Uighur, Bertahan Meskipun Gugur

Di mana negeri bernama Uighur atau Uyghur ini? Namanya baru sering kita dengar sejak banyak hestek #SaveUyghur atau #SaveUighur di media sosial. Coba kita cari tahu, yuk!

Sekilas Sejarah Uighur

Uighur secara administratif mereka masuk dalam wilayah cangkupan Republik Rakyat China meskipun mereka mempunyai kultur yang berbeda. Suku Uighur sejatinya bukan orang China. Dari fisik, suku Uighur tidak identik dengan orang China kebanyakan. Orang-orang Uighur juga tidak begitu dekat dengan budaya China. Masalah agama juga demikian, suku Uighur mayoritas memeluk Islam berbeda dengan warga China Tiongkok kebanyakan.

Orang-orang Uighur kebanyakan menganut Islam Sunni dan secara budaya memiliki lebih banyak kesamaan dengan orang-orang yang sama di Asia Tengah daripada dengan China. Uighur bahkan disebut memiliki banyak kesamaan dengan Turki sebab dahulu banyak ulama-ulama Turki yang berdakwah ke Uighur dan membaur dengan masyarakat Uighur.

Uighur terletak di Turkistan Timur. Tahun 1949 China (dari Beijing) masuk ke sana. Turkistan Timur ini adalah tempat lahirnya Imam Bukhari, Ibnu Sina, Imam Alfarabi dan ulama-ulama besar lainnya. Dahulu di sana berbahasa Arab. Sekarang, jangankan bahasa Arab, bahasa Uighur pun dilarang. Bagaimana itu semua bisa terjadi?

Awalnya China masuk ke Uighur  melalui pintu kerjasama, membangun berbagai proyek ekonomi dan pembangunan kota, mereka mendatangkan pekerja-pekerja dari negara mereka sebagai salah satu syaratnya. China adalah negara yang sangat padat penduduknya, maka salah satu cara mengatasi kepadatan tersebut adalah melalui program pengiriman tenaga kerja ke berbagai negara. Tentu gaji tenaga kerja mereka tak bisa dibilang kecil dan itu jadi beban proyek negara. Termasuk Uighur.

Para pekerja yang didatangkan dari Beijing itu tak akan pernah dipulangkan lagi, semakin lama semakin banyak. Yang perlu diingat, setengah dari rakyat China adalah militer karena mereka wajib militer. Bayangkan jika tenaga kerja yang mereka kirim itu adalah militer. Itu berbahaya sekali bagi keselamatan negara yang menampung. Tahun 1949 mereka semakin menancapkan kukunya, semakin menguasai ekonomi dan masuk dalam pemerintahan dengan cara yang licik dan memaksa. Mulailah agama Islam sebagai agama rakyat Uighur ditekan, adzan dilarang, belajar agama Islam dilarang. Bahkan ulama-ulama Uighur mengatakan bahwa Ramadhan sudah tidak melewati Uighur lagi. Mereka dipaksa membatalkan puasanya. Minuman dan makanan haram dijual bebas.

Yang paling fenomenal, Uighur kemudian diubah namanya menjadi Xinjiang yang berarti daerah perbatasan, itulah Uighur yang kita kenal sekarang. Islam menjadi asing di negerinya sendiri. Islam ditekan, berbagai aturan syariat dilarang, ditangkap bagi yang melanggar. Tak hanya kaum lelaki, perempuan dan anak-anak pun jadi korban kebiadaban mereka.

Setidaknya ada 3 langkah yang dilakukan China untuk menaklukkan Uighur:

  1. Mendekati tokoh-tokoh dan petinggi Uighur, dipengaruhi untuk menerima kerjasama dengan mereka.
  2. Mendekati kubu-kubu yang berkonflik di Uighur, mereka memihak ke kubu yang kuat dan membuat konflik kian meruncing.
  3. Mamasuki birokrasi negara Uigur hingga bisa mengatur negara tersebut sesuai keinginan mereka.

Hal ini pernah ditulis oleh seorang mahasiswa Al Azhar yang berasal dari Uighur yang sekolah ke Timur Tengah. Ia mengatakan bahwa mahasiswa Uighur dilarang sekolah ke negara-negara Arab atau Islam. Jika ada yang berangkat maka ia tak bisa lagi kembali ke Uighur melainkan akan ditangkap. Lebih lanjut ia menceritakan bahwa membaca dan mempelajari Alquran adalah hal terlarang di negerinya. Jika ingin membaca dan belajar Alquran maka mereka harus melakukannya tengah malam dan menyembunyikan kitab suci tersebut di bawah lantai atau di balik dinding. Ia sendiri bisa sekolah ke Timur Tengah dengan alasan wisata ke Eropa, dari Eropa barulah mereka pergi ke negara-negara Muslim.

Uighur Korban Penjajahan China

Uighur adalah salah satu contoh negara yang ditarget oleh China untuk ditaklukkan di samping berbagai negara lain di Asia. Sejarah Uighur ini semestinya jadi pelajaran bagi negara lain bagaimana halusnya cara China masuk menaklukkan sebuah negara. China dengan pemerintahan komunisnya terkenal bengis dan sangat memaksakan keinginan mereka untuk menjauhkan agama dari kehidupan, terutama Islam. Awalnya mereka begitu berbaik hati menawarkan bantuan, namun setelah itu mereka akan mencengkeramkan kukunya karena sebenarnya tak ada bantuan yang gratis.

Jika kita perhatikan hadits Rasulullah, maka semuanya semakin terlihat kebenarannya. Salah satu hadits menyebutkan bahwa di akhir zaman akan ada perang antara kaum Muslim dengan bangsa bermata sipit, berhidung pesek, muka mereka bulat kemerahan.

Di akhir zaman nanti akan datang suatu kaum yang bernama Qanthura, wajah mereka lebar dan matanya sipit, hingga kaum itu sampai ke daerah tepian sungai lalu para penduduknya pecah menjadi tiga kelompok; satu kelompok pergi mengikuti ekor sapi dan binatang ternak (pergi ke tempat yang jauh dengan membawa binatang ternak mereka untuk bercocok tanam) hingga mereka hancur. Satu kelompok mengambil untuk keamanan mereka (mengajukan atau menerima jaminan keamanan dari bani Qanthura) hingga akhirnya menjadi kafir. Dan satu kelompok melindungi anak dan istri mereka dan berperang melawan musuh (Bani Qanthura) hingga mereka mati sebagai syuhada.” (HR. Abu Dawud)

Fakta Terkini Uighur

Pada Agustus 2018, sebuah komite PBB mendapat laporan bahwa hingga satu juta warga Uighur dan kelompok Muslim lainnya ditahan di camp-camp penahanan di wilayah Xinjiang Barat, dan di sana mereka menjalani apa yang disebut program ‘reedukasi, atau ‘pendidikan ulang’. Menurut Human Rights Watch, suku Uighur khususnya, dipantau secara sangat ketat. Dilaporkan hingga satu juta orang telah ditahan di camp tersebut. Yang menyedihkan lagi, mereka kini disebut sebagai separatis, bagian dari kelompok teroris. Begitulah fakta diputarbalikkan oleh penguasa China di sana.

Kelompok-kelompok HAM mengatakan orang-orang di camp-camp itu dipaksa belajar bahasa Mandarin dan diarahkan untuk mengecam, bahkan meninggalkan keyakinan iman mereka. Mereka dipaksa menjalani asimilasi tak hanya dalam hal budaya, bahasa, namun juga agama.

Sejumlah mantan tahanan mengatakan kepada BBC.com tentang penyiksaan fisik maupun psikologis yang mereka alami di camp-camp penahanan. Seluruh keluarga mereka lenyap, dan mereka mengatakan bahwa para tahanan disiksa secara fisik dan mental. BBC.com mengaku juga melihat bukti dari berlangsungnya pengawasan nyaris total terhadap warga Muslim Uighur di Xinjiang.

Pertanyaannya, kemana HAM dunia saat Muslim diperlakukan biadab? (V)

 

Baca juga bagaimana hilangnya Islam di Kyrgyzstan-Uzbekistan-Tajikistan- Kazakhstan di sini: Agar Cahaya Islam Tak Padam

 

 

*Novia Syahidah*



Penulis yang identik dengan karya bermuatan lokal dengan mengangkat tema sejarah dan budaya, aktif menulis di berbagai media massa cetak seperti koran dan majalah sejak tahun 2002. Telah menulis 9 buku pribadi dan 20 lebih buku kolaborasi. Terakhir menulis cerita bersambung di sebuah majalah wanita Islam.


2 thoughts on “Uighur, Bertahan Meskipun Gugur

  1. Asep Sukandar

    Ya Allah, lindungilah dan selamatkanlah Negara dan Bangsa kami (Indonesia) dari segala bentuk yang mengarah kepada penindasan dan penjajahan yang dilakukan oleh Negara dan Bangsa yang berfaham Komunis dan sadarkanlah para pemimpin bangsa kami akan hal tersebut. Aamiin Ya Allah Ya Rabbal’aalamiin….

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Share yuk untuk berbagi manfaat pada yang lain!

  • Follow by Email
  • Facebook
  • Twitter
  • Telegram