Sudut Pandang: Memahami Cinta Allah Sebagai Cinta

Kita pernah tersandung, menganggap nafsu sebagai cinta. Padahal nafsu mengajak pada keburukan sementara cinta mengajak pada kebaikan. Seorang lelaki yang cinta pada seorang perempuan akan mengajaknya pada kebaikan yaitu pernikahan. Namun lelaki yang diselimuti nafsu hanya akan mengajak pada kebersamaan tanpa pernikahan.

Seorang ayah atau ibu akan membuat aturan-aturan untuk anak-anaknya sebagai bentuk cinta. Orangtua yang membiarkan saja anak-anaknya tanpa aturan sejatinya tidak mencintai anaknya dengan cara yang benar. Begitupun seorang guru yang mencintai murid-muridnya, akan membuat aturan agar murid-muridnya berhasil dalam pendidikan.

Begitu contoh cinta pada manusia. Kita hanya butuh mengekspresikan cinta itu dengan cara yang benar, bukan dengan cara-cara yang mengikut nafsu, ego dan kekerdilan berpikir kita.

Allah pun menerapkan aturan-aturan sebagai bentuk cinta-Nya. Alquran penuh dengan aturan hidup manusia yang bertujuan menyelamatkan manusia. Namun seringkali kita salah paham, menganggap aturan sebagai beban yang berlebihan. Saya pun pernah ada di titik ini. Merasa aturan Allah memberatkan dan gak adil. Saya (dalam hati) pernah merasa bahwa syariat terlalu memihak laki-laki. Seorang istri sangat ditekankan tunduk dan patuh pada suami, lalu kajian ini sering diulang di mimbar-mimbar. Sementara jarang sekali dibahas bagaimana seorang suami harus menghargai istrinya, harus berbuat baik pada istrinya sebagaimana Rasulullah memuliakan istri-istri beliau. Apakah karena kebanyakan yang berceramah adalah kaum lelaki?

Itu contoh saja, bagaimana sudut pandang bisa menyesatkan kita. Ketika kita melihat sesuatu dengan kacamata buruk maka buruklah yang akan kita lihat. Padahal Allah telah membuat aturan yang demikian sempurna. Allah Maha Tahu yang terbaik bagi manusia.

Padahal pandangan saya  di atas akan terlihat baik ketika sudut pandangnya saya ubah. Semestinya saya melihat bagaimana beratnya tanggung jawab seorang lelaki atas istri dan anak-anaknya, tak hanya di dunia namun juga di akhirat kelak. Bagaimana seorang lelaki diwajibkan shalat lima waktu berjamaah, sampai di zaman Rasulullah lelaki yang tak shalat berjamaah ke masjid diancam akan dibakar rumahnya. Begitu beratnya hukum shalat berjamaah bagi seorang lelaki. Saking beratnya, saat ini hanya segelintir lelaki yang mampu bersegera menuju masjid saat adzan berkumandang. Padahal kelak mereka akan ditanya Allah atas keberatannya itu.

Seorang lelaki wajib berangkat berjihad jika ada panggilan jihad. Seorang lelaki tetap wajib menyantuni orangtuanya meskipun dia sudah menanggung kewajiban menafkahi istri dan anak-anak. Tak boleh lebih mementingkan istri daripada orangtuanya, sementara saat ini begitu banyak istri yang dengan egoisnya mengatur suami agar tak memberi perhatian dan materi pada orangtuanya. Seorang lelaki juga menanggung dosa istri dan anak-anaknya jika ia tak mendidik istri dan anak-anaknya sesuai dengan syariat agama. Sementara istri tak ada kewajiban mendidik suami, ia hanya dimintai tanggung jawab atas anak-anaknya.

Masih banyak beban lain yang dipikul seorang suami. Ehm, belum lagi yang berpoligami, ketika ia tak adil maka neraka sebagai tempat kembalinya. (Oya, untuk saudara Giring, Islam sudah mengatur dan menetapkan sanksi dalam perkara ini, jadi tak perlu koar-koar menolak dan mengharamkan poligami. Apalagi cuma demi meraih suara di pemilu, itu mengibakan sekali.  Allah lebih tahu syariat-Nya. Tak ada kewajiban poligami dalam Islam, itu pilihan. Silakan bagi yang mau dan mampu, yang gak mau dan gak mampu woles aja.)

Sedangkan perempuan untuk masuk surga gampang sekali, bahkan sekalipun ia tak keluar dari rumahnya, ia tetap bisa meraih surganya. Yang penting ia tetap menjaga maruahnya, menjaga shalatnya,  menjaga harta suaminya, mengasuh anak-anaknya, melayani dan bersikap baik pada suaminya,  berpuasa di bulan Ramadhan, membayar zakat dan kewajiban dasarnya sebagai seorang muslimah.

Perempuan tak diwajibkan mencari nafkah namun dibolehkan mencari nafkah. Enaknya lagi, nafkah hasil kerja istri menjadi hak dia sepenuhnya, tak wajib ia bagi dengan suaminya. Terlebih jika kondisi menuntutnya, misalnya karena faktor hilangnya tulang punggung keluarga, maka perempuan boleh bekerja di luar rumah jika memang kondisi menuntutnya, tentu dengan tetap menjaga harkatnya sebagai muslimah. Sebagaimana dulu Ummul Mukminin Khadijah yang menjadi pengusaha sukses meskipun ia seorng janda. Bahkan dalam Islam, janda dan anak-anak yatim wajib disantuni oleh negara demi menjaga maruah mereka dari meminta-minta.  Perempuan juga tak wajib ke masjid shalat berjamaah, ia cukup shalat khusyuk di kamarnya. Apalagi pergi berjihad ke medan tempur, tak perlu, kecuali sekadar membantu dari jarak jauh jika dibutuhkan.

Begitulah bedanya sudut pandang jika dilihat dari dua arah yang berbeda. Saya masih terus belajar melihat dari sudut pandang yang benar karena seringkali nafsu mengarahkan untuk melihat dari sudut yang subjektif. Lalu kita dengan dalil akal berusaha mencari pembenaran. Padahal kita semua, terutama para muslimah, selalu mendapatkan berbagai kemudahan dalam syariat ini, namun kita terkadang masih suka keliru melihat sudut pandangnya. Kita menganggap aturan Allah terlalu mengekang perempuan, terlalu membebani, gak sesuai lagi dengan zaman, dan berbagai penilaian buruk lainnya.

Kekeliruan ini menyebabkan kita sering berburuk sangka pada aturan Allah padahal kita mengakui bahwa Allah itu Maha Mengetahui. Artinya Allah tahu yang terbaik buat dunia dan akhirat kita, bukan terbaik buat nafsu kita. Namun kita sering lebih menginginkan yang sesuai dengan nafsu kita. Begitulah manusia. (Via)

Baca juga: Ego Menjahanamkan Diri

#SudutPandang
#PointOfView

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dengan mengangkat tema sejarah dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita Islam.


2 thoughts on “Sudut Pandang: Memahami Cinta Allah Sebagai Cinta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Share yuk untuk berbagi manfaat pada yang lain!

  • Follow by Email
  • Facebook
  • Twitter
  • Telegram