitkan barang.

Kemudian Leny juga pernah gagal karena segmen pasar terlalu luas. Kurang tepatnya segmen pasar, membuat harga yang ditawarkan tidak masuk ke pasar tersebut (terlalu mahal). Untuk mengatasinya, Leny memilih cara yang menurut banyak pihak cukup berat untuk dilakukan yaitu mengganti segmen pasar yang sesuai dengan harga yang ditawarkan, sehingga berbagai hal harus disesuaikan seperti desain dan kualitas bahan serta jahitan dan pemasaran.

“Saat ini prosesnya masih berlangsung, dimana para desainer Rumah Lentik berkonsultasi secara intens dengan mentor yang juga merupakan desainer dan owner salah satu brand terkenal untuk masalah desain, kualitas bahan dan jahitan serta pemasaran diserahkan ke pihak lain sehingga Rumah Lentik bisa fokus kepada produksi,” cerita Leny tentang jatuh bangunnya ia membesarkan Rumah Lentik.

Selain di website resmi www.rumahlentik.com, produk lain juga bisa diakses melalui akun Fanspage Facebook, Twitter dan Instagram: Lentik Fashion atau Salfaz Syar’i.

Foto-foto produk Rumah Lentik dan Salfaz

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dengan mengangkat tema sejarah dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita Islam.


2 thoughts on “Salfaz Syar’i Andalan Rumah Lentik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Share yuk untuk berbagi manfaat pada yang lain!

  • Follow by Email
  • Facebook
  • Twitter
  • Telegram